POTRET INDUSTRI FARMASI DI MALAYSIA

Berikut artikel dari Bambang Priyambodo mengenai industri farmasi Malaysia, selamat membaca :

Sesekali ada baiknya kita coba menengok bagaimana “wajah” industri farmasi yang ada di negara2 lain, sebagai bahan kajian agar kita bisa belajar dan memetik hikmahnya untuk kemajuan industri farmasi di negara kita.

Negara pertama yang akan kita “sambangi” tidak jauh-jauh, hanya “selemparan batu” sahaja, yaitu tetangga serumpun kita – Malaysia. Ada banyak cerita menarik dari negeri jiran ini yang bisa kita jadikan pelajaran penting bagi industri farmasi di Indonesia.

PASAR FARMASI DIKUASAI ASING
Malaysia merupakan salah satu negara PERTAMA yang menjadi anggota sebuah organisasi dari otoritas pengawasan obat di seluruh dunia, Pharmaceutical Inspection Cooperation Scheme (PIC/S). Otoritas pengawasan obat negeri ini yaitu National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA), menjadi anggota PIC/S sejak January 2002. Merupakan negara anggota ASEAN kedua yang menjadi anggota PIC/S setelah otoritas pengawasan obat Singapore, yaitu HSA (Health Science Authority).

Sebagai dampak dari keanggotaan tersebut, banyak sekali industri farmasi lokal negeri ini yang bertumbangan. Tidak kurang dari SEPAROH atau 50% industri farmasi lokalnya gulung tikar atau beralih menjadi industri obat tradisional. Saat ini tercatat “hanya” ada 74 industri farmasi di Malaysia, di mana sekitar 40 merupakan perusahaan lokal, sisanya adalah industri farmasi MNC alias kepunyaan asing alias PMA. Dari 40-an industri farmasi lokal tsb, hanya ada sekitar 10-an industri farmasi yang cukup besar. Kebanyakan adalah industri farmasi milik negara alias Bumiputera atau PMDN.

(Update terbaru: industri farmasi modern di Malaysia hanya tinggal 67 perusahaan)

Pasar farmasi di Malaysia, tercatat sekitar US $ 3,6 B atau sekitar Rp. 40 Trilyun (separoh dari pasar farmasi di Indonesia). Dari jumlah ini 80% merupakan obat2an yang diperoleh dari negara lain alias import. Dan hanya 20% dipasok dari lokal manufacture. Dari 20% ini, 13%-nya diproduksi oleh industri farmasi asing (PMA) dan “HANYA” 7% (tujuh persen) yang diproduksi oleh industri farmasi lokal (Bumiputera), antara lain Pharmaniaga, Hovid, CCM Duopharma dan Kotra Pharma… Miris sekali bukan??

Industri farmasi asing yang mempunyai pabrik di Malaysia antara lain adalah Sterling (GSK), Y.S.P. Industries (Taiwan), dan Novo Nordisk. Beberapa Industri farmasi dari India juga membuka pabriknya di negeri ini, antara lain Dr. Reddy’s Labs, Cipla dan SM Pharmaceutical. Industri farmasi raksasa lain dari India, Ranbaxy juga berencana membuka pabriknya di daerah Kulim Hi Tech Park di Kedah, dekat dengan Pulau Penang yang menjadi pusat “Medical Tourism” di Malaysia.

Malaysia merupakan salah satu negara yang menjadi “pioneer” penerapan sertifikasi “HALAL” untuk produk2 farmasi. Industri farmasi lokal PERTAMA yang memperoleh sertifikat Halal adalah CCM Duopharma Biotech Berhad yang memperoleh sertifikat halal pada tahun 2013 untuk semua produk yang dihasilkannya, termasuk produk vaksin dan injeksi. Issue sertifikasi produk halal terhadap produk2 farmasi, saat ini juga menjadi salah satu issue hangat di negeri jiran ini…

M. Fithrul Mubarok

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: farmasiindustridotcom@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

tinggalkan komentar .........

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.