HUMIRA : (CALON) PENAKLUK “SANG LEGENDA”, PENEMUNYA DIGANJAR HADIAH NOBEL (BAGIAN PERTAMA)

Berikut tulisan Bambang Priyambodo mengenai Obat HUMIRA

Teman – teman tentu masih ingat postingan saya beberapa waktu yang lalu tentang kisah perjalanan panjang sebuah produk yang hingga sekarang masih menjadi “legenda”, yaitu LIPITOR. Kisah yang sangat luar biasa, bagaimana seorang anak muda yang bernama Dr. Bruce D. Roth, yang baru berusia 32 tahun, mampu membuat sebuah produk yang kemudian “mengguncangkan” dunia kefarmasian dan mampu merobohkan “raksasa” farmasi dunia dengan sebuah produk yang hampir saja akan dibuang di tempat sampah. Bahkan oleh Majalah Forbes, LIPITOR – Sang Legenda – ini “ditasbihkan” sebagai “Obat Terlaris Sepanjang Masa” di mana hingga tahun 2016, penjualan Lipitor mencapai lebih dari $ 150 Milyard (lebih dari Rp. 2.250 Trilyun) yang diperkirakan akan sangat sulit untuk disaingi oleh produk manapun dalam jangka waktu yang lama.

Namun, saat ini “tahta” sang legenda tengah mendapatkan ancaman serius oleh sebuah produk yang juga tidak kalah luar-biasanya. Perjalanan “Sang Penakluk” ini pun tak kalah menariknya. Dari sebuah laboratorium, seorang ilmuwan yang mendedikasikan seluruh perjalanan hidupnya dalam bidang Biokimia, ternyata mampu menaklukan buasnya “rimba belantara” dunia industri farmasi yang terkenal sangat kejam dan tanpa ampun ini. Produk yang mulai diuji klinis pada tahun 1999 dan mulai dipasarkan pada tahun 2003 ini, hanya dalam waktu 2 tahun, sudah mencetak rekor penjualan senilai lebih dari $ 1 Miliar (lebih dari Rp. 15 trilyun)/tahun. Selama 7 tahun berturut-turut, sejak tahun 2012 hingga saat ini, menjadi produk dengan penjualan nomor 1 di seluruh dunia. Dan puncak dari segalanya, produk yang berhasil ditemukan oleh pria yang mendapat gelar kehormatan “Sir” dari Ratu Inggris pada tahun 2004 ini adalah HADIAH NOBEL dalam bidang Kimia pada tahun 2018, yang diumumkan pada tanggal 3 Oktober lalu dan akan dianugerahkan pada tanggal 10 Desember nanti oleh Raja Carl XVI Gustaf di Stockholm – Swedia, atas “karya besarnya” bagi umat manusia… Sungguh sangat luar biasa…

Dan, inilah kisah dari seorang pria yang bernama lengkap SIR GREGORY PAUL WINTER yang lahir pada tanggal 14 April 1951 di Leicester, Inggris dan hasil karyanya yang fenomenal, HUMIRA…

ANTIBODY MONOCLONAL NAN FENOMENAL

“HUMIRA” diambil dari “akronim”, (HU)man (M)onoclonal antibody (I)n (R)heumatoid (A)rthritis, yang apabila huruf-huruf dalam tanda () digabungkan, akan terbaca “HUMIRA”, merupakan Human Antibody PERTAMA di dunia dan SATU-SATUNYA obat yang memiliki 10 (baca : Sepuluh) indikasi penyakit yang disetujui oleh FDA…

Sebelum kita “mengulik” lebih jauh soal HUMIRA dan berbagai kisah yang menyertai perjalanan produk yang fenomenal ini, ada baiknya kita “berkenalan” dulu dengan salah satu “tonggak sejarah” dalam revolusi industri farmasi dunia beberapa tahun belakangan ini yaitu, Monoclonal Antibody (bahasa Indonesia: Antibodi Monoklonal).

Kalau diperhatikan obat-obat TERLARIS dalam beberapa tahun terakhir ini (lihat gambar), kebanyakan adalah obat dengan nama generik yang berakhiran – MAB, yang artinya itu adalah obat golongan Monoclonal AntiBody (MAB). Bahkan 5 dari 7 obat terlaris tersebut adalah obat yang dibuat dengan teknik Antibodi Monoklonal.

Apa sih ANTIBODY MONOCLONAL itu?

Antibodi monoklonal (mAb atau moAb) adalah antibodi yang dibuat oleh sel-sel imun identik yang semuanya di”klonning” dari sel induk tertentu. Antibodi monoklonal ini memiliki afinitas monovalen, di mana mereka mengikat epitop yang sama (bagian dari antigen yang dikenali oleh antibodi dari tubuh kita). Sebaliknya, antibodi poliklonal berikatan dengan banyak epitop dan biasanya dibuat dari beberapa sel plasma yang berbeda (antibodi mensekresi sel imun). Antibodi ini dibuat oleh sel-sel hibridoma (hasil fusi 2 sel berbeda yaitu penghasil sel positif Limpa dan sel mieloma) yang dikultur. Bertindak sebagai antigen yang akan menghasilkan anti bodi adalah sel limpa.

Sejarah Antibody Monoclonal, sebenarnya sudah dimulai sejak awal abad ke-20. Adalah PAUL EHRLICH, Bapak “Immunology” peraih hadiah Nobel pada tahun 1908, yang mendalilkan sebuah ide tentang “peluru ajaib” yang bisa digunakan untuk mengobati SEMUA PENYAKIT. Dia mendalilkan bahwa, “jika suatu senyawa dapat dibuat yang secara selektif menargetkan organisme penyebab penyakit, maka racun untuk organisme itu bisa menjadi diberikan bersama dengan agen yang selektif”. Berkat postulatnya itu, Paul Ehrlich berhasil membuat senyawa Salvarsan yang digunakan untuk mengobati penyakit syphilis, yang pada saat itu merupakan salah satu penyakit yang sangat mematikan di benua Eropa.

Pada tahun 1970-an, B-Cell multiple myeloma diketahui sebagai penyebab penyakit kanker. Telah dipahami bahwa sel-sel B yang bersifat kanker ini menghasilkan satu jenis antibodi (paraprotein). Ini digunakan untuk mempelajari struktur antibodi, tetapi pada saat itu belum memungkinkan untuk menghasilkan antibodi yang identik khusus untuk antigen tertentu. Pada tahun 1975, Georges Köhler dan César Milstein berhasil membuat fusi garis sel myeloma dengan B-Cell untuk menciptakan hibridoma yang dapat menghasilkan antibodi, khusus untuk antigen yang dikenal dan bertahan hidup dalam tubuh manusia. Mereka berbagi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada 1984 untuk penemuan ini. Dan akhirnya, Pada tahun 1988, Sir Greg P. Winter dan timnya memelopori teknik untuk melakukan merekayasa antibodi monoklonal sehingga menyerupai antibody pada manusia (Humanized antibody). Teknik ini bertujuan untuk menghilangkan adanya efek samping yang banyak dijumpai antibodi monoklonal sebelumnya yang disebabkan adanya “penolakan” dari sistem immune pada beberapa pasien.

Secara garis besar ada 5 macam Antibody Monoklonal. Hal ini terihat dari NAMA yang berikan sebelum huruf -MAB, yaitu : – zu -; -o-; -u-; -xi- dan –zixu – (agar lebih jelas lihat gambar).

Meskipun teknologi Antibody Monoklonal ini relatif masih baru, tapi ternyata sumbangsihnya terhadap umat manusia sungguh sangat luar biasa. Penyakit-penyakit yang dahulu “divonis’ TIDAK ADA OBATNYA, seperti misalnya penyakit LUPUS atau penyakit Immunosuppresif lainnya, satu demi satu sekarang sudah mulai banyak beredar di pasaran. Berbagai macam obat kanker yang saat ini beredar di pasaran dan menjadi “blockbuster” juga dibuat dengan teknologi Antibody Monoklonal ini (LIHAT TABEL).

Bagaimana kisah selanjutnya? Bagaimana perjalanan HUMIRA “Sang Penakluk”, hingga menjadi “jawara” yang merajai penjualan obat di seluruh dunia? Apa kehebatannya dibanding dengan pesaing-pesaingnya? Bagaimana pula strateginya sehingga bisa benar-benar merenggut tahta sebagai “obat terlaris sepanjang masa” yang saat ini masih tetap erat dikukuhi oleh sang Legenda, Lipitor?

Saudara pemirsa, nantikan kisahnya setelah pesan – pesan berikut ini…

(BERSAMBUNG)

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Tulisan Bambang Priyambodo lainnya dapat dilihat disini
M. Fithrul Mubarok

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: farmasiindustridotcom@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

tinggalkan komentar .........

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.