Daftar Isi
- Tujuan
- Ruang Lingkup
- Tanggung Jawab
- Akuntabilitas
- Prosedur
- Metode Pelat Pengendapan
- Sampling Udara Volumetrik
- Pemantauan Permukaan
- Pemantauan Personel
- Inkubasi
- Sampling Anaerob
- Tindakan ketika Level Peringatan atau Tindakan Dilewati
- Dokumentasi
- Rasional Lokasi Sampling
1. Tujuan
Prosedur ini dibuat untuk menetapkan tata cara pemantauan lingkungan terhadap organisme vital pada area proses aseptik. Pemantauan ini bertujuan memastikan kondisi lingkungan area aseptik tetap memenuhi standar tingkat jumlah total organisme hidup yang dapat diterima dalam fasilitas manufaktur produk steril.
2. Ruang Lingkup
SOP ini berlaku untuk pelaksanaan pemantauan lingkungan terhadap organisme vital di seluruh area proses aseptik yang terdapat dalam fasilitas manufaktur produk farmasi steril, termasuk area pengisian steril dan area kritis lainnya.3. Tanggung Jawab
Mikrobiolog atau level yang lebih tinggi di Laboratorium Mikrobiologi bertanggung jawab langsung atas pelaksanaan pemantauan lingkungan sesuai prosedur yang ditetapkan. Kepala Bagian Mikrobiologi memiliki tanggung jawab supervisi atas seluruh aktivitas pemantauan dan pelaporan hasil.
4. Akuntabilitas
Kepala bagian Quality Control dan Kepala bagian Quality Assurance bertanggung jawab penuh atas kepatuhan pelaksanaan pemantauan lingkungan sesuai standar yang telah ditetapkan dalam prosedur operasional ini.
5. Prosedur
Pemantauan partikel vital di fasilitas manufaktur produk steril harus dilaksanakan oleh mikrobiolog untuk memastikan bahwa kondisi lingkungan area aseptik telah memenuhi kriteria tingkat jumlah total organisme hidup yang dapat diterima. Pelaksanaan pemantauan partikel vital di Area Pengisian Steril dan area kritis lainnya dilakukan menggunakan beberapa metode yang telah distandarisasi.
Metode-metode tersebut meliputi metode pelat pengendapan untuk pengambilan sampel udara pasif, metode sampling udara volumetrik menggunakan teknik sieve impaction sebagai sampling udara aktif, metode pemantauan permukaan menggunakan swab dan pelat kontak permukaan RODAC, serta metode pemantauan personel dengan pelat kontak permukaan RODAC. Pemantauan partikel vital di area terdekat dengan Area Pengisian Steril juga dilakukan menggunakan metode pelat pengendapan dan sampling udara volumetrik secara bersamaan.
6. Metode Pelat Pengendapan
Pelat media SCDA (Soya Bean Casein Digest Agar) diposisikan di lokasi-lokasi yang telah ditentukan sesuai dengan diagram skematik eksposur pelat pengendapan. Setiap pelat diberi label pada bagian bawah dengan kode lokasi, inisial petugas, tanggal, waktu eksposur, dan keterangan SET-I serta SET-II untuk eksposur pertama dan kedua dalam satu hari.
Pelaksanaan eksposur dilakukan dengan membuka tutup pelat secara hati-hati, menempatkan pelat berisi media pada dudukan pelat pengendapan di lokasi yang telah ditentukan, kemudian menutup kembali dengan tutup yang telah dibalik bagian dalamnya menghadap ke bawah. Durasi eksposur adalah empat jam. Setelah waktu eksposur selesai, pelat ditutup kembali dengan hati-hati dan diberi label waktu penutupan pada bagian bawah. Semua pelat kemudian dikumpulkan ke dalam carrier stainless steel.
Level peringatan untuk pelat pengendapan di Grade A adalah 1 CFU dengan level tindakan 0 CFU. Di Grade B, level peringatan 4 CFU dan level tindakan 5 CFU. Grade C memiliki level peringatan 35 CFU dan level tindakan 50 CFU. Grade D memiliki level 0 CFU baik untuk peringatan maupun tindakan.
Durasi eksposur pelat pengendapan harus mencakup seluruh aktivitas pengisian. Aktivitas koneksi aseptik juga harus tercakup dalam periode eksposur pelat pengendapan. Jika aktivitas pengisian berlangsung lebih dari empat jam sejak eksposur pertama, maka eksposur kedua SET-II harus dilakukan di semua lokasi yang telah ditentukan sebelumnya, dan seterusnya sesuai jadwal.
Pada hari kerja tanpa aktivitas, pelat pengendapan tetap diekspos sekali dalam sehari. Pelat pengendapan hanya diekspos pada hari libur atau akhir pekan jika terdapat aktivitas operasional yang sedang berlangsung. Pemantauan pelat pengendapan di area sekitar area pengisian steril dilakukan secara mingguan. Lampu UV pada pass box harus dimatikan selama proses eksposur pelat pengendapan berlangsung.
7. Sampling Udara Volumetrik
Pengambilan sampel udara volumetrik dilakukan di lokasi-lokasi yang telah ditetapkan dengan volume minimal seribu liter atau satu meter kubik per lokasi sesuai dengan diagram skematik sampling udara volumetrik. Prosedur sampling menggunakan air sampler tipe sieve impaction mengikuti SOP yang berlaku tentang pengoperasian, kalibrasi, pembersihan, dan perawatan air sampler.
Saring harus didesinfeksi sebelum dan sesudah pengambilan sampel di setiap lokasi menggunakan alkohol IPA konsentrasi tujuh puluh persen. Urutan sampling dilakukan dimulai dari area dengan tingkat kebersihan tertinggi menuju area dengan tingkat kebersihan lebih rendah secara berurutan. Setelah sampling selesai, setiap pelat diberi label pada bagian bawah dengan kode lokasi, inisial, tanggal, dan keterangan SET-I serta SET-II untuk sampel pertama dan kedua dalam satu hari.
Level peringatan untuk sampling udara volumetrik di Grade A adalah satu CFU dengan level tindakan juga satu CFU. Di Grade B, level peringatan delapan CFU dan level tindakan sepuluh CFU. Grade C memiliki level peringatan tujuh puluh CFU dan level tindakan seratus CFU. Grade D memiliki level peringatan seratus empat puluh CFU dan level tindakan dua ratus CFU.
Selama aktivitas pengisian berlangsung, sampling udara volumetrik harus mencakup semua lokasi yang telah ditentukan dalam SET-I. Jika aktivitas pengisian berlanjut lebih dari empat jam sejak sampling SET-I, maka sampling SET-II harus mencakup semua area Grade A dan Grade B, dan seterusnya. Jika tidak ada aktivitas, semua lokasi harus disampling minimal satu kali dalam seminggu. Sampling udara volumetrik di area sekitar area pengisian aseptik dilakukan secara mingguan.
8. Pemantauan Permukaan
Pemantauan permukaan dilakukan di lokasi-lokasi sesuai dengan diagram skematik pemantauan permukaan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan pemantauan permukaan menggunakan dua metode berdasarkan lokasi yang akan dipantau secara mendetail. Metode pertama adalah metode swab dan metode kedua adalah metode pelat kontak permukaan RODAC berdiameter lima puluh lima milimeter.
Pada metode swab, tabung uji yang berisi swab steril dibuka secara aseptik. Swab dikeluarkan sebagian lalu ditekan perlahan pada dinding bagian dalam tabung untuk menghilangkan kelebihan saline. Area sampling berukuran dua puluh lima sentimeter persegi atau lima kali lima sentimeter diambil dengan gerakan stroke horizontal diikuti stroke vertikal menggunakan sisi kedua swab. Swab kemudian dimasukkan kembali ke dalam tabung yang berisi saline dan ditutup rapat. Setelah sampling selesai, setiap tabung diberi label dengan kode lokasi, waktu, inisial, dan tanggal.
Pada metode pelat kontak permukaan RODAC, pemantauan dilakukan pada permukaan datar. Pelat RODAC dibuka dengan hati-hati, dibalik, kemudian permukaan agar ditekan ke permukaan yang akan dipantau. Tekanan dilakukan secara merata untuk memastikan seluruh permukaan agar bersentuhan dengan sampel. Pelat diangkat perlahan dan ditutup kembali dengan hati-hati. Area yang telah dipantau didesinfeksi dengan alkohol IPA tujuh puluh persen dan dibersihkan dengan kain lap steril bebas serat.
Setiap pelat RODAC diberi label pada bagian bawah dengan kode lokasi, waktu, inisial, dan tanggal setelah sampling selesai. Semua tabung swab dan pelat RODAC kemudian ditempatkan dalam carrier stainless steel. Level peringatan untuk pemantauan permukaan di Grade A adalah satu CFU dengan level tindakan satu CFU. Di Grade B, level peringatan empat CFU dan level tindakan lima CFU. Grade C memiliki level peringatan dua puluh CFU dengan level tindakan dua puluh lima CFU. Grade D memiliki level peringatan empat puluh CFU dan level tindakan lima puluh CFU.
Pemantauan permukaan dengan pelat kontak dan swab permukaan dilakukan setelah aktivitas pengisian selesai. Lokasi pemantauan permukaan dipilih berdasarkan kriteria seperti permukaan yang bersentuhan dengan produk, permukaan yang sering disentuh operator, permukaan periferal, area yang sulit dibersihkan, titik koneksi aseptik, permukaan peralatan di area aseptik, serta lokasi kerja yang berada dekat dengan operator.
9. Pemantauan Personel
Pemantauan personel dilakukan untuk semua personel yang bekerja di Area Pengisian Aseptik termasuk mikrobiolog, menggunakan pelat kontak permukaan RODAC berdiameter lima puluh lima milimeter. Pemantauan personel dilakukan pada empat lokasi yang mencakup kedua tangan. Sampling pada dua lokasi tambahan dilakukan secara rotasi untuk personel yang regularmente bekerja di area aseptik.
Pelaksanaan pemantauan personel menggunakan metode pelat kontak permukaan RODAC. Pelat dibuka dengan hati-hati, dibalik, lalu permukaan agar ditekan ke bagian tubuh yang akan dipantau. Tekanan dilakukan secara merata dan perlahan. Pelat diangkat kembali dan ditutup dengan hati-hati untuk menghindari bekas medium agar pada permukaan yang dipantau. Setiap pelat diberi label dengan nama personel, kode lokasi, waktu, inisial, dan tanggal.
Level peringatan untuk pemantauan personel pada sarung tangan adalah satu CFU dengan level tindakan satu CFU. Pada pakaian, level peringatan tiga CFU dan level tindakan empat CFU. Untuk garment atas, level peringatan empat CFU dan level tindakan lima CFU. Pemantauan personel dilakukan sebelum mereka meninggalkan area manufaktur. Setelah sampling selesai, semua carrier ditempatkan di pass box dinamis dan keluar melalui ruang ganti exit sesuai SOP.
10. Inkubasi
Seluruh pelat, casset, dan tabung swab dari pemantauan lingkungan dan personel dibawa ke laboratorium mikrobiologi untuk proses inkubasi. Pengujian swab yang dikumpulkan dari area pengisian steril dilakukan di ruang testing MLT. Solusi saline dalam setiap tabung bersama swab di-vortex terlebih dahulu, kemudian difilter melalui membran steril berukuran nol koma empat lima mikrometer. Membran dicuci dengan seratus milimeter kali tiga menggunakan peptone air nol koma satu persen, lalu diletakkan di atas pelat media SCDA yang telah diinkubasi. Holder filter yang berbeda digunakan untuk setiap swab.
Inkubasi dilakukan pada suhu dua puluh hingga dua puluh lima derajat Celcius selama tujuh puluh dua jam, kemudian dilanjutkan pada suhu tiga puluh hingga tiga puluh lima derajat Celcius selama empat puluh delapan jam tambahan. Observasi dilakukan setelah tujuh puluh dua jam dan dilanjutkan setelah empat puluh delapan jam tambahan. Hasil dicatat dalam laporan sesuai format annexure.
11. Sampling Anaerob
Pengambilan sampel untuk anaerob dilakukan oleh mikrobiolog di lokasi yang telah ditetapkan dalam tabel menggunakan prosedur yang sama seperti pada section lain dalam SOP ini. Level peringatan untuk sampling anaerob adalah kurang dari satu CFU dan level tindakan adalah satu CFU untuk semua jenis pemantauan termasuk pelat pengendapan, sampling volumetrik, pemantauan permukaan, pemantauan jari personel pada sarung tangan, dan pemantauan garment atas.
Frekuensi sampling anaerob dilakukan setiap bulan. Inkubasi untuk sampling anaerob dilakukan pada suhu tiga puluh hingga tiga puluh lima derajat Celcius selama tujuh puluh dua jam. Observasi dilakukan setelah tujuh puluh dua jam dan hasil dicatat dalam laporan yang sesuai.
12. Tindakan ketika Level Peringatan atau Tindakan Dilewati
Jika level peringatan terlampaui, organisme harus diidentifikasi hingga tingkat genus menggunakan SOP Mini API. Perlu diperiksa apakah organisme yang teridentifikasi merupakan organism yang objectionable atau tidak. Jika ya, sumber organisme harus diidentifikasi. Lokasi sampel lainnya juga harus diperiksa. Sampel selanjutnya dari lokasi yang sama dan lokasi lainnya harus diperiksa apakah juga melebihi level peringatan. Observasi dicatat untuk referensi masa depan.
Jika level tindakan terlampaui, mikrobiolog harus melaporkan deviasi kepada Manajer QC, Manajer QA, Manajer Produksi, dan Manajer Engineering terkait excursion. Batch produk yang diisi selama periode sampling lingkungan harus diidentifikasi oleh mikrobiolog. Mikrobiolog harus memeriksa apakah level tindakan terlampaui hanya di satu lokasi sampling atau juga di lokasi lainnya pada interval sampling berikutnya.
Organisme harus diidentifikasi hingga tingkat genus menggunakan SOP Mini API. Diperiksa apakah organisme yang teridentifikasi merupakan organism yang objectionable. Jika ya, sumber organisme harus diidentifikasi. Investigasi dilakukanRegarding sumber dan penyebab tingginya hitungan. Sterilisasi, penanganan, dan penggunaan garment diperiksa. Tren historis lokasi sampling yang menjadi perhatian harus diperiksa. Perubahan pada prosedur sanitasi, sanitization, atau sterilisasi harus diperiksa. Insiden tidak diinginkan yang terjadi baru-baru ini juga harus dipertimbangkan.
Tindakan korektif dan preventif atau CAPA ditetapkan sesuai SOP. Implementasi CAPA dilakukan disertai follow-up. Hasil investigasi dan kesimpulan didokumentasikan secara lengkap.
13. Dokumentasi
Hasil detail eksposur pelat pengendapan untuk Area Pengisian Steril dan area kritis lainnya dicatat dalam laporan yang tersedia. Hasil detail eksposur pelat pengendapan untuk lokasi di sekitar Area Pengisian Steril dicatat dalam laporan yang telah disediakan. Hasil detail sampling udara volumetrik untuk Area Pengisian Steril dan area kritis lainnya dicatat dalam laporan resmi.
Hasil detail sampling udara volumetrik untuk area di sekitar Area Pengisian Steril juga dicatat dalam laporan. Hasil pemantauan permukaan menggunakan swab dan pelat kontak permukaan RODAC di Area Pengisian Steril dan area kritis lainnya dicatat dalam laporan. Hasil pemantauan personel menggunakan pelat kontak permukaan RODAC di Area Pengisian Steril dan area kritis lainnya dicatat dalam laporan terpisah.
Hasil sampling anaerob dicatat dalam laporan khusus. Jika tidak ditemukan pertumbuhan koloni, hasil dicatat sebagai nihil atau nol. Hasil pemantauan harus berada dalam level yang disebutkan dalam annexure yang bersangkutan.
14. Rasional Lokasi Sampling
Pemilihan lokasi untuk pelat pengendapan dan sampling udara volumetrik didasarkan pada beberapa pertimbangan penting. Pertama, berdasarkan pola lalu lintas udara dimana area dekat return air raiser menjadi prioritas. Kedua, area di mana produk terekspos langsung ke lingkungan menjadi lokasi sampling yang penting. Ketiga, area yang sulit dibersihkan memerlukan perhatian khusus dalam pemantauan. Keempat, area periferal dan area yang mungkin tersembunyi atau diasumsikan kritis terhadap kontaminasi mikroba juga termasuk dalam pertimbangan pemilihan lokasi sampling.
Untuk pemantauan permukaan, lokasi dipilih berdasarkan permukaan yang bersentuhan langsung dengan produk, permukaan yang sering disentuh operator, permukaan periferal, area yang sulit dibersihkan, titik koneksi aseptik, permukaan peralatan di area aseptik, serta lokasi kerja yang berada dekat dengan operator. Semua pertimbangan ini bertujuan memastikan cakupan pemantauan yang komprehensif dan efektif untuk mendeteksi potensi kontaminasi mikroba di area aseptik.




