Panduan Lengkap Sampling Bahan Kemas Berstandar ISO 2859 di Industri Farmasi

Pendahuluan

Dalam industri farmasi, jaminan mutu tidak hanya berfokus pada produk obat itu sendiri, tetapi juga mencakup seluruh komponen yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan sediaan. Bahan kemasan primer, sekunder, dan tersier memegang peranan krusial dalam mempertahankan stabilitas, keamanan, dan integritas produk sejak proses manufaktur hingga mencapai pasien. Oleh karena itu, inspeksi incoming terhadap bahan kemasan wajib dilakukan secara sistematis, objektif, dan sesuai standar internasional yang diakui secara global.

Salah satu pendekatan yang paling banyak diadopsi oleh laboratorium kontrol kualitas farmasi adalah penerapan ISO 2859. Standar ini menyediakan kerangka kerja statistik yang valid untuk penarikan sampel atribut dari batch bahan kemasan, memastikan bahwa keputusan penerimaan atau penolakan didasarkan pada data yang konsisten, dapat direplikasi, dan memenuhi persyaratan dokumentasi Good Manufacturing Practice (GMP).

Mengenal Prinsip Dasar ISO 2859 dalam Inspeksi Bahan Kemasan

ISO 2859 seri 1 mengatur prosedur pengambilan sampel untuk inspeksi atribut berdasarkan Acceptance Quality Limit (AQL). Dalam konteks farmasi, standar ini membantu Departemen Quality Control menentukan jumlah unit kemasan yang harus diuji dari suatu lot produksi berdasarkan ukuran lot dan tingkat risiko yang telah ditetapkan. Pendekatan ini menggantikan pengambilan sampel subjektif dengan metode statistik terukur yang selaras dengan prinsip pengawasan kualitas berbasis risiko.

Prinsip utama yang perlu dipahami meliputi pemilihan AQL yang sesuai dengan fungsi kemasan, perhitungan ukuran sampel dari tabel baku, serta kriteria penerimaan dan penolakan lot berdasarkan jumlah cacat yang ditemukan. Setiap langkah harus tertuang dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) tertulis agar memenuhi tuntutan audit regulator, termasuk pedoman WHO mengenai kemasan farmasi, USP Chapter <659>, dan peraturan BPOM terkait GMP.

BACA JUGA  Tips Sukses Audit BPOM atau Inspeksi BPOM di Industri Farmasi

Prosedur Operasional Penarikan Sampel Bahan Kemasan

Implementasi ISO 2859 memerlukan alur kerja yang ketat untuk menghindari bias dan kesalahan manusia. Langkah-langkah kunci meliputi:

  • Verifikasi dokumen pemasok termasuk Certificate of Analysis (CoA), spesifikasi teknis, dan hasil studi bioburden jika diperlukan.
  • Penentuan level inspeksi umum, biasanya Level II untuk pengujian rutin bahan kemasan farmasi non-kritis dan Level III untuk bahan primer dengan potensi risiko tinggi.
  • Pemilihan nilai AQL berdasarkan klasifikasi dampak klinis, misalnya AQL 1,0 untuk botol vial, seal aluminium, dan tutup sibruks, serta AQL 2,5 untuk karton, label, dan insert.
  • Pengambilan sampel acak menggunakan teknik randomisasi yang menjamin setiap unit memiliki probabilitas terpilih yang sama, sesuai ketentuan ISO 2859-1.
  • Pencatatan temuan ketidaksesuaian, baik berupa cacat visual, dimensi, ketebalan material, kompatibilitas ekstrakible-leachable, maupun performa fungsional seperti sealing strength.

Hasil inspeksi kemudian dibandingkan dengan kode penerimaan (Ac) dan penolakan (Re) pada tabel baku ISO 2859. Jika jumlah cacat berada di bawah atau sama dengan Ac, lot diterima untuk digunakan dalam produksi. Sebaliknya, jika melebihi Re, lot ditolak atau dikembalikan ke pemasok untuk tindakan perbaikan, disertai evaluasi perubahan kualifikasi supplier.

Integrasi dengan Regulasi Farmasi dan Praktik Terbaik di Lapangan

Regulasi farmasi modern menekankan pendekatan berbasis risiko dalam manajemen rantai pasok bahan kemasan. Dokumen panduan WHO tentang Pharmaceutical Packaging Materials serta pedoman USP <659> menyatakan bahwa incoming inspection harus disesuaikan dengan karakteristik kritis bahan tersebut. Penerapan ISO 2859 memungkinkan pabrik farmasi untuk menyeimbangkan efisiensi biaya inspeksi dengan perlindungan maksimal terhadap keamanan pasien.

Di lapangan, praktik terbaik yang direkomendasikan oleh para ahli Quality Assurance dan pustaka literatur farmasi mencakup pembaruan berkala rencana sampling saat terjadi tren peningkatan cacat dari pemasok tertentu, validasi metode uji laboratorium yang selaras dengan parameter statistik ISO 2859, serta pelatihan berkelanjutan untuk personel QC dan QA. Penggunaan sistem LIMS (Laboratory Information Management System) yang terintegrasi juga semakin diwajibkan untuk meningkatkan jejak audit, kecepatan review data, dan compliance readiness terhadap inspecteur dari BPOM maupun badan regulasi internasional.

BACA JUGA  Tool Self Assesment Industri Farmasi

Kesimpulan

Pengambilan sampel bahan kemasan menurut ISO 2859 merupakan fondasi penting dalam sistem jaminan mutu industri farmasi. Dengan mengandalkan pendekatan statistik yang transparan dan terstandarisasi, perusahaan mampu mengurangi risiko kontaminasi, degradasi produk, hingga penarikan kembali obat dari pasaran. Kepatuhan terhadap standar internasional ini tidak hanya memenuhi kewajiban regulasi nasional maupun global, tetapi juga membangun kepercayaan pasar terhadap konsistensi kualitas dan keamanan produk farmasi yang dihasilkan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berlangganan Artikel

Berlangganan untuk mendapatkan artikel terbaru industri farmasi

Stay Connected

51FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
-

Artikel terkini