Bekerja Di Farmasi

Farmasi belakangan tahun ini pertumbuhan kapitalisasinya cukup tinggi terutama di bidang Industri. Untuk di bidang retail apotek setahu saya turun. Salah satu personil kunci di bidang Farmasi adalah Apoteker atau orang awam menyebutnya ahli obat. Saya sebagai Apoteker sedikit banyak tahu mengenai profesi apoteker ini. Profesi ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat, tahunya profesi apoteker ini penjaga apotek/penjaga obat, akan tetapi sebenarnya bidang kerja dari Apoteker ini cukup banyak. Antara lain dapat bekerja sebagai :

Saya banyak bekerja di Industri farmasi sehingga saya lebih tahu detail dibandingkan dengan apotek atau Rumah sakit.

image
Apoteker Industri yang bekerja di RnD

Untuk menjadi Apoteker seseorang harus menjalani pendidikan Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi selama kurang lebih 4 tahun dan 1 tahun pendidikan Profesi Apoteker. Lulusan sarjana farmasi bisa saja tidak mengambil pendidikan Apoteker, akan tetapi tanpa gelar tersebut tidak dapat berpraktek sebagai apoteker.Sesuai dengan PP 51 tahun 2009 dimana untuk di industri penanggung jawab QA, QC dan Produksi harus Apoteker. Sehingga dia tidak bisa bekerja sebagai apoteker di Apotek/RS/Pabrik Obat. Dia kalau hanya S1 Farmasi hanya bisa menjadi tenaga kesehatan. Tentu ini berefek terhadap benefit gajinya. Seseorang Apoteker gajinya relatif tinggi dibadingkan hanya S1 Farmasi karena tanggung jawab dan pekerjaannya lebih berat.

Untuk kuliah dan menempuh pendidikan S1 Farmasi dan Apoteker banyak Fakultas Farmasi bagus terakreditasi A seperti Fakultas Farmasi UGM, ITB atau Unair. Kapan-kapan saya akan bahas mengenai fakultas farmasi terbaik.

BTW: saya tidak ingin anak saya menjadi Apoteker hehe sama seperti sebagian apoteker lain

 

Semoga Bermanfaat

Salam

M. Fithrul Mubarok

 

M. Fithrul Mubarok

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: farmasiindustridotcom@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

3 Comments


  1. *BTW: saya tidak ingin anak saya menjadi Apoteker hehe sama seperti sebagian besar apoteker lain

    menggarisbawahi statement tersebut, pertanyaannya mengapa?? apakah dengan pola pikir yang dipunyai para orang tua ini berimbas katanya “Apoteker itu salah satu profesi yang akan hilang 10 tahun lagi”.. itu desas desus yang sering saya dengar.

    Sebenarnya kalau boleh berpendapat, ini usulan saja (mudah-mudahan para pemegang kebijakan dapat mengkaji lebih dalam) kita kembalikan saja Apoteker sesuai asal namanya dan kebutuhan kompetensinya.
    Misal :
    * Apakah kompetensi seorang penanggung jawab di Industri farmasi harus apoteker? Sarjana Farmasi tidak kompeten?? –> saya pikir salah, sarjana farmasi sangat punya kompetensi karena dari semester 1-6 kuliah sebagian besar ilmu dasarnya berguna di Industri. Beberapa kolega yang notabene Sarjana Farmasi dan bekerja di industri sangat merasakan dampaknya karena mereka kompeten tapi terganjal gelarnya sehingga karirnya mandeg…
    * Apakah kompetensi seorang penanggungjawab di PBF harus apoteker? Yang saya dengar dari beberapa rekan di PBF, ilmu keApotekerannya tidak aplikatif, lebih ke manajemen dan bisnis
    * Apakah Apotek dan rumah sakit perlu Apoteker ?? –> menurut saya SANGAT PERLU, namanya juga Apoteker, APOTEK (tempat pelayanan penyedia obat ke pasien/PIO)+er (merujuk ke personel)

    Jadi menurut saya, profesi apoteker itu pilihan, panggilan jiwa…jika kita mau masuk ke pelayanan lanjutkan ke apoteker, kalau jiwanya di Industri atau yang lain, Sarjana Farmasi pun cukuplah..ibaratnya Apoteker itu Spesialis selayaknya Dokter Spesialis.

    Kurikulum pendidikan apotekerpun seharusnya dirombak jika Apoteker sudah menjadi Spesial, misal isinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan dan manajemen bisnis, perkuat ilmu disana jadi lebih mumpuni dan berdaya saing dari segi ilmu kesehatan dan ilmu bisnis.

    Atau bikin spesialis lagi untuk yang mau ke jalur Industri, perkuat ilmu disana jadi lebih mumpuni dan berdaya saing dari segi teknologi dan ilmu bisnis

    So, kompetensinya jelas yaaaa… hehehe udah aah…

    BTW : sekarang saya termasuk salah satu yang idem BTW nya pak Fithrul, tapi mungkin kita bisa membuat perubahan sehingga kelak saya akan dengan sangat bangga menganjurkan anak saya masuklah Fakultas Farmasi hehehe

    Reply

    1. Terima kasih masukan nya Bu Aini atas komentar nya. Untuk sarjana dan apoteker dihubungkan dgn kompetensi saya tidak bisa berkomentar banyak karena peraturan pemerintah nomer 51 tahun 2009 sudah diatur. Untuk spesialis2 saya tidak mengerti, untuk mengubah sehingga bangga itu yang saya lakukan dengan menulis blog khusus farmasi industri. Sebenarnya PR paling byk di klinis komunitas, tapi saya tidak berbuat banyak karena jauh dr keahlian saya, yg saya lakukan berjuang lewat farmasi industri, walaupun sedikit yaitu menulis blog ini. Terima kasih

      Reply

tinggalkan komentar .........