Decision Making (Pengambilan Keputusan) di Industri Farmasi

Setiap hari kita melakukan proses pengambilan keputusan, bahkan detik ini juga kita mengambil keputusan. Pembaca yang membaca tulisan saya ini berarti sudah mengambil keputusan membaca blog ini dibandingkan dengan misal membaca website lain. Keputusan-keputusan yang diambil setiap hari beragam mulai dari yang terkecil seperti mau bangun jam berapa sampai yang terbesar misalnya uang bulanan habis, apakah saya harus ambil lagi ke ATM atau harus hutang??.

Di industri farmasi keputusan-keputusan yang dibuat juga beragam tiap hari dari yang terkecil hingga terbesar. Tipikal masalah di industri farmasi khususnya tidak jauh-jauh dari kualitas versus jumlah penyerahan produk. Maksudnya kontradiktif antara kualitas dengan kecepatan produksi. Kalau mau produksi cepat kemudian bisa jual banyak sebagai konsekuensinya kualitas turun sedangkan bila mau kualitas tinggi, output akan turun. Kalau mau mendapatkan dua-duanya kualitas dan output tinggi, ada caranya yaitu dengan menggunakan mesin hightech dan SDM yang kompeten. Akan tetapi solusi ini lagi-lagi memberikan masalah baru yaitu mesin hightech dan SDM kompeten pasti berefek ke harga investasi yang harus dikeluarkan. Pengennya sih kualitas tinggi, output tinggi dan investasi rendah ini yang sebenarnya ‘tidak mungkin’. Persis seperti anekdot ” Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”, situasi ini tidak sesuai dengan hukum alam karena untuk mendapatkan sesuatu (positif) harus ada pengorbanan sebagai konsekuensinya (biasanya terasa tidak enak/negatif).

Saya akan coba berbagi pengalaman saya mengenai kasus real di Industri Farmasi, kasusnya seperti ini :

Dari bagian produksi saya mendapatkan laporan bahwa bahan kemas karton box untuk digunakan di produksi dalam posisi cut off antara desain karton box lama dan baru. Terdapat 1 batch dimana sisa kemasan box lama bila digunakan tidak mencukupi penuh dalam 1 batch. Satu batch membutuhkan 24 box, sedangkan karton box lama tinggal 20 box. Ada 2 pilihan yaitu :

  1. Satu batch terdiri dari 20 karton box lama dan 4 karton box baru (konsekuensi akan belang dalam 1 batch , risiko komplain customer), atau
  2. Satu batch langsung menggunakan 24 karton box baru, dengan konsekuensi kerugian membuang 20 karton box lama.

Dapat dilihat bahwa masing-masing keputusan tidak ada yang enak, masing-masing mempunyai risiko. Pengalaman saya dalam bekerja bahwa masalah yang dihadapi rata-rata pelik dan pilihannya semua simalakama, jarang sekali bahkan tidak ada yang keputusan diambil semua senang dan tanpa risiko. Akan tetapi ambillah keputusan yang paling banyak manfaat dengan risiko paling kecil. Dalam kasus diatas saya mengambil keputusan nomer 2 karena membuang karton box 20 box (kerugian sekitar 500 ribu) itu lebih kecil risikonya dibandingkan dengan komplain.  Bila ada komplain mau gak mau harus ada rapat (waktu untuk rapat bila dirupiahkan besar kalau mau dihitung, ini banyak orang tidak menyadari), risiko lainnya adalah citra perusahaan terganggu (ini kalau dirupiahkan juga besar). Keputusan nomer 2 selaras dengan ketentuan CPOB dimana mengutamakan kualitas. Memang dalam semua keputusan selalu ada ‘harga’ yang harus dibayar.

BACA JUGA  Perbedaan Air Murni dan Air Demin

decisionmaking

Dalam pengambilan keputusan selain dengan pendekatan risiko dan manfaat, ada juga pendekatan lain misal by data (biasanya lama, tidak cocok untuk kasus yang minta keputusan cepat), dengan insting , pengalaman dan logika. Dalam pengalaman saya melakukan decision making paling sering saya menggunakan logika digabung dengan pengalaman-insting. Karena rata-rata keputusan yang saya harus ambil adalah harus cepat hari itu juga dan kritis. Untung saja sewaktu kuliah saya sudah terlibat banyak di kepanitian dan sering menghadapi masalah jadi sudah ada dasar yang cukup dalam bekerja bila menghadapi masalah yang polanya mirip.

Keputusan yang diambil bisanya tidak semua orang senang, selalu ada yang merasa tidak setuju/dirugikan. Oleh karena itu skill yang harus dikuasai juga adalah komunikasi ke person/bagian lain. Dimana-mana selalu ada toxic people dimana mengkritik suatu keputusan giliran ditanya apakah punya ide yang lebih baik? Diam seribu bahasa.

M. Fithrul Mubarok

tinggalkan komentar .........

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.