Mengikuti Seminar PIC/S GMP Guide – Seri Keempat 6 Oktober 2016 (bagian 1)

Pada hari kamis 6 Oktober 2016 saya berkesempatan mengikuti seri keempat rangkaian PIC/S Guide yang diselenggarakan oleh GP farmasi dan CM plus.  Untuk mengetahui seri perdana dapat membaca post saya:

Mengikuti Seminar PIC/S GMP Guide – Seri Perdana 21 April 2016

dan seri kedua:

Mengikuti Seminar PIC/S GMP Guide – Seri Kedua 23 Juni 2016

dan seri ketiga

Mengikuti Seminar PIC/S GMP Guide – Seri Ketiga 11 Agustus 2016

sesi ini berjudul:

Sessi 3 :        PIC/s – GMP Guide Part 1   

  • Chapter 7 – Contract Manufacture & Analysis
  • Chapter 8 – Complaints & Product Recall
  • Chapter 9 – Self Inspection
  •  Basic of Site Master File
farmasiindustri-comimg_20161007_162907
Buku PICS

Pada seri keempat ini dijelaskan mengenai Contract Manufacture&Analysis, Complaint&Product Recall, Self Inspection dan Basic of Site Master File. Dijelaskan mengenai Conract Manufactruing yaitu aktivitas kontrak berupa toll out atau toll in produk farmasi di industri farmasi, sebenarnya aktivitas contract manufacturing tidak hanya terbatas pada produksi tapi juga bisa analisis (Contract Analysis). Aktivitas toll out/toll in dapat berupa muali dari bahan baku sampai produk jadi atau bisa sebagian misal produk antara dari Contract Giver (CG) kemudian produk jadi diolah di C0ntract Acceptor (CA). Bahan baku dan bahan kemas dari siapa? tergantung kesepakatan antara CG dan CA.

Bagian ini hampir sama seperti  pada CPOB 2012:

Bab 11 : Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak

Bab 9 : Penanganan Keluhan Terhadap Produk dan Penarikan Kembali

Bab 8 : Inspeksi Diri, Audit mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok

Akan kita bahas satu persatu mulai dari:

1.  Chapter 7 – Contract Manufacture & Analysis

farmasiindustri-compics1
Prinsip Pembuatan berdasarkan Kontrak menurut PICS

Hali ini senada dengan buku CPOB 2012 halaman 111 :

Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui dan dikendalikan untuk menghindarkan kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara Pemberi Kontrak dan Penerima Kontrak harus dibuat secara jelas yang menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).

 Bila pada PICS berasal dari adopsi GMP Eropa walaupun begitu terdapat beberapa perbedaan, misalnya pada PICS outsorcing hanya terbatas pada Contract Manufacture (CM) dan Contract Analysis (CA) akan tetapi regulasi EU PHARMACEUTICAL juga mengatur tentang outsorcing lain seperti pest control. Dalam CM dan CA terdapat Contract Giver (pemberi kontrak) dan Contract Acceptor (penerima kontrak), masing-masing mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri.

Contract Giver (CG)

  • Mempunyai Contract Acceptor (CA) yang kompeten dan mampu untuk melakukan pekerjaan kontrak Manufacturing atau Analysis. CG harus tahu kemampuan dan rekam jejak dari CA
  • Merupakan pemegang Marketing Autorization termasuk Nomer Izin Edar (NIE)
  • menyediakan CA segala informasi (dan knowledge) yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan kontrak dengan benar sesuai dengan Marketing Authorization dan persyaratan legal lainnya. CA harus mempunyai sertifikat CPOB yang masih berlaku dan sesuai dengan sediaan yang diingkan oleh CG.
  • memastikan bahwa CA sangat perhatian dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan produk/pekerjaan yang berhubungan dengan bangunan, perlatan, personel dan material lainnya/produk
  • memastikan bahwa produk yang diproses dan material yang dikirim ke CG oleh CA sesuai dengan spesifikasi atau produk telah dirilis oleh orang yang berwenang

Sedangkan tanggung jawab Contract Acceptor (CA)

  • mempunyai saranan dan prasarana serta peralatan yang memenuhi syarat. Mempunyai knowledge, personil dan pengalaman untuk melakukan pekerjaan yang memenuhi syarat yang diberikan oleh CG
  • Contract Manufacture
  • memastikan bahwa semua produk dan material yang dikirimkan ke CA sesuai dengan tujuan penggunaan
  • Tidak boleh menyerahkan pekerjaan ke pihak ketiga yang telah dipercayakan ke dia sesuai yang tercantum di kontrak tanpa persetujuan CG
  • Menahan diri dari aktivitas yang dapat mengganggu kualitas produk yang diproduksi atau pekerjaan analisis

Pada kontrak toll out / kontrak manufaktur farmasi harus mengandung hal-hal berikut:

  • setiap masing-masing (CA dan CG) pihak tanggung jawabnya telah jelas, mana yang jadi tanggung jawab CA mana yang tanggung jawab CG
  • aspek-aspek teknik dipegang oleh oleh orang yang kompeten
  • memastikan mekanisme rilis batch oleh orang yang berwenang
  • memastikan material yang yang dibeli, diuji dan dirilis oleh orang yang berwenang termasuk proses IPC dan QC. Di perjanjian harus dijelaskan material apa yang disuplai oleh CA mana yang disuplai oleh CG, diantara bahan kemas, bahan baku dan bahan aktif (semua?sebagian?)
  • memastikan bagaimana sampling dilakukan dan analisisnya termasuk standar baku dan sampel pertinggal
  • Mekanisme recall  (penarikan kembali) dijabarkan secara jelas
perjanjian kersama farmasi toll out.jpeg
Contoh perjanjian kerjasama farmasi toll out

Pad Kontak Manufactruing terdapat isue-isur yang perlu diperjelas antara CG dengan CA, diantaranya:

  • Siapakah yang akan mengambil sampel? pihak CA tau CG?
  • Dimana sampel akan diambil?proses?packaging?Finished Good?
  • Siapa yang akan menyimpan retain sampel (contoh pertinggal)?
  • Dimana dan dengan kondisi apa retain sample akan disimpan?

Dengan banyaknya isu, meminta bantuan kepada konsultan dapat dijadikan opsi.

Kesimpulan mengenai Contract Manufactring Aktivitas Toll In dan Toll Out di Industri farmasi sebagai berikut:

farmasiindustri.comPICS seri 4.jpg

Masing-masing CA dan CG mempunyai tanggung jawab masing-masing, dimana keduanya juga mempunyai tanggung jawab yang sama yaitu kepatuhan terhadap CPOB. Tanggung jawab dan pembagiannya dapat dituangkan dalam kontrak perjanjian kerjasama toll out/toll in. Dalam perjanjian harus jelas dan tertulis, dijelaskan semua di awal dan masing-masing pihak mengerti hak dan kewajibannya.

Dalam Sesi ini terdapat beberapa pertanyaan:

  1. Q: Saya dari industri farmasi yang sudah mendapatkan pre kualifikasi WHO.Apakah perlu melakukan prekualifikasi WHO dengan industri farmasi toll manufacturing?Apakah ada guideline spesifik?
    A: tidak ada guideline spesifik mengenai ini, tidak ada persyaratan khusus. Yang pasti penerima toll harus ber CPOB sesuai dengan sediaannya. Dapat dilakukan Manajemen Risiko Mutu untuk menilai secara ilmiah keperluan prekualifikasi dengan kebutuhan perusahaan.
  2. Q: Pada EU GMP Aktivitas kalibrasi termasuk dalam out activity, bagaimana mengaturnya?
    A : Kriteria penerimaan harus secara jelas dijabarkan spesifik setiap alat, misalnya timbangan akurasinya berapa, kriteria penerimaan seperti apa? Harus dijelaskan secara spesifik dan rinci oleh CG. Dapt juga berkonsulatasi dengan pihak CA (dalam hal ini pihak kalibrator) karena mereka yang lebih menguasai kelibrasi dibandingkan dengan industri farmasi (CG).

 

Untuk artikel mengenai Complaint&Product Recall, Self Inspection dan Basic of Site Master File akan saya posting di artikel selanjutnya.

Materi seminar dapat di download disini.

Semoga bermanfaat

Salam

M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt

M. Fithrul Mubarok

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: fithrul.mubarok23@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

Latest posts by M. Fithrul Mubarok (see all)

tinggalkan komentar .........