Uji Produk In-Process dan Produk Jadi: Strategi Pengujian yang Efisien di Pabrik Farmasi
Bayangkan Anda sedang mengelola sebuah pabrik farmasi yang memproduksi puluhan batch obat setiap bulannya. Setiap batch melewati berbagai tahapan produksi — dari pencampuran bahan baku, granulasi, pemadatan, hingga menjadi tablet siap dikemas. Di setiap tahapan ini, Anda perlu memastikan bahwa parameter kualitas produk tetap terkendali. Tapi, apakah Anda harus melakukan pengujian lengkap di setiap tahap untuk setiap batch? Tentu saja tidak. Itu akan memakan waktu, biaya, dan sumber daya yang tidak sedikit.
Inilah mengapa diperlukan strategi pengujian yang efisien — menguji secara lengkap di tahap awal, kemudian mengurangi frekuensi pengujian seiring berjalannya waktu jika data tren menunjukkan bahwa produk konsisten memenuhi spesifikasi. Strategi ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga memastikan kualitas produk tetap terjaga tanpa mengorbankan keamanan pasien.
Tujuan Prosedur
Prosedur ini ditujukan untuk menetapkan kerangka kerja dalam pengujian produk in-process dan produk jadi di pabrik formulasi. Pengujian ini mencakup pengambilan sampel dan pengujian laboratorium terhadap parameter-parameter kualitas yang ditetapkan dalam spesifikasi dan prosedur uji standar (STP). Yang menarik dari prosedur ini adalah pendekatan bertahap yang diterapkan, di mana intensitas pengujian disesuaikan berdasarkan data tren kualitas produk.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Ada beberapa pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pengujian ini:
- Petugas IPQA (In-Process Quality Assurance) — bertanggung jawab atas pengambilan sampel produk in-process maupun produk jadi. Mereka yang paling dekat dengan lini produksi dan memahami kapan momen pengambilan sampel yang tepat.
- Petugas atau Eksekutif QC — bertanggung jawab melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel yang sudah diambil. Mereka menjalankan analisis sesuai spesifikasi dan STP yang berlaku.
- Analis QC — bertanggung jawab menyiapkan laporan analisis tren untuk produk. Laporan ini menjadi dasar pengambilan keputusan mengenai strategi pengujian batch selanjutnya.
- Kepala QA/QC atau wakilnya — bertanggung jawab meninjau tren produk, mengimplementasikan prosedur ini, dan memastikan kepatuhan seluruh pihak.
Konsep Pengujian In-Process Bertahap
Pengujian in-process dilakukan secara bertahap sesuai tahapan produksi. Berikut adalah tahapan yang dikenal dalam pengujian ini:
- Tahap S1 — granulat, larutan bulk, atau medicament. Ini adalah tahap awal di mana bahan-bahan sudah dicampur namun belum menjadi bentuk sediaan final.
- Tahap S2 — tablet belum dilapisi (uncoated), atau tahap siap kemas untuk kapsul atau sediaan lain yang belum melalui proses pelapisan.
- Tahap S3 — tablet sudah dilapisi (coated), atau tahap siap kemas untuk sediaan yang sudah melalui proses pelapisan.
Pengujian di tahap S1 memastikan bahwa pencampuran bahan baku sudah dilakukan dengan benar. Pengujian di tahap S2 memastikan bahwa proses pemadatan atau pencapsulan menghasilkan produk dengan karakteristik yang sesuai. Pengujian di tahap S3 memastikan bahwa proses pelapisan dan proses akhir lainnya tidak mengubah kualitas produk secara signifikan.
Pengujian Awal: Batch Pertama yang Harus Lengkap
Untuk sediaan padat (tablet), sepuluh batch pertama harus diuji secara lengkap di semua tahap. Pengujian lengkap ini mencakup seluruh parameter yang tercantum dalam spesifikasi dan STP, baik di tahap in-process maupun di tahap produk jadi (minimal lima batch di tahap produk jadi). Hasil pengujian ini kemudian dianalisis untuk membuat data tren.
Untuk sediaan cair atau semi padat, dua puluh batch pertama harus diuji secara lengkap di semua tahap. Angka yang lebih besar ini diperlukan karena karakteristik sediaan cair dan semi padat lebih rentan terhadap variasi proses dibandingkan sediaan padat. Selain itu, semua batch sediaan cair dan semi padat wajib menjalani pengujian mikrobiologi sesuai prosedur uji umum (GTP) yang berlaku.
Proses Analisis Tren
Setelah data pengujian lengkap terkumpul dari batch-batch awal, petugas QC menyiapkan laporan analisis tren. Laporan ini menunjukkan pola hasil pengujian dari waktu ke waktu — apakah konsisten, meningkat, menurun, atau menunjukkan fluktuasi yang signifikan pada parameter tertentu.
Laporan tren ini kemudian dikirimkan ke departemen QA beserta data pendukungnya. QA akan melakukan evaluasi komparatif di berbagai tahapan produksi. Tujuannya adalah menentukan apakah pengujian di tahap-tahap tertentu bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan untuk batch-batch selanjutnya.
Keputusan Berdasarkan Tren
Jika tren menunjukkan hasil yang memuaskan — artinya parameter kualitas konsisten memenuhi spesifikasi — maka beberapa langkah bisa diambil:
- Pengujian di tahap S1, S2, dan/atau tahap siap kemas untuk batch-batch selanjutnya bisa dihilangkan
- Laporan sertifikat analisis (COA) produk jadi untuk pelepasan batch disiapkan berdasarkan temuan analitis dari pengujian tahap siap kemas
- Petugas QA menyiapkan atau memodifikasi daftar pengujian berdasarkan tren yang dilaporkan oleh QC, lalu memberitahukan petugas IPQA tentang rencana pengambilan sampel yang direvisi
Namun, jika tren menunjukkan hasil yang tidak memuaskan pada parameter kualitas kritis, QA akan melakukan investigasi terhadap data yang di luar tren (out-of-trend). Investigasi ini melibatkan perwakilan dari berbagai departemen — QC, Produksi, dan Gudang. Pengujian di tahap produk jadi akan tetap dilanjutkan untuk parameter-parameter kritis tersebut sampai hasilnya memuaskan.
Pengujian Berkala: Setiap Batch ke-10
Meskipun pengujian di tahap-tahap awal sudah bisa dikurangi, pengujian lengkap tetap dilakukan secara berkala. Setiap batch ke-10 harus menjalani pengujian lengkap di semua tahap, baik untuk parameter fisika-kimia maupun mikrobiologi.
Contohnya: jika dalam tahun fiskal April 2025 sampai Maret 2026, pabrik memproduksi 114 batch tablet Paracetamol, maka batch yang harus diuji secara lengkap adalah batch 01 sampai 10, lalu batch 20, 30, 40, dan seterusnya sampai batch 90. Pola ini memastikan bahwa kualitas produk tetap dipantau secara berkala meskipun frekuensi pengujian sudah dikurangi.
Selain itu, batch pertama atau lot pertama dari setiap produk di tahun fiskal baru juga harus menjalani pengujian lengkap. Ini menjadi semacam “reset” untuk memastikan bahwa kondisi awal tahun baru tidak membawa perubahan yang tidak terdeteksi.
Kasus Khusus: Deviasi dan OOS
Tidak ada yang namanya “pasti aman” di industri farmasi. Jika selama produksi batch tertentu terjadi deviasi proses atau investigasi OOS (Out of Specification), keputusan mengenai pengujian batch di tahap produk jadi menjadi kewenangan departemen QA. QA akan menggunakan logika saintifik untuk menentukan apakah batch yang seharusnya tidak diuji di tahap produk jadi perlu diuji atau tidak.
Perlu diingat juga bahwa pada tahap mana pun, Kepala QA atau wakilnya bisa memerintahkan pengujian lengkap terhadap batch tertentu. Fleksibilitas ini penting karena ada situasi di lapangan yang tidak bisa diprediksi oleh prosedur baku — misalnya, adanya keluhan dari konsumen, temuan anomali di lini produksi, atau perubahan kondisi lingkungan yang mempengaruhi proses.
Pengujian untuk Berbagai Kemasan
Dalam banyak kasus, satu batch produk dikemas dalam beberapa bentuk kemasan — misalnya kemasan sales pack dan kemasan physician pack, atau untuk berbagai pasar ekspor. Dalam situasi ini, pengujian hanya dilakukan satu kali, yaitu pada satu ukuran kemasan. Kecuali jika spesifikasi atau STP untuk tipe kemasan tertentu memiliki parameter pengujian yang berbeda.
Filsafat pengujian di tahap produk jadi adalah per-batch, bukan per-tipe-kemasan. Artinya, kualitas produk sudah terbukti pada batch tersebut, dan perbedaan kemasan tidak mempengaruhi kualitas obat di dalamnya. Pendekatan ini menghemat waktu dan biaya pengujian tanpa mengorbankan keamanan produk.
Volume yang Bisa Dituangkan
Untuk produk cair, penentuan volume yang bisa dituang (deliverable volume) dilakukan oleh petugas IPQA. Hasil pengukuran ini kemudian dikirimkan ke departemen QC untuk dimasukkan ke dalam COA produk jadi. Hal ini penting karena volume yang tidak sesuai bisa mempengaruhi dosis obat yang diterima oleh pasien, yang pada gilirannya mempengaruhi efektivitas terapi.
Kesimpulan
Pengujian produk in-process dan produk jadi merupakan salah satu pilar utama pengendalian kualitas di pabrik farmasi. Dengan pendekatan bertahap yang didasarkan pada data tren, pabrik bisa mengoptimalkan penggunaan sumber daya laboratorium tanpa mengorbankan jaminan kualitas. Kunci dari pendekatan ini adalah konsistensi dalam pengumpulan data, ketelitian dalam analisis tren, dan keberanian QA untuk mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data yang tersedia.
Di era regulasi yang makin ketat, pabrik farmasi tidak bisa lagi mengandalkan pengujian produk jadi semata. Pengendalian di tahap in-process menjadi sama pentingnya — bahkan bisa dibilang lebih penting, karena memberikan kesempatan untuk mengoreksi masalah sebelum produk menjadi barang jadi yang sulit untuk diperbaiki. Dengan prosedur pengujian yang baik, pabrik tidak hanya memenuhi standar regulasi, tetapi juga membangun reputasi yang kuat di pasar farmasi Indonesia.


