KEMANDIRIAN INDUSTRI BAHAN BAKU OBAT, MULAI DARI MANA?

tamiflu
Tamiflu

(Intermezo)

Bicara soal industri bahan baku obat, ada sebuah kisah yang sangat menarik untuk kita renungkan dan menjadi bahan kajian kita bersama.

Sekitar tahun 2005 yang lalu, dunia dihebohkan dengan merebaknya penyakit FLU BURUNG. Seluruh dunia dilanda kepanikan luar biasa karena terjadi kekhawatiran wabah flu burung yang mula terjadi di Asia Timur, yang semula hanya menular dari hewan ke manusia, berubah menjadi pandemi yang bisa menular antar manusia. Tentu, kekhawatiran ini sangat beralasan, karena hal yang sama pernah terjadi pada tahun 1920-an. Jutaan orang meninggal di seluruh dunia disebabkan wabah flu, yaitu Spanish flu (Flu Spanyol). Akibat dari kepanikan tersebut, satu-satunya obat flu burung yang ada saat itu, yaitu OSELTAMIVIR yang dijual dengan merk dagang TAMIFLU (buatan Roche) menjadi sangat kewalahan melayani permintaan. Obat ini pun dijual dengan harga yang sangat mahal. Tidak kurang dari Rp. 200 ribu per-dosisnya. Pihak ROCHE berkilah bahwa proses pembuatan obat ini sangat rumit, melibatkan tidak kurang dari 14 tahapan proses. Selain itu, proses ini juga sangat berbahaya karena dalam beberapa tahap melibatkan zat Sodium Azide yang sangat berbahaya (lihat gambar).

natrium azide.jpg
Reaksi pembentukan Oseltamivir

Bagi negara-negara kaya, tentu saja hal ini bukan masalah besar. Namun bagi negara-negara miskin, tentu sangat memberatkan. Pada saat duitnya ada, barangnya sudah habis, diborong oleh negara-negara kaya tadi. Kalo kita lihat, dari 189 kasus kematian karena flu burung, sebagian besar adalah penduduk negara miskin. Termasuk Indonesia dengan korban terbesar yaitu sebanyak 79 orang meninggal dunia.

Tentu saja, ROCHE sebagai produsen Tamiflu, sebagai satu-satunya obat anti flu burung menuai untung besar. Namun tiba-tiba di tengah merebaknya kasus ini, sebuah kabar datang dari negeri Hindustan, India. Sebuah perusahaan lokal yang bernama CIPLA berhasil membuat OSELTAMIVIR dengan cara yang lebih sederhana, tidak berbahaya dan tentu saja HARGANYA JAUH LEBIH MURAH. Kalau TAMIFLU dijual seharga Rp. 200 ribu per-dosis, maka Oseltamivir buatan Cipla ini hanya sekitar Rp. 100,- (baca SERATUS RUPIAH) saja perdosis-nya. Dr. Yusuf Hamied, seorang ahli kimia dan sekaligus pemilik perusahaan ini adalah orang dibalik kesuksesan perusahaan ini membuat Oseltamivir versi murah meriah ini. Penemuan ini pun tidak lepas dari dukungan para ahli kimia sintesa dari Mumbay University, India yang bekerja keras untuk menemukan sintesa Oseltamivir dengan cara lebih sederhana, lebih efisien dan jauuh lebih murah.Jika pada proses yang dilakukan Roche hanya menghasilkan 12-15% Oseltamivir murni, maka proses yang dilakukan di Cipla bisa menghasilkan rendemen hingga 40 – 50%. Luarrr biasaa….

Tentu saja ROCHE sebagai pemegang paten dari Oseltamivir tidak terima ada perusahaan lain memproduksi obat yang masih dalam masa paten ini. Pihak ROCHE kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan di India. Tapi apa putusan pengadilan India, bahwa sesuai dengan Patent Act, maka produk-produk farmasi bukan-lah produk yang dilindungi paten-nya. Akhirnya, kandaslah upaya Roche untuk membawa Cipla pada tuntutan milyaran dollar Amerika sebagai konsesi produk ini. Pihak Cipla pun berkilah bahwa proses produksi yang dilakukannya juga BERBEDA dengan proses yang lakukan oleh ROCHE, sehingga dakwaan tersebut tidaklah berdasar. Pemerintah India pun berdiri di belakang perusahaannya, mengingat pada saat itu obat ini juga benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat India dan negara-negara berkembang lainnya, termasuk INDONESIA. Jadi, Oseltamivir yang beredar di Indonesia, bukanlah buatan Roche yang amat sangat mahal itu, tapi buatan India yang murah meriah….

Dari kisah ini dapat kita petik pelajaran penting. Kita masih bisa “bersaing” dalam hal produksi bahan baku obat, asal kita cerdik menghadapinya. Kalau orang India saja bisa, mengapa kita tidak?

– BP,-

 

Tulisan oleh Bambang Priyambodo

M. Fithrul Mubarok

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: fithrul.mubarok23@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

Latest posts by M. Fithrul Mubarok (see all)

tinggalkan komentar .........