Daftar Isi
- Pendahuluan: Pentingnya Validasi Pembersihan di Industri Farmasi
- Apa Itu Kegagalan Validasi Pembersihan?
- Mengapa Kegagalan Validasi Pembersihan Sangat Penting?
- Harapan dan Ekspektasi Regulasi
- Jenis Kegagalan Validasi Pembersihan yang Umum Terjadi
- Akar Penyebab Kegagalan Validasi Pembersihan
- Masalah pada Metode Analitis
- Kesalahan dalam Pengambilan Sampel
- Proses Investigasi terhadap Kegagalan Validasi Pembersihan
- Tindakan Korektif dan Pencegahan (CAPA) pasca Kegagalan
- Kesalahan Umum dalam Melakukan Investigasi
- Strategi Pencegahan Kegagalan Validasi Pembersihan di Masa Mendatang
- Referensi Regulasi
1. Pendahuluan: Pentingnya Validasi Pembersihan di Industri Farmasi
Validasi terhadap proses pembersihan merupakan fungsi yang sangat krusial dalam industri farmasi karena mampu memberikan bukti dokumentasi yang menunjukkan bahwa peralatan manufaktur dapat dibersihkan secara konsisten hingga mencapai batas limit yang dapat diterima. Dengan menerapkan validasi pembersihan secara tepat, perusahaan dapat menghindari berbagai masalah serius seperti kontaminasi silang antar produk, pembawaan ulang bahan aktif dari satu produk ke produk lainnya, kontaminasi mikrobiologis pada bahan di tengah proses produksi, residu deterjen yang tertinggal, serta pencampuran dua produk berbeda yang tidak seharunya terjadi.
Meskipun validasi pembersihan telah menjadi persyaratan regulasi yang mapan dan diakui secara luas, temuan-temuan terkait kelemahan dalam validasi pembersihan selama inspeksi regulasi masih menjadi salah satu kategori ketidakpatuhan yang paling konsisten ditemukan di fasilitas manufaktur saat ini. Berdasarkan pengalaman dalam konsultansi kepatuhan regulasi, biasanya tidak ada satu penyebab tunggal yang menyebabkan kelemahan validasi pembersihan yang terlihat selama inspeksi. Secara umum, kelemahan tersebut mengindikasikan adanya permasalahan pada satu atau lebih aspek berikut: desain peralatan, pemahaman proses, prosedur pembersihan, strategi validasi pembersihan, atau secara keseluruhan pada sistem mutu farmasi.
Banyak perusahaan cenderung hanya fokus pada hasil analitis yang gagal itu sendiri. Namun, profesional kepatuhan farmasi yang paling berhasil menyadari bahwa kegagalan hasil analitis hanyalah akibat dari penyebab yang jauh lebih besar yang harus diidentifikasi dan diatasi. Sebuah investigasi yang dilakukan secara ilmiah dan menyeluruh tidak hanya akan mengidentifikasi dan memperbaiki kegagalan validasi yang terjadi saat itu, tetapi juga akan memperkuat seluruh proses manufaktur secara keseluruhan.
2. Apa Itu Kegagalan Validasi Pembersihan?
Kegagalan validasi pembersihan terjadi ketika proses pembersihan tidak mampu mendemonstrasikan kepatuhan terhadap kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Kegagalan validasi pembersihan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut ini:
- Jumlah residu yang ditemukan setelah proses pembersihan melebihi ambang batas yang telah ditetapkan
- Ditemukannya kontaminasi mikrobiologis yang melampaui batas limit yang dapat diterima
- Terdapat residu produk yang masih menempel pada peralatan setelah pembersihan dilakukan
- Jumlah residu agen pembersih yang tertinggal pada peralatan di atas batas yang telah ditentukan
- Sampel hasil bilas atau usapan tidak lulus uji pengujian
- Efektivitas pembersihan dapat berbeda-beda antara satu pelaksanaan validasi dengan pelaksanaan validasi lainnya
Satu kali kegagalan pengujian seharusnya tidak pernah diterima tanpa dilakukan investigasi lebih lanjut, karena hal tersebut dapat mengindikasikan adanya kelemahan yang signifikan dalam keseluruhan proses pembersihan.
3. Mengapa Kegagalan Validasi Pembersihan Sangat Penting?
Validasi pembersihan memiliki kaitan langsung dengan keselamatan pasien. Residu bahan aktif atau kontaminan yang tertinggal pada peralatan setelah pembersihan berpotensi menimbulkan berbagai masalah serius, antara lain:
- Kontaminasi silang antar produk
- Dosis obat yang tidak terkirim dengan tepat kepada pasien
- Produk yang dikembalikan secara keliru karena ketidaksesuaian
- Penolakan seluruh batch produksi
- Sanksi denda dari otoritas regulasi
- Hilangnya kepercayaan konsumen terhadap perusahaan
Berbagai lembaga inspeksi regulasi seperti FDA, EMA, WHO, MHRA, dan PIC secara rutin melakukan pemeriksaan terhadap program validasi pembersihan sebagai bagian dari fokus inspeksi mereka. Pembersihan yang tidak efektif merupakan salah satu penyebab utama dikeluarkannya temuan ketidakpatuhan GMP selama inspeksi.
4. Harapan dan Ekspektasi Regulasi
Secara global, otoritas regulasi mengharuskan produsen untuk menyusun program validasi pembersihan berdasarkan landasan ilmiah yang kuat. Pemeriksaan oleh petugas inspeksi mencakup beberapa aspek penting, di antaranya:
- Protokol verifikasi pembersihan yang telah ditetapkan
- Pemilihan produk kasus terburuk (worst-case) yang tepat
- Kriteria penerimaan yang ditetapkan secara ilmiah
- Metode pengambilan sampel yang valid
- Metode analitis yang telah divalidasi
- Laporan investigasi yang lengkap dan terdokumentasi
- Penerapan tindakan korektif dan pencegahan (CAPA)
- Ulang tinjau berkala terhadap program pembersihan
Selain itu, regulator juga mengharapkan produsen untuk mempertahankan kondisi yang sudah divalidasi sepanjang umur peralatan, bukan hanya sebagai aktivitas sekali jalan semata. Pemeliharaan kondisi tervalidasi ini memerlukan komitmen berkelanjutan dari seluruh elemen organisasi.
5. Jenis Kegagalan Validasi Pembersihan yang Umum Terjadi
Identifikasi terhadap pola kegagalan validasi pembersihan yang umum terjadi memungkinkan perusahaan untuk mendeteksi potensi permasalahan sebelum berkembang menjadi masalah regulasi yang lebih serius.
5.1 Tingkat Residu Melebihi Batas Penerimaan
Jenis kegagalan ini merupakan yang paling sering diamati dalam validasi pembersihan. Alasan paling umum yang menyebabkan terlampaunya tingkat residu yang dapat diterima meliputi:
- Durasi pembersihan yang tidak memadai untuk menghilangkan residu secara efektif
- Konsentrasi deterjen yang digunakan tidak sesuai dengan rekomendasi atau spesifikasi
- Proses pembersihan yang diterapkan tidak efektif dalam mengangkat sisa produk
- Permukaan peralatan yang sulit dijangkau atau memiliki kontur yang kompleks
- Jumlah siklus bilas yang tidak mencukupi untuk menghilangkan residu pembersih
Investigasi harus menentukan mengapa residu pembersihan masih ditemukan pada permukaan setelah pembersihan dilakukan, meskipun pembersihan telah dilakukan sesuai dengan prosedur pembersihan yang telah disetujui. Hal ini menunjukkan bahwa ada aspek dalam prosedur atau implementasinya yang memerlukan evaluasi lebih mendalam.
5.2 Kegagalan Batas Mikrobiologis
Kontaminasi mikrobiologis yang melampaui batas limit yang telah divalidasi dapat menjadi bukti bahwa sanitasi tidak dilakukan secara efektif atau pengeringan peralatan setelah proses sanitasi tidak berjalan optimal. Penyebab umum kegagalan validasi mikrobiologis meliputi:
- Sanitasi peralatan yang tidak dilakukan secara memadai
- Genangan air yang tertinggal pada permukaan peralatan
- Adanya dead legs atau zona mati pada sistem perpipaan
- Pengendalian lingkungan yang tidak memadai di area produksi
- Pengeringan peralatan yang tidak dilakukan dengan benar
Kegagalan validasi pembersihan terkait mikrobiologi umumnya memerlukan cakupan investigasi yang lebih luas dibandingkan dengan residu kimiawi, karena kontaminasi mikrobiologi berpotensi mempengaruhi banyak proses manufaktur sekaligus dan membahayakan keamanan produk secara lebih luas.
5.3 Kegagalan Studi Pemulihan Swab
Studi pemulihan swab dilakukan untuk memverifikasi bahwa residu dapat dipulihkan secara wajar dari permukaan peralatan. Alasan kegagalan studi pemulihan swab antara lain:
- Teknik pengambilan sampel usapan yang tidak dilakukan dengan benar
- Penggunaan bahan swab yang tidak sesuai atau tidak sesuai spesifikasi
- Metode ekstraksi yang diterapkan tidak tepat
- Metode analitis yang digunakan tidak akurat atau tidak sensitif
Tanpa studi pemulihan yang valid dari proses swabbing, hasil validasi menjadi diragukan secara ilmiah dan tidak dapat diandalkan sebagai dasar keputusan regulasi.
5.4 Kegagalan Kebersihan Visual
Terdapatnya residu yang terlihat pada suatu peralatan merupakan indikasi bahwa pembersihan tidak dilakukan secara memadai, bahkan jika batas analitis belum terlampaui. Alasan ketidakmampuan menentukan apakah residu masih ada atau tidak melalui pemeriksaan visual meliputi:
- Desain peralatan yang tidak memudahkan pemeriksaan visual
- Tertutupnya bagian-bagian peralatan yang tidak dapat dijangkau
- Tidak adanya waktu yang cukup untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap peralatan
- Penerangan yang tidak memadai selama proses pemeriksaan visual dilakukan
Pemeriksaan visual tetap menjadi bagian penting dalam verifikasi pembersihan dan merupakan garis pertahanan pertama sebelum dilakukan pengujian laboratorium lebih lanjut.
6. Akar Penyebab Kegagalan Validasi Pembersihan
Investigasi harus menggali akar penyebab masalah dan bukan sekadar gejala permukaannya. Memahami akar penyebab menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kegagalan yang sama di masa mendatang.
6.1 Masalah Desain Peralatan
Kegagalan validasi pembersihan sangat sering disebabkan oleh desain peralatan yang sedang dibersihkan. Contoh masalah desain yang sering ditemukan meliputi:
- Adanya dead legs atau zona mati di mana cairan pembersih sulit mengalir
- Crevices atau celah kecil yang menjadi tempat persembunyian residu
- Sambungan las yang kasar dan tidak rata
- Permukaan peralatan yang tidak halus atau memiliki finishing yang buruk
- Titik kontak produk yang sulit dijangkau oleh agen pembersih
- Sistem perpipaan yang terlalu kompleks dan sulit dibersihkan
Peralatan pembersihan harus dirancang untuk memudahkan proses pembersihan dengan menerapkan prinsip-prinsip rekayasa higienis yang tepat sejak tahap perancangan awal.
6.2 Prosedur Pembersihan yang Tidak Memadai
Kegagalan validasi pembersihan sering kali merupakan akibat dari prosedur pembersihan yang dikembangkan secara tidak optimal. Contoh kelemahan prosedur pembersihan yang sering ditemukan meliputi:
- Urutan pembersihan yang tidak dilakukan secara tepat
- Waktu kontak dengan agen pembersih yang tidak mencukupi
- Konsentrasi deterjen yang tidak sesuai dengan rekomendasi
- Langkah-langkah pembersihan penting yang terlewat atau tidak tercantum
- Tidak adanya instruksi tertulis yang komprehensif untuk setiap proses pembersihan
Prosedur pembersihan seharusnya dikembangkan berdasarkan pemahaman proses yang mendalam, bukan melalui metode coba-coba yang tidak terstruktur. Pendekatan ilmiah dalam pengembangan prosedur menjadi fondasi utama keberhasilan program pembersihan.
6.3 Pemilihan Agen Pembersih yang Tidak Tepat
Tidak setiap agen pembersih dapat digunakan untuk membersihkan setiap jenis produk. Penggunaan produk pembersih yang salah mungkin tidak mampu melarutkan secara efektif berbagai jenis residu berikut:
- Residu berbasis minyak yang bersifat lipofilik
- Senyawa dengan potensi tinggi yang memerlukan agen pelarut khusus
- Produk yang tidak larut dalam air dan memerlukan pelarut organik
- Eksipien yang bersifat lengket dan sulit dihilangkan dari permukaan
Dalam memilih agen pembersih, beberapa pertimbangan penting harus diperhatikan, termasuk kimia dari masing-masing produk yang akan dibersihkan, kompatibilitas agen pembersih dengan material konstruksi peralatan, dampak lingkungan dari penggunaan agen pembersih tersebut, serta kemudahan proses bilas untuk menghilangkan residu agen pembersih dari permukaan peralatan.
6.4 Pelatihan Operator yang Tidak Memadai
Kelemahan dalam program pelatihan dapat menyebabkan efektivitas pembersihan bergantung pada apakah operator telah mendapatkan pelatihan yang benar atau tidak. Berikut adalah contoh kelemahan yang sering ditemukan pada pembersihan yang dilakukan oleh operator:
- Pembongkaran peralatan operasional yang tidak dilakukan dengan benar
- Pelaksanaan pembersihan peralatan operasional yang tidak sesuai prosedur
- Ketiadaan inspeksi terhadap kondisi peralatan operasional setelah pembersihan
- Persiapan larutan pembersih yang tidak dilakukan sesuai standar
Kesalahan operator lebih merupakan cerminan dari kelemahan dalam sistem pelatihan perusahaan, bukan semata-mata kesalahan performa dari operator itu sendiri. Oleh karena itu, perbaikan harus difokuskan pada penguatan sistem pelatihan dan kompetensi.
6.5 Desain Protokol Validasi Pembersihan yang Lemah
Protokol validasi yang lemah dapat menghasilkan data yang menyesatkan dan mencakup beberapa kelemahan berikut:
- Jumlah sampel yang dikumpulkan tidak memadai untuk representasi yang akurat
- Lokasi pengambilan sampel yang dipilih tidak representatif terhadap kondisi aktual
- Kondisi kasus terburuk yang dipilih untuk pembersihan tidak tepat
- Kriteria penerimaan yang tidak ditetapkan atau memiliki batas yang tidak dapat direplikasi
- Kurangnya justifikasi statistik mengapa kriteria penerimaan tertentu dipilih
Protokol validasi harus mampu menguji efektivitas pembersihan di bawah kondisi kasus terburuk yang mungkin terjadi dalam operasi manufaktur sehari-hari.
7. Masalah pada Metode Analitis
Validasi pembersihan sangat bergantung pada validasi metode analitis yang digunakan untuk mendeteksi dan mengkuantifikasi residu. Dalam banyak kasus, kegagalan validasi disebabkan oleh masalah-masalah berikut ini:
- Kurangnya sensitivitas metode analitis yang digunakan
- Masalah kalibrasi instrumen yang digunakan untuk pengukuran
- Kesalahan dalam proses persiapan sampel sebelum analisis
- Angka pemulihan (recovery) yang rendah dari teknik ekstraksi
- Adanya intervensi atau gangguan metode yang mengganggu akurasi hasil
Metode analitis harus divalidasi terhadap beberapa kriteria utama, termasuk spesifisitas, akurasi, presisi, angka pemulihan, batas deteksi (detection limit), dan batas kuantitasi (quantitation limit). Validasi metode analitis yang memadai menjadi fondasi utama untuk memastikan keandalan data hasil pembersihan.
8. Kesalahan dalam Pengambilan Sampel
Salah satu aspek yang paling sering terlewat dalam validasi pembersihan adalah proses pengambilan sampel. Berikut adalah contoh masalah pengambilan sampel yang umum ditemukan:
- Teknik pengambilan sampel usapan yang tidak dilakukan sesuai standar
- Lokasi pengambilan sampel yang tidak representatif terhadap area kritis
- Volumen larutan bilas yang tidak memadai untuk representasi yang akurat
- Terjadinya kontaminasi silang selama proses pengambilan sampel berlangsung
- Kesalahan dalam penanganan dan pengelolaan sampel setelah pengambilan
Jika pengambilan sampel dilakukan secara buruk, hasil yang diperoleh mungkin menyesatkan dalam menggambarkan efektivitas pembersihan yang sebenarnya. Oleh karena itu, standarisasi prosedur sampling menjadi elemen kritis dalam program validasi pembersihan.
9. Proses Investigasi terhadap Kegagalan Validasi Pembersihan
Investigasi formal harus segera dimulai segera setelah kegagalan validasi pembersihan diidentifikasi. Langkah-langkah investigasi yang perlu dilakukan meliputi beberapa tahapan penting berikut ini:
9.1 Tinjauan terhadap Pelaksanaan Pembersihan
Langkah pertama adalah memverifikasi bahwa:
- Prosedur operasional standar (SOP) telah diikuti dengan benar selama pelaksanaan pembersihan
- Parameter-parameter pembersihan telah didokumentasikan sesuai persyaratan
- Agen pembersih telah disiapkan dengan benar sesuai rekomendasi
- Waktu kontak antara agen pembersih dan permukaan peralatan sudah memadai
9.2 Tinjauan terhadap Peralatan
Evaluasi terhadap peralatan harus mencakup aspek-aspek berikut:
- Riwayat pemeliharaan peralatan selama periode terkait
- Kondisi permukaan peralatan saat ini
- Riwayat kalibrasi dan dokumen pendukung yang terkait
- Modifikasi peralatan yang telah dilakukan sebelumnya
- Status kualifikasi peralatan yang sedang digunakan
9.3 Penilaian terhadap Tren Historis
Perbandingan data hasil terhadap beberapa sumber data historis perlu dilakukan, termasuk studi validasi sebelumnya, verifikasi pembersihan rutin yang dilakukan berkala, data pemantauan lingkungan, serta tren pemeliharaan peralatan. Data historis biasanya mampu mengidentifikasi pola-pola degradasi bertahap dari keseluruhan proses pembersihan yang mungkin tidak terlihat dari satu insiden kegagalan secara tunggal.
9.4 Penilaian Risiko
Penilaian risiko harus mengevaluasi beberapa aspek kritis berikut:
- Dampak terhadap produk yang sedang atau telah diproduksi
- Tingkat risiko terhadap keselamatan pasien
- Riko terjadinya kontaminasi silang ke produk lain
- Kebutuhan untuk mengarantina produk yang terdampak
- Persyaratan untuk melakukan pengujian tambahan yang diperlukan
Keputusan yang diambil berdasarkan penilaian risiko akan mendukung justifikasi berbasis ilmiah untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna melindungi keamanan pasien dan kepatuhan regulasi.
10. Tindakan Korektif dan Pencegahan (CAPA) pasca Kegagalan
Tindakan korektif dan pencegahan (CAPA) harus difokuskan pada peningkatan kualitas baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa contoh implementasi CAPA yang dapat dilakukan meliputi:
- Pembaruan dan penyempurnaan prosedur pembersihan berdasarkan temuan investigasi
- Redesain peralatan yang bermasalah untuk memudahkan proses pembersihan
- Pergantian solusi pembersih dengan produk yang lebih efektif dan sesuai
- Perpanjangan durasi waktu pembersihan untuk memastikan residu hilang sempurna
- Peningkatan kualitas pelatihan operator agar sesuai standar yang ditetapkan
- Perbaikan metode pemeriksaan visual dengan penerangan dan prosedur yang lebih baik
- Pembaruan protokol validasi untuk mengatasi kelemahan yang teridentifikasi
Hal yang sangat kritis adalah setiap tindakan korektif atau pencegahan harus diverifikasi efektivitasnya sebelum investigasi ditutup. Verifikasi ini memastikan bahwa akar penyebab telah benar-benar diatasi dan kegagalan tidak akan terulang di masa mendatang.
11. Kesalahan Umum dalam Melakukan Investigasi
Ada beberapa pola kesalahan yang berulang yang dapat melemahkan investigasi validasi pembersihan. Kesalahan-kesalahan paling umum yang sering terjadi meliputi:
- Melakukan investigasi secara berulang tanpa menghasilkan analisis akar penyebab yang tuntas
- Menyalahkan operator sebagai penyebab kesalahan tanpa bukti yang memadai
- Kegagalan dalam mempertimbangkan keterbatasan desain peralatan sebagai faktor penyebab
- Dokumentasi investigasi yang tidak lengkap atau tidak memadai
- Investigasi akar penyebab yang dangkal dan tidak menyeluruh
- Tindakan korektif dan pencegahan (CAPA) yang tidak memadai atau tidak efektif
- Kegagalan dalam mengevaluasi dampak terhadap produk yang terdampak
Mengulang siklus pembersihan berulang kali hingga diperoleh hasil yang dapat diterima bukanlah pendekatan ilmiah yang benar. Pendekatan seperti ini kemungkinan besar tidak akan memuaskan seorang inspektur regulasi, karena menunjukkan bahwa perusahaan tidak melakukan investigasi yang tuntas terhadap akar permasalahan yang sesungguhnya.
12. Strategi Pencegahan Kegagalan Validasi Pembersihan di Masa Mendatang
Untuk mencegah kegagalan di masa mendatang akibat validasi pembersihan yang tidak dilakukan secara benar, organisasi yang telah memiliki program validasi pembersihan yang mapan seharusnya bersifat preventif daripada bersifat reaktif. Pendekatan preventif memungkinkan perusahaan untuk mengantisipasi dan mengatasi potensi masalah sebelum berkembang menjadi kegagalan yang nyata.
Praktik terbaik yang direkomendasikan untuk memastikan keberhasilan program validasi pembersihan meliputi beberapa strategi berikut:
- Merancang peralatan dengan mempertimbangkan kemudahan pembersihan (design for cleanability) sejak tahap perencanaan awal
- Memilih produk-produk kasus terburuk yang dipilih berdasarkan justifikasi ilmiah yang kuat
- Memastikan bahwa metode analitis telah divalidasi secara memadai dan dapat diandalkan
- Menstandarisasi proses pembersihan agar konsisten di seluruh lini produksi
- Memberikan pelatihan secara berkala kepada seluruh operator yang terlibat dalam proses pembersihan
- Memantau tren dan pola pembersihan secara rutin untuk mendeteksi perubahan sejak dini
- Melakukan tinjauan berkala terhadap seluruh program validasi pembersihan secara komprehensif
- Memastikan bahwa validasi pembersihan terintegrasi dengan sistem pengendalian perubahan (change control) organisasi
- Melakukan audit internal secara rutin untuk memverifikasi kepatuhan terhadap prosedur yang ditetapkan
- Memverifikasi efektivitas tindakan korektif dan pencegahan melalui pemantauan yang berkelanjutan
Praktik-praktik terbaik di atas telah terbukti mampu meningkatkan kepatuhan dan mengoptimalkan efektivitas keseluruhan program pembersihan dalam jangka panjang.
Sebuah kegagalan validasi pembersihan secara tunggal tidak seharusnya menggambarkan laboratorium sebagai insiden yang terisolasi, melainkan harus menjadi pemicu untuk melakukan peningkatan aspek-aspek yang lebih luas, termasuk desain peralatan, prosedur operasional, pelatihan operator, serta sistem mutu keseluruhan organisasi. Proses investigasi yang tepat dan berbasis ilmiah, yang memanfaatkan bukti-bukti yang lengkap serta didukung oleh analisis akar penyebab dan tindakan korektif yang tepat, merupakan elemen-elemen kunci untuk tetap mematuhi regulasi dan terus menjaga keselamatan pasien.
Sebagai seorang profesional farmasi yang telah berpengalaman, perusahaan yang mengimplementasikan dan memelihara program validasi pembersihan secara berkelanjutan (program siklus hidup) bukan hanya dilihat sebagai aktivitas kualifikasi satu kali, akan tetapi memiliki jauh lebih sedikit temuan regulasi atau kegagalan, dan dapat mengandalkan kinerja operasi manufaktur yang berkelanjutan dan andal. Pemantauan berkelanjutan, tinjauan berkala, serta peningkatan proses yang proaktif merupakan komponen-komponen yang diperlukan untuk mempertahankan program validasi pembersihan yang efektif.
13. Referensi Regulasi
- FDA Guidance for Industry: Process Validation – General Principles and Practices
https://www.fda.gov/media/71021/download - FDA Guide to Inspections of Validation of Cleaning Processes
https://www.fda.gov/inspections-compliance-enforcement-and-criminal-investigations/inspection-guides/guide-inspections-validation-cleaning-processes - EMA Guideline on Setting Health Based Exposure Limits (HBELs)
https://www.ema.europa.eu - PIC/S PI 006 Recommendations on Validation Master Plan, Installation and Cleaning Validation
https://picscheme.org - EU GMP Guidelines Volume 4, Annex 15: Qualification and Validation
https://health.ec.europa.eu/medicinal-products/eudralex/eudralex-volume-4_en


