SEBERAPA MANJUR VAKSIN COVID-19?

Berikut tulisan Prof. Zullies Ikawati.,Apt (Guru Besar Fakultas Farmasi UGM) yang juga seorang ahli farmakologi menuliskan arti efikasi vaksin:

Dengan adanya rencana Pemerintah utk melaksanakan program vaksinasi Covid secara bertahap menggunakan vaksin dari SINOVAC, banyak pertanyaan muncul terkait dengan efikasi/kemanjuran dan efektivitasnya. Efikasi dan efektivitas adalah dua istilah yang mirip dan sering dipertukarkan, tapi sebenarnya punya mana berbeda.

Efikasi/kemanjuran adalah kemampuan suatu vaksin dalam mencegah penyakit dalam keadaan ideal dan terkontrol, dengan membandingkan kelompok yang divaksin dengan kelompok tidak divaksin/placebo. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan hasil uji klinik vaksin. Sedangkan istilah efektivitas adalah mengacu pada seberapa baik kinerja vaksin di dunia nyata, setelah digunakan oleh masyarakat luas. Efikasi yang tinggi pada uji klinik tidak selalu menghasilkan efektivitas yang sama setelah digunakan di dunia nyata, karena banyak kondisi yang tidak selalu bisa terkontrol seperti pada suatu uji klinik.

Hasil uji klinik menunjukkan bahwa vaksin Covid Moderna memiliki efikasi 94,5%, Pfizer 90%, sedangkan Astra Zeneca 70%. Sementara uji klinik vaksin Sinovac di Turki melaporkan efikasi sebesar 91% dan di Brazil 78%. Di Indonesia sampai saat tulisan ini dibuat belum ada informasinya. (hasil uji vaksin Sinovac di Indonesia dapat dibaca disini : APA ARTINYA EFIKASI VAKSIN 65,3 % ?)

Catatan: angka-angka ini masih sementara, diambil dari beberapa sumber berita, dan dari uji klinik di tempat berbeda bisa menghasilkan angka yang berbeda. APA ARTINYA EFIKASI 90% ?Vaksin dengan efikasi atau kemanjuran 90% dalam uji klinik berarti terjadi penurunan 90% kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi (atau plasebo). Efikasi 90 % masih memungkinkan ada 10% subyek yang tetap terinfeksi Covid walaupun sudah divaksin. Hal ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya risiko paparan, pemenuhan protokol kesehatan, kondisi kesehatan individual subyek, dll. Sampai saat ini belum ada vaksin yg dapat mencegah penyakit hingga 100%. Namun demikian, untuk memperoleh suatu approval, beberapa badan otoritas seperti EMA (BPOMnya Eropa) dan FDA di Amerika menetapkan efikasi minimal 50% sudah cukup.

BACA JUGA  Download CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) 2018 Terbaru
BACA JUGA  Perbedaan Tekanan Udara Ruang Produksi Farmasi

Yang lebih diutamakan adalah keseimbangan antara kemanjuran dan keamanannya. Jadi, walaupun sangat manjur, tetapi jika efek sampingnya banyak dan berbahaya, maka tidak akan disetujui. Sebaliknya, dengan efikasi 60% saja, tetap bisa disetujui jika dapat menunjukkan profil keamanan yang baik. Studi efikasi suatu vaksin perlu dilanjutkan sampai 1-2 tahun setelah digunakan. Sedangkan untuk keamanan, uji klinik harus melaporkan semua efek samping yg terjadi dalam 4 – 6 minggu pasca vaksinasi untuk proses approval pada badan otoritas. BAGAIMANA DENGAN SINOVAC?Sampai saat ini belum ada informasi mengenai efikasi vaksin SINOVAC dari hasil uji klinik di Indonesia, karena datanya masih dikumpulkan sampai pertengahan Januari 2021. Tetapi, vaksin tidak selalu harus memiliki keefektifan yang sangat tinggi agar dapat bermanfaat, misalnya vaksin influenza memiliki efikasi/kemanjuran 50-60%, namun telah menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun. Jadi tidak perlu berharap efikasi sampai 90% untuk bisa digunakan pada populasi. Yang penting aman dulu. Karena itu, harus tetap jaga protokol kesehatan walaupun sudah divaksin.

Tidak ada vaksin yang 100% ampuh, apalagi kemampuan tubuh menghasilkan kekebalan pada setiap orang sangat bervariasi. Yang perlu dipertimbangkan juga adalah ketersediaan dan kemudahan penyimpanan vaksin sebelum digunakan. Keunggulan vaksin Sinovac dibandingkan vaksin Pfizer misalnya, adalah kemudahan penyimpanannya yang bisa pada suhu 2-8 derajat. Ini bukan hal sepele. Walaupun vaksin Pfizer dikatakan efektif 90%, tetapi ketika di Indonesia tidak didistribusikan dan disimpan dengan benar (-70 derajat), maka vaksin akan rusak dan tidak akan berefek juga. Distribusi dan penyimpanan pada suhu minus memerlukan fasilitas yang memadai dan tidak murah.Demikian sekedar sharing idea. Mohon maaf, memang sedang concern dengan vaksin Covid yang sedang menjadi pembicaraan di mana-mana.

BACA JUGA  CARA MEMBACA CPOB (CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK) BAGIAN 2
BACA JUGA  Praktek Minitab untuk Perhitungan Kapabilitas Proses

Herd immunity akan lebih sulit tercapai jika masih banyak yang menolak vaksinasi tanpa dasar yang jelas, apalagi didasari dengan kebencian pada kelompok tertentu, keyakinan terhadap informasi yang salah, dsb. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan atau ada yg salah. Wallahu a’lam bisawab… Note: Saya bukan agen pemerintah, bukan kepanjangan tangan SINOVAC, tidak dapat apa-apa dari pembelian SINOVAC 🙂Saya hanya rakyat biasa yg mencoba menyuarakan pemikiran karena keprihatinan menghadapi pandemi COVID-19 yg entah kapan berakhirnya jika tidak ada upaya bersama.

Sumber Tulisan diatas adalah dari Laman Facebook Prof. Zullies Ikawati

374e38b7fc013a64f5b60b6a3cfe8a35?s=96&d=identicon&r=g
https://farmasiindustri.com
M. Fithrul Mubarok, M.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia. Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri. Email: fithrul.mubarok23@gmail.com WhatsApp/WA: 0856 4341 6332

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA  Download CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) 2018 Terbaru
-

Berlangganan Artikel

Berlangganan untuk mendapatkan artikel terbaru industri farmasi

TETAP TERHUBUNG

51FansLike
FollowersFollow
SubscribersSubscribe

PALING BANYAK DIBACA