Pengelolaan Stempel di Departemen Quality Assurance: Prosedur Lengkap yang Harus Diketahui

Pengelolaan Stempel di Departemen Quality Assurance: Prosedur Lengkap yang Harus Diketahui

Stempel. Sepele? Jangan salah. Di departemen Quality Assurance pabrik farmasi, stempel adalah salah satu alat kontrol dokumen yang paling krusial. Stempel “Master Copy,” “Controlled Copy,” “Uncontrolled Copy,” dan sejenisnya menentukan status dokumen — apakah dokumen itu resmi, terkontrol, atau hanya untuk referensi. Kalau pengelolaannya sembrono, bisa berakibat fatal.

Pernah suatu kali saya menemukan situasi di mana stempel Master Copy ternyata digunakan oleh orang yang tidak berwenang untuk menempelkan status pada dokumen yang belum disetujui. Beruntung ketahuan sebelum dokumen itu diedarkan. Sejak saat itu, saya makin paham betapa pentingnya kontrol stempel yang ketat.

Dalam dunia farmasi yang diatur ketat oleh BPOM dan standar internasional seperti PIC/S, setiap dokumen harus memiliki status yang jelas. Stempel berfungsi sebagai penanda visual yang langsung memberi tahu siapa pun yang memegang dokumen tersebut — apakah ini salinan resmi yang bisa dijadikan acuan, atau hanya salinan untuk baca saja. Tanpa sistem stempel yang terorganisir, kebingungan bisa muncul kapan saja.

Tujuan dan Ruang Lingkup

Prosedur ini dibuat untuk mengatur penggunaan, penyimpanan, pemberian nomor, dan pemusnahan stempel di departemen Quality Assurance. SOP ini berlaku untuk seluruh pabrik formulasi — tanpa terkecuali. Baik pabrik yang memproduksi produk generik maupun produk dengan lisensi kontrak, semua harus mengikuti prosedur ini.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Petugas QA (Officer/Executive) bertanggung jawab untuk menjalankan prosedur ini di lapangan. Mereka adalah eksekutor yang memastikan setiap langkah diikuti dengan benar. Kepala QA atau yang ditunjuk memastikan bahwa semua ketentuan dalam SOP ini dipatuhi secara konsisten. Kepala QA juga harus memastikan setiap petugas baru mendapat orientasi tentang pengelolaan stempel.

Jenis-Jenis Stempel

Sebelum masuk ke prosedur, penting untuk memahami jenis-jenis stempel yang digunakan:

Master Copy. Ini adalah set dokumen atau prosedur tertulis yang merupakan salinan asli. Master Copy disimpan di Documentation Cell departemen QA dan dilengkapi stempel “MASTER COPY.” Dokumen ini tidak boleh diubah atau didistribusikan tanpa izin. Master Copy hanya boleh diakses oleh petugas documentation yang berwenang.

Controlled Copy. Fotokopi dari Master Copy yang didistribusikan ke departemen pengguna sebagai bagian dari prosedur distribusi dokumen. Controlled Copy dilengkapi stempel “Controlled Copy No.____” dan tanda tangan pihak terkait. Dokumen ini merupakan dokumen terkontrol dan bisa dilacak ketika sudah tidak berlaku (superseded). Ketika ada revisi, Controlled Copy yang lama harus dikembalikan dan dimusnahkan.

Uncontrolled Copy. Fotokopi yang diberikan untuk referensi saja. Dokumen ini bukan dokumen terkontrol sehingga tidak bisa dilacak. Biasanya diberikan kepada pihak eksternal atau departemen yang tidak memerlukan versi terbaru. Uncontrolled Copy biasanya ditandai dengan stempel “UNCONTROLLED — FOR REFERENCE ONLY.”

Obsolete Copy. Dokumen yang sudah tidak berlaku dan harus ditarik dari peredaran. Sering kali masih ditemukan di beberapa departemen karena prosedur penarikan yang tidak berjalan lancar.

Reference Copy. Salinan yang diberikan untuk keperluan referensi internal. Berbeda dengan Uncontrolled Copy yang bisa diberikan ke pihak eksternal, Reference Copy biasanya tetap berada di dalam organisasi.

Prosedur Pengelolaan Stempel

Petugas QA bertanggung jawab atas seluruh stempel yang ada di departemen. Pemesanan stempel dilakukan melalui email, fax, atau dokumen tertulis ke departemen Administrasi setelah mendapat persetujuan dari Kepala QA. Proses pemesanan ini harus terdokumentasi — jangan hanya lewat lisan.

Saat stempel diterima, jumlahnya harus tercatat dengan lengkap beserta tanggal penerimaan. Setiap stempel diberi nomor urut — 01, 02, 03, dan seterusnya. Contoh: kalau ada tiga stempel Master Copy, maka penomorannya adalah “Master Copy No-01,” “Master Copy No-02,” dan “Master Copy No-03.” Penomoran ini penting untuk pelacakan — kalau ada masalah, kita tahu stempel mana yang terlibat.

Kalau ada kesalahan pada stempel — misalnya ejaan yang salah — stempel tersebut harus dikembalikan ke pemasok dengan catatan koreksi. Jangan pernah menggunakan stempel yang salah karena bisa membingungkan pengguna dokumen. Beberapa pabrik pernah mengalami kejadian di mana stempel dengan ejaan salah digunakan untuk dokumen resmi — tentu saja ini menjadi temuan saat audit.

Warna dan penggunaan stempel harus sesuai dengan SOP masing-masing. Misalnya, stempel Master Copy menggunakan tinta biru, Controlled Copy menggunakan tinta hijau, dan sebagainya. Konsistensi warna memudahkan identifikasi visual tanpa harus membaca tulisan pada stempel.

Referensi untuk Master Copy, Controlled Copy, Uncontrolled Copy, Obsolete Copy, Reference Copy, dan Review Stamps sudah diatur dalam SOP terpisah. Pastikan setiap petugas mengetahui standar warna dan penggunaannya.

Penggunaan Stempel

Stempel penerbitan (issuance stamp) harus ditempelkan pada setiap formulir yang dikeluarkan ke departemen terkait dan pada setiap BMR (Batch Manufacturing Record) yang dikeluarkan ke departemen Produksi. Ini penting untuk melacak alur dokumen dan memastikan tidak ada dokumen yang beredar tanpa jejak.

Semua stempel harus ditandai dengan nama dan nomor yang jelas agar mudah dilacak dan tidak menimbulkan kebingungan. Setelah jam kerja selesai, petugas QA harus menyimpan semua stempel di lemari kunci. Prinsipnya: stempel tidak boleh ditinggal begitu saja di meja atau di area produksi.

Setiap jenis stempel disimpan dalam polybag terpisah berdasarkan kategorinya — Master, Controlled, dan lain-lain — lalu diletakkan dalam laci terpisah yang terkunci. Dalam satu waktu, hanya satu stempel dari setiap jenis yang boleh digunakan. Setelah dipakai, stempel harus segera dikembalikan ke polybag masing-masing dan disimpan di tempat yang aman.

Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi percayalah — pengelolaan stempel yang sembarangan pernah menjadi masalah serius di beberapa pabrik. Ada kasus di mana stempel yang tidak terkontrol digunakan untuk menyetujui dokumen yang belum diverifikasi. Akibatnya, dokumen yang seharusnya tidak beredar justru sampai ke production floor dan digunakan sebagai acuan operasional.

Pemusnahan Stempel

Ketika stempel sudah tidak bisa digunakan lagi — misalnya karena rusak atau sudah tidak relevan — petugas QA harus memusnahkannya dengan cara memotong bagian karet stempel menjadi beberapa bagian kecil. Tujuannya sederhana: mencegah penyalahgunaan. Stempel yang sudah dipotong tidak bisa dipakai lagi. Jangan sekadar membuang stempel ke tempat sampah — ada risiko stempel itu diambil dan disalahgunakan.

Setiap pemusnahan harus dicatat dalam stempel destruction record. Begitu juga dengan setiap penerbitan stempel — harus ada issuance record-nya. Catatan ini harus memuat tanggal, jenis stempel, nomor, alasan pemusnahan, dan nama petugas yang melakukan pemusnahan.

Cek Berkala

Petugas QA harus melakukan pengecekan berkala terhadap all stempel. Cek ejaan, cek kondisi fisik, pastikan tidak ada yang hilang atau rusak. Kalau ada stempel yang mencurigakan — misalnya terlihat bekas dipakai tapi tidak ada catatan penerbitan — segera investigasi. Pengecekan ini bisa dilakukan secara bulanan atau sesuai interval yang ditetapkan dalam prosedur.

Hasil pengecekan harus didokumentasikan dalam form inventarisasi stempel. Ini menjadi bukti bahwa departemen QA menjaga kontrol atas aset dokumennya dengan baik.

Pelajaran dari Lapangan

Berdasarkan pengalaman, berikut beberapa hal yang sering dilupakan:

  • Lupa memperbarui jumlah stempel ketika ada penambahan atau pengurangan
  • Tidak ada inventarisasi berkala sehingga stempel yang hilang tidak terdeteksi
  • Stempel yang sudah rusak masih disimpan bersama stempel aktif
  • Petugas baru tidak diberi pelatihan tentang pengelolaan stempel
  • Catatan pemusnahan stempel tidak dilengkapi dengan foto bukti
  • Lupa mengembalikan Controlled Copy yang sudah tidak berlaku saat ada revisi

Yang terpenting, pengelolaan stempel ini bukan tentang birokrasi semata. Ini tentang menjaga integritas dokumen. Di dunia farmasi, dokumen adalah bukti — dan stempel adalah salah satu penanda keaslian dokumen itu. Kalau stempel bisa disalahgunakan, maka integritas dokumen juga terancam.

Jadi, mulailah memperlakukan stempel dengan serius. Karena sekecil apapun alat yang kita gunakan, kalau tidak dikelola dengan benar, dampaknya bisa sangat besar. Investasikan waktu untuk melatih tim QA tentang pentingnya prosedur ini — karena satu stempel yang salah bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk investigasi dan koreksi.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berlangganan Artikel

Berlangganan untuk mendapatkan artikel terbaru industri farmasi

Stay Connected

51FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
-

Artikel terkini