Daftar Isi
- SOP Tingkat Kualitas yang Dapat Diterima (AQL) untuk Inspeksi Visual dalam Industri Farmasi
- Tujuan dan Ruang Lingkup
- Tanggung Jawab dan Akuntabilitas
- Prosedur Pelaksanaan AQL
- Seleksi Wadah untuk Pengambilan Sampel AQL
- Pengambilan Sampel dan Kriteria Penerimaan
- Klasifikasi Cacat dan Standar Penerimaan
- Tabel Kode Huruf Ukuran Sampel dan Kriteria Penerimaan
- Referensi dan Standar yang Berlaku
1. SOP Tingkat Kualitas yang Dapat Diterima (AQL) untuk Inspeksi Visual dalam Industri Farmasi
Tingkat Kualitas yang Dapat Diterima (AQL) merupakan salah satu komponen penting dalam pengendalian mutu produk farmasi, khususnya pada tahap inspeksi visual produk jadi. Inspeksi visual bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang diproduksi memenuhi standar kualitas yang ditetapkan sebelum didistribusikan ke konsumen atau pasar. Dalam industri farmasi, AQL digunakan sebagai acuan statistik untuk menentukan apakah suatu batch produk dapat diterima atau tidak berdasarkan temuan cacat selama proses pemeriksaan visual.
AQL didefinisikan sebagai tingkat cacat terburuk yang masih dapat diterima secara rata-rata dalam suatu proses inspeksi. Konsep ini diadopsi dari standar internasional ISO 2859-1:1999 dan diterapkan secara luas dalam operasi manufaktur farmasi. Penggunaan AQL memungkinkan perusahaan farmasi untuk melakukan evaluasi kualitas produk secara sistematis dan objektif, sehingga pengambilan keputusan terhadap suatu batch produk menjadi lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pelaksanaannya, AQL diterapkan pada dua jenis produk utama, yaitu produk tablet (terutama tablet salut dan tablet tidak salut) serta produk injeksi. Setiap jenis produk memiliki karakteristik cacat yang berbeda-beda, sehingga parameter AQL harus disesuaikan dengan jenis produk dan risiko yang terkait.
2. Tujuan dan Ruang Lingkup
Tujuan:
Tujuan utama dari penetapan prosedur AQL ini adalah untuk menyusun pedoman yang komprehensif mengenai pelaksanaan pemeriksaan visual menggunakan metode Tingkat Kualitas yang Dapat Diterima (AQL). Prosedur ini dirancang untuk memastikan bahwa seluruh produk farmasi yang diproduksi telah melalui proses inspeksi visual yang terstandarisasi, sehingga kualitas produk dapat dijamin sesuai dengan persyaratan regulasi dan standar industri yang berlaku.
Prosedur AQL juga bertujuan untuk memberikan kerangka kerja yang jelas bagi tim quality assurance (QA) dalam menentukan luasnya pemeriksaan yang harus dilakukan terhadap suatu batch produk berdasarkan temuan selama proses inspeksi. Dengan adanya prosedur ini, setiap batch produk dapat dievaluasi secara konsisten tanpa memihak, sehingga mengurangi risiko produk cacat sampai ke tangan konsumen.
Ruang Lingkup:
Prosedur ini berlaku untuk seluruh proses inspeksi visual menggunakan metode AQL pada produk tablet dan injeksi yang diproduksi di fasilitas manufaktur farmasi. Ruang lingkup penerapan mencakup:
- Produk tablet salut (coated tablets) yang diproduksi dalam satu atau beberapa lot coating
- Produk tablet tidak salut (uncoated tablets)
- Produk injeksi dalam berbagai bentuk sediaan
- Produk semi-jadi dalam fase pengemasan komersial
Prosedur ini tidak berlaku untuk produk yang sedang dalam tahap validasi proses, yang mengikuti prosedur inspeksi visual 100% secara terpisah. Namun, hasil temuan dari validasi proses akan menjadi dasar rekomendasi untuk penerapan AQL pada produksi komersial.
3. Tanggung Jawab dan Akuntabilitas
Penyusunan SOP: Petugas (Officer) atau Petugas Senior (Senior Officer) dari departemen terkait bertanggung jawab atas penyusunan dokumen prosedur operasional standar ini. Penyusunan harus dilakukan dengan memperhatikan persyaratan regulasi yang berlaku dan standar industri farmasi.
Pemeriksaan dan Tinjauan: Eksekutif (Executive) atau Eksekutif Senior (Senior Executive) bertugas melakukan pemeriksaan dan tinjauan terhadap isi dokumen untuk memastikan ketepatan teknis dan kesesuaian dengan persyaratan yang berlaku.
Persetujuan SOP: Kepala Departemen (Head of Department) atau Asisten Manajer (Assistant Manager) memberikan persetujuan formal terhadap dokumen sebelum diberlakukan.
Otorisasi SOP: Kepala Quality Assurance (Head QA) atau perwakilannya yang ditunjuk secara resmi memberikan otorisasi final untuk penerapan prosedur ini di seluruh fasilitas manufaktur.
Akuntabilitas: Tanggung jawab atas implementasi dan kepatuhan terhadap prosedur ini sepenuhnya berada di bawah wewenang Kepala Departemen masing-masing. Setiap penyimpangan dari prosedur ini harus dilaporkan dan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur penanganan deviasi yang berlaku di perusahaan.
4. Prosedur Pelaksanaan AQL
Pemeriksaan visual menggunakan metode AQL dilakukan pada produk setengah jadi (semi-finished) untuk batch komersial tablet dan injeksi. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan oleh tim quality assurance (QA) di area produksi masing-masing, dengan pertimbangan temuan selama proses produksi.
Tim QA menentukan kebutuhan dan luasnya pemeriksaan terhadap batch yang sedang dievaluasi berdasarkan temuan di lapangan. Keputusan ini didokumentasikan secara lengkap dalam catatan pemeriksaan untuk keperluan audit dan jejak audit (audit trail). Dokumentasi yang memadai menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil dapat diverifikasi dan dipertanggungjawabkan.
Untuk batch yang sedang menjalani validasi proses, pemeriksaan visual 100% wajib dilakukan terhadap seluruh unit produk. Hasil pemeriksaan ini harus dicatat secara detail dalam rekaman batch (batch manufacturing record). Selama proses validasi, produk yang ditolak harus dipisahkan berdasarkan kategori cacat, yaitu kritis (critical), mayor (major), dan minor.
Jika tren hasil pemeriksaan visual selama validasi proses menunjukkan kinerja yang memuaskan, maka berdasarkan rekomendasi dalam laporan validasi, pengambilan sampel AQL dapat diterapkan pada produksi komersial. Transisi dari pemeriksaan 100% ke pemeriksaan AQL harus didukung oleh data validasi yang kuat dan disetujui oleh otoritas terkait.
5. Seleksi Wadah untuk Pengambilan Sampel AQL
Proses seleksi wadah untuk pengambilan sampel AQL dimulai ketika petugas produksi menyerahkan BMR (Batch Manufacturing Record) yang telah dilengkapi dan ditandatangani kepada tim QA untuk tinjauan. Petugas produksi juga harus memberitahukan kepada QA bahwa produk siap untuk pemeriksaan visual sesuai prosedur AQL.
Tim QA memastikan bahwa informasi yang tertera pada wadah produk, meliputi nama produk, nomor batch, dan tanggal manufaktur, telah sesuai dengan data yang tercatat dalam BMR. Setelah verifikasi identitas produk selesai, QA memilih wadah-wadah yang akan dijadikan sampel untuk pemeriksaan AQL.
Formula penentuan jumlah wadah sampel:
Jumlah total wadah yang harus diambil sampelnya ditentukan menggunakan rumus:
10 + √n + 1
Di mana “n” adalah jumlah total wadah per part lot (untuk tablet salut) atau per batch (untuk injeksi dan tablet tidak salut).
Ketentuan khusus:
- Jika jumlah total wadah kurang dari atau sama dengan 10 wadah, maka seluruh wadah harus diperiksa secara keseluruhan (100%)
- Jika jumlah total wadah lebih dari 10, maka 10 wadah pertama diperiksa 100%, sedangkan sisa wadah diambil sampelnya menggunakan formula √n + 1
- Jika hasil √n menghasilkan nilai desimal, pembulatan dilakukan ke angka bulat berikutnya
Contoh perhitungan 1: Jika jumlah wadah adalah 35, maka pemeriksaan AQL dilakukan pada 10 wadah (5 wadah pertama + 5 wadah terakhir) secara 100%. Untuk sisa 25 wadah, jumlah sampel yang diambil adalah √25 + 1 = 5 + 1 = 6 wadah. Jadi, total wadah yang diperiksa adalah 10 + 6 = 16 wadah.
Contoh perhitungan 2 (tablet salut dengan beberapa lot coating): Jika satu part lot berisi 28 wadah (misalnya coating dilakukan dalam dua lot), maka jumlah wadah yang diambil sampelnya adalah 10 + √18 + 1 = 10 + 4,24 + 1 = 15,24. Dibulatkan menjadi 16 wadah dari setiap lot.
Contoh perhitungan 3 (tablet tidak salut atau injeksi): Jika satu batch berisi 50 wadah, maka jumlah wadah yang diambil sampelnya adalah 10 + √40 + 1 = 10 + 6,32 + 1 = 17,32. Dibulatkan menjadi 18 wadah dari seluruh batch.
6. Pengambilan Sampel dan Kriteria Penerimaan
Sampel diambil dari setiap wadah yang telah dipilih dengan jumlah yang sama rata. Setiap sampel diletakkan dalam kantong plastik berlabel yang telah disiapkan sebelumnya. Proses pengambilan sampel harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah kontaminasi silang dan memastikan representativitas sampel terhadap seluruh batch produk.
Seluruh sampel yang telah dikumpulkan diperiksa satu per satu pada troli inspeksi visual (inspection trolley) untuk memastikan bahwa setiap unit produk memenuhi atribut kualitas yang ditetapkan dalam prosedur AQL. Pemeriksaan mencakup aspek fisik produk seperti ukuran, warna, bentuk, keutuhan sediaan, serta integritas kemasan.
Contoh penghitungan jumlah sampel:
Untuk tablet tidak salut atau kapsul, jika kebutuhan jumlah sampel AQL adalah 1.250 unit dan jumlah wadah yang diambil sampelnya adalah 9, maka dari setiap wadah diambil 1.250/9 = 138,9 yang dibulatkan menjadi 139 sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara menghitung manual jumlah unit yang diambil dari setiap wadah dan menggabungkannya menjadi sampel komposit sebanyak 1.250 unit.
Untuk tablet salut, jika coating dilakukan dalam dua lot dengan ukuran lot masing-masing 500.000 unit, maka dari setiap part lot diambil 800 tablet salut. Jika pengambilan sampel dilakukan dari 5 wadah, maka dari setiap wadah diambil 800/5 = 160 tablet salut.
Untuk keperluan perhitungan AQL, berat rata-rata tablet digunakan sebagai berat standar pengambilan sampel. Hal ini memudahkan proses pengambilan sampel tanpa perlu menghitung satu per satu setiap unit produk secara manual.
7. Klasifikasi Cacat dan Standar Penerimaan
Cacat yang ditemukan selama pemeriksaan visual diklasifikasikan ke dalam tiga kategori berdasarkan tingkat keparahan dampaknya terhadap produk dan konsumen. Klasifikasi ini menjadi dasar penentuan kriteria penerimaan AQL.
| Kategori Cacat | Definisi | AQL |
|---|---|---|
| Kritis (Critical) | Cacat yang dapat membahayakan keamanan, kemurnian, atau identitas produk sehingga dapat membahayakan konsumen | 0,1% |
| Mayor (Major) | Cacat yang mengganggu integritas atau fungsi kemasan produk | 1,5% |
| Minor | Cacat yang tidak mempengaruhi keamanan, kemurnian, identitas produk, maupun integritas dan fungsi kemasan | 2,5% |
Kriteria penerimaan yang ketat pada kategori kritis (0,1%) mencerminkan komitmen industri farmasi terhadap keamanan konsumen. Bahkan satu unit produk dengan cacat kritis dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan pasien, sehingga threshold penerimaan untuk kategori ini ditetapkan sangat rendah.
8. Tabel Kode Huruf Ukuran Sampel dan Kriteria Penerimaan
Jumlah sampel yang harus diambil dan batas jumlah cacat yang dapat diterima ditentukan berdasarkan tabel kode huruf ukuran sampel berikut. Tabel ini mengacu pada standar ISO 2859-1:1999 yang diterapkan dalam industri farmasi.
| Kode Huruf | Jumlah Total untuk Sampel | Jumlah Sampel | Kritis (0,1%) | Mayor (1,5%) | Minor (2,5%) | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Terima | Tolak | Terima | Tolak | Terima | Tolak | |||
| A | 02-08 | 2 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 |
| B | 09-15 | 3 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 |
| C | 16-25 | 5 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 |
| D | 26-50 | 8 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 |
| E | 51-90 | 13 | 0 | 1 | 0 | 1 | 1 | 2 |
| F | 91-150 | 20 | 0 | 1 | 1 | 2 | 1 | 2 |
| G | 151-280 | 32 | 0 | 1 | 1 | 2 | 2 | 3 |
| H | 281-500 | 50 | 0 | 1 | 2 | 3 | 3 | 4 |
| J | 501-1200 | 80 | 0 | 1 | 3 | 4 | 5 | 6 |
| K | 1201-3200 | 125 | 0 | 1 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| L | 3201-10000 | 200 | 0 | 1 | 7 | 8 | 10 | 11 |
| M | 10001-35000 | 315 | 0 | 1 | 10 | 11 | 14 | 15 |
| N | 35001-150000 | 500 | 0 | 1 | 14 | 15 | 21 | 22 |
| P | 150001-500000 | 800 | 0 | 1 | 21 | 22 | 21 | 22 |
| Q | 500001 ke atas | 1250 | 0 | 1 | 21 | 22 | 21 | 22 |
Cara membaca tabel: Kolom “Terima” menunjukkan jumlah cacat maksimum yang masih dapat diterima pada jumlah sampel tertentu. Kolom “Tolak” menunjukkan jumlah cacat yang menyebabkan batch atau part lot harus ditolak dan menjalani pemeriksaan 100%.
Catatan Penting: Jika batch atau part lot tidak memenuhi kriteria penerimaan AQL, maka seluruh batch atau part lot tersebut harus menjalani pemeriksaan 100% untuk memastikan bahwa hanya produk yang memenuhi standar kualitas yang didistribusikan ke pasar. Pemeriksaan 100% ini harus didokumentasikan secara lengkap dan hasilnya dilaporkan dalam laporan batch.
Penerapan AQL dalam pemeriksaan visual merupakan bagian integral dari sistem pengendalian mutu di industri farmasi. Dengan mengikuti prosedur AQL secara konsisten, perusahaan dapat memastikan bahwa produk yang sampai ke tangan konsumen telah melalui pemeriksaan yang ketat dan sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan oleh regulasi farmasi yang berlaku.
9. Referensi dan Standar yang Berlaku
- ISO 2859-1:1999 – Sampling procedures for inspection by attributes – Part 1: Sampling schemes indexed by acceptance quality limit (AQL) for lot-by-lot inspection
- Pedoman CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang berlaku di Indonesia
- Standar Farmakope Indonesia edisi terbaru
- Pedoman ICH Q7 – Good Manufacturing Practice Guide for Active Pharmaceutical Ingredients
Penerapan AQL yang tepat memerlukan pemahaman mendalam tentang karakteristik produk, risiko yang terkait, serta kemampuan proses manufaktur. Tim quality assurance harus terus memantau tren hasil pemeriksaan visual dan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas program AQL yang diterapkan di fasilitas manufaktur.


