Bayer AG: Dari Limbah tak Berharga Menjadi “Raksasa” Kimia dan Farmasi Dunia (Bagian Pertama)

Berikut artikel dari Bambang Priyambodo tentang sejarah farmasi dunia.

16299476_10208331898040247_4161826822187156101_n

Meskipun bukan yang pertama, namun Bayer AG dianggap sebagai “pembuka” era baru dalam tonggak sejarah industri farmasi di dunia. Perusahaan inilah yang untuk PERTAMA kali, membuat obat yang DISINTESA dari bahan kimia murni bukan dari bahan alam, sehingga “kelahirannya” dianggap sebagai “milestone” dalam sejarah perkembangan industri farmasi dunia. Namun siapa sangka, sintesis obat secara kimia PERTAMA yang dihasilkan oleh perusahaan yang berkantor pusat di Leverkusen, Jerman ini ternyata hasil “kejeniusan” seorang ahli kimia memanfaatkan limbah yang semula tidak ada harganya sama sekali.

Bayer AG, didirikan pertama kali pada tahun 1863 oleh Friedrich Bayer, seorang ahli dalam bidang pewarna (dye) bersama rekannya, Friedrich Weskott di Barmen, Jerman. Bayer muda dibesarkan oleh keluarga yang secara turun-temurun berkecimpung dalam bisnis kain dan pewarna. Kakeknya memiliki pabrik memintalan kain di Elberfeld, Jerman; sedangkan ayahnya memiliki pemintalan benang sutera. Bayer muda belajar kimia dan sangat menguasai bahan2 pewarna yang sangat dekat hubungannya dengan bidang bisnis kakek dan ayahnya. Sementara Friedrich Weskott berasal dari keluarga petani dan memiliki sebuah pabrik pewarnaan benang. Tepat pada tanggal 1 Agustus 1863, kantor “Friedr. Bayer et Comp.” sebagai cikal bakal Bayer AG resmi dibuka di Rittershause, Barmen dengan hanya memiliki 1 orang pegawai – Daniel Preiss – yang kemudian bekerja selama 40 tahun dan ikut menjadi saksi sejarah bagaimana Bayer AG tumbuh dan berkembang, yang bahkan sang pendirinya sendiri tidak sempat melihat transformasi perusahaan ini.

Pelan namun pasti, Friedr. Bayer et Comp., tumbuh dan berkembang. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah Fuchsine pewarna textile yang tahan terhadap asam. Hingga tahun 1877 perusahaan ini sudah membukukan asset sebesar 5,4 juta mark, memiliki 4 pabrik yang memproduksi berbagai macam pewarna tekstile antara lain fuchsine, aniline, alizarin dan Azo. Mereka juga membuka pabrik di Lille, Perancis dan di Moskow, Rusia. Hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun, Friedr. Bayer et Comp. sudah memiliki lebih dari 200 pekerja dan memproduksi lebih dari 100 jenis pewarna serta menjadi perusahaan pewarna terkemuka di Jerman..

Di tengah perkembangan perusahaan yg sedemikian pesat, pada tahun 1880, sang pendiri – Friedrich Bayer – meninggal dunia pada usia 54 tahun, berselang 4 tahun dari partnernya, Friedrich Weskott yang meninggal dunia dalam usia 55 tahun. Sebelumnya, tongkat kendali perusahaan diserahkan kepada sebuah dewan yang terdiri dari Julie (istri Friedrich Bayer Sr.), Friedrich Bayer Jr. (anak Friedrich Bayer Sr.), Carl Rumff (anak menantu), Friedrich Weskott jr. (anak Friedrich weskott sr.), August Siller (menantu Friedrich Weskott sr.) dan Eduart Tust sebagai satu2nya yang bukan anggota keluarga pendiri. Nama perusahaan pun diubah menjadi “Farbenfabriken Vorm. Friedr. Bayer & Co.” dan menjual sebagaian saham di Pasar Saham Dusseldorf. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham pertama Carl Rumff, August Siller dan Eduard Tust terpilih sebagai Dewan Komisaris, sedangkan Friedrich Bayer Jr. dan Friedrich Weskott jr. terpilih sebagai Direktur perusahaan.

“Arah angin” perusahaan ini mulai berubah haluan tatkala pada tahun 1883, Carl Rumff merekrut seorang anak muda berusia 23 tahun yang sangat terobsesi dengan kimia, Carl Duisberg, sebagai tenaga ahli kimia dan mengepalai divisi riset perusahaan ini. Pada musim panas tahun 1886, Carl Duisberg melihat tumpukan ratusan drum berisi para-nitrophenol yang teronggok begitu saja di halaman belakang pabrik yang memproduksi Benzoazurine. Tidak kurang dari 30.000 kg para-nitrophenol ini merupakan limbah hasil samping dari proses produksi Benzoazurine. Berkat “kejelian” dan “kejeniusan” Carl Duisberg, limbah tak berharga ini kemudian diolah menjadi p-acetophenetidine yang mirip dengan acetanilide yang saat itu digunakan sebagai obat turun panas (antipyretic). Oleh Carl Duisberg, p-acetophenetidine ini diberi nama Phenacetin. Dari hasil uji pharmakologi ternyata Phenacetin memiliki khasiat antipyretic yang jauh lebih kuat dan jauh lebih stabil serta efek samping yang jauh lebih rendah dibanding Acetanilide. Dan tiba – tiba saja, perusahaan yang sebelumnya berkecimpung dalam produksi pewarna tekstil, berubah haluan menjadi pabrik obat dengan produk andalan Phenacetin yang diperoleh dari limbah pabrik yang semula tidak ada harganya sama sekali… Dan penemuan Phenacetin ini memperoleh moment yang pas, karena pada saat itu terjadi epidemi flu di Eropa dan Amerika Serikat menjadikan produk ini amat laris di pasaran. Kejeniusan Carl Duisberg akhirnya membawanya ke puncak pimpinan perusahaan. Dia menjadi CEO Bayer & Co. pada tahun 1900. Di tangannya berbagai obat2an berhasil disintesis dan banyak di antaranya yang kemudian menjadi “legendaris”, antara lain yang kemudian dinobatkan menjadi “Obat Sepanjang Masa”, Aspirin.

(bersambung)

Bagian kedua ada di sini

Sumber

Artikel dari Bambang Priyambodo lainnya bisa dilihat disini.

 

M. Fithrul Mubarok

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: fithrul.mubarok23@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

Latest posts by M. Fithrul Mubarok (see all)

tinggalkan komentar .........