GEORGE RIEVESCHL, AHLI TEKNIK KIMIA – PENEMU “BENADRYL” – OBAT BATUK DAN ALERGI PALING POPULAR DI DUNIA

Berikut tulisan Bambang Priyambodo, mengenai Benadryl Salah satu obat batuk yang terkenal.

Kamis, 27 September 2007 – tepat 12 tahun yang lalu, George Rieveschl, sang penemu DIPHENHYDRAMIN (merek dagang BENADRYL®), obat batuk dan alergi paling populer di dunia tutup usia pada umur 91 tahun. Dunia pun memberikan penghormatan besar kepada sang inventor. Koran – koran besar terkemuka di Amerika Serikat serta belahan dunia lainya, memuat obituary dan “puja-puji” kepada pria kelahiran Arlington Heights, Ohio – Amerika Serikat, 9 Januari 1916 ini.

Surat kabar Los Angeles Times :
https://www.latimes.com/…/la-xpm-2007-oct-01-me-passings1.s…

Surat kabar The New York Times :
https://www.nytimes.com/2007/09/29/business/29rieveschl.html

Surat Kabar Columbus Dispatch :
https://www.dispatch.com/article/20071001/news/310019784

Bahkan, Almamater sang penemu yaitu University of Cincinnati, Ohio menyelenggarakan sebuah upacara pelepasan jenasah yang sangat istimewa, dengan iringan Cincinnati Symphony Orchestra, sebagai bentuk penghormatan kepada pria yang telah banyak memberikan kontribusi kepada almamater-nya tersebut.

Diantara kontribusi yang paling significant adalah sumbangannya senilai lebih dari $ 10 juta (lebih dari Rp. 140 milyard) yang berasal dari hak patent atas penjualan obat yang ditemukannya tersebut. Atas jasa – jasanya terhadap University of Cincinnati, Gedung Utama Laboratorium Life Science – University of Cincinnati pun diberi nama “Rieveschl Hall”. Suatu penghormatan yang sangat luar biasa bagi seorang alumni yang membawa nama harum bagi almamater-nya.

OBAT ANTI-HISTAMIN PERTAMA DI DUNIA

Diphenhydramine merupakan golongan obat antihistamin generasi pertama yang bekerja dengan cara menghentikan atau memblokir aksi histamin, yaitu zat kimia alami dalam tubuh yang menyebabkan gejala alergi.

Diphenhydramine, digunakan untuk meredakan reaksi alergi pada tubuh, seperti mata merah, iritasi, gatal, dan berair; bersin-bersin, serta pilek. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk:
• Meredakan batuk yang disebabkan iritasi tenggorokan ringan atau saluran pernapasan.
• Mencegah dan mengobati mabuk perjalanan.
• Mengendalikan gejala pada penyakit Parkinson, yaitu kesulitan dalam bergerak, mengendalikan otot, dan menjaga keseimbangan; atau untuk mengatasi keluhan gangguan pergerakan yang disebabkan efek samping dari suatu pengobatan

Siapa nyana, obat yang sangat luar biasa ini ditemukan BUKAN oleh seorang dokter atau apoteker, namun justru oleh seorang ahli kimia yang hampir saja menjadi “pekerja seni”, tatkala dunia sedang dilanda sebuah peristiwa besar yaitu Perang Dunia II.

Bagaimana kisah pria sederhana, anak seorang pekerja pabrik kertas dan tukang kayu miskin dalam menemukan obat anti-histamin generasi pertama ini? Bagaimana pula “lika-liku” perjalanan hidup pria yang sempat berhenti kuliah karena tidak kuat membayar “SPP” hingga menemukan produk yang pada tahun 2017 terjual lebih dari $ 150,8 juta (lebih dari Rp. 2,1 Trilyun) ini ?

Mari kita simak kisah kehidupan pria yang sangat inspiratif ini.

GAGAL MENJADI PEKERJA SENI, MALAH MENJADI PENEMU OBAT BATUK DAN ALERGI

Tahun 1933, kala itu George Rieveschl baru berusia 17 tahun dan baru saja menamatkan pendidikannya dalam bidang “Commercial art” di the Ohio Mechanics Institute. Ratusan surat lamaran dia layangkan ke berbagai perusahaan untuk sekedar memperoleh pekerjaan sebagai pekerja seni komersial. Dari 200-an lebih surat lamaran tersebut, dia hanya menerima 6 surat balasan yang semuanya memberikan jawaban yang sama : TIDAK ADA LOWONGAN PEKERJAAN.

Depresi ekonomi memang tengah melanda Negeri Paman Sam. Ratusan perusahaan pun tumbang dan lapangan pekerjaan adalah barang langka yang sangat sulit dicari (Masih ingat kisah “Truddy” – Wanita pengubah sejarah dunia, penemu Acyclovir yang mengalami nasib sama ketika terjadi krisis ekonomi di Amerika serikat). Untuk mengisi waktu, ia pun kemudian bekerja di sebuah restaurant kecil milik keluarganya.

Namun, Rieveschl tidak mau menyerah kepada nasib.

Ia kemudian berpikir untuk mengambil kuliah, karena ia percaya hanya dengan pendidikan yang lebih baik yang akan merubah nasibnya. Ia kemudian mendaftar ke University of Cincinnati yang berjarak lebih kurang 200 KM dari rumahnya. Ia mendaftar di jurusan yang paling murah uang kuliahnya yaitu jurusan KIMIA. Di mana ia “hanya” diminta untuk membayar $35 per-semester.

Pada tahun 1937, ia pun mendapat gelar Bachelor of Science dalam Kimia. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya, dan mendapat gelar Master pada tahun 1939 dan setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1940, ia pun mendapatkan gelar DOKTOR dari University of Cincinnati. Saat itu usianya baru 24 tahun.

Setelah lulus, ia pun menerima tawaran dari almamater-nya untuk menjadi Asisten Professor dalam bidang Teknik Kimia, berkat keahliannya dalam bidang Kimia Organik. Ia juga memiliki minat yang sangat besar dalam bidang sintesis bahan obat, terutama obat untuk relaksasi otot yang dikenal dengan obat anti-spasmodic.

Ia pun bertekad untuk mendarma-baktikan keahliannya dalam bidang riset dan ilmu pengetahuan yang kelak dikemudian hari menjadikan hidupnya sangat berarti bagi orang banyak maupun bagi dirinya pribadi.

PENEMUAN SENYAWA ANTI-HISTAMIN

Pada saat itu, pengetahuan mengenai senyawa histamin sebagai penyebab reaksi alergi telah menjadi pengetahuan umum di kalangan para ilmuwan dunia. Histamin pertama kali ditemukan pada tahun 1907 oleh seorang ilmuan dari Universitas Gottingen – Jerman dan pemenang Hadiah Nobel dalam bidang kedokteran, Adolf Windaus. Senyawa inilah yang “bertanggung jawab” atas beberapa symptom penyakit yang disebabkan oleh “allergen” seperti asthma, rhinitis, bersin – bersin, hidung tersumbat, demam, batuk-pilek dan sebagainya.

Bersama dengan seorang mahasiswa bimbingannya yang bernama Frederick Huber, Prof. Rieveschl kemudian mensintesa serangkaian senyawa kimia untuk mendapatkan senyawa terbaik yang nantinya akan dikembangkan untuk senyawa anti-histamin. Pada tahun 1943, beberapa senyawa anti-histamin berhasil disintesa oleh Prof. Rieveschl dan muridnya tersebut.

Salah satu senyawa tersebut adalah sebuah senyawa yang kemudian diberi kode A524. Dari berbagai percobaan dan uji pra-klinis terhadap hewan uji, senyawa tersebut memiliki potensi sebagai penghambat histamin (anti-histamin) yang sangat kuat dengan efek samping, terutama terkait dengan efek mengantuk (drowsiness) yang minimal.

Nah.. masalahnya, untuk bisa menjadi senyawa obat yang bisa digunakan oleh masyarakat secara luas, senyawa obat tersebut harus dilakukan uji klinis oleh sebuah perusahaan farmasi. University of Cincinnati di mana Prof. Rieveschl melakukan sintesis senyawa tersebut, tidak memiliki fasilitas uji klinis tersebut, apalagi fasilitas produksi secara massal.

Maka satu-satunya cara agar senyawa tersebut bisa dipasarkan adalah dengan menggandeng sebuah perusahaan farmasi yang “bersedia” untuk menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk membiayai berbagai uji klinis serta “bertarung” dengan US-FDA agar bisa mendapat ijin untuk bisa diedarkan, mengingat obat ini adalah anti-histamin PERTAMA yang akan di-launching.

Pertanyaannya: mana ada perusahaan farmasi yang mau mengeluarkan uang (yang tidak sedikit) untuk membiayai berbagai uji dari bahan obat yang disintesis oleh orang yang meskipun sudah bergelar Professor, namun belum punya pengalaman sama sekali?

DARI DUNIA “TEORITIS” TERJUN KE “PRAKTISI”

Untuk mewujudkan “impiannya” agar senyawa yang telah berhasil mereka sintesis tersebut dipasarkan, Prof. Rieveschl membawa senyawa dengan kode A524 tersebut menuju sebuah kota yang sangat terkenal pada masa itu sebagai “pusat otomotif dunia”, Detroit – di Negara Bagian Michigan yang berjarak lebih kurang 500 KM dari kota Cincinnati.

Mengapa harus ke Detroit? Di kota itu terdapat sebuah perusahaan farmasi TERTUA dan TERBESAR di Amerika Serikat SAAT ITU, yaitu PARKE-DAVIS.

Parke-Davis, merupakan perusahaan farmasi TERTUA di Amerika Serikat yang didirikan pada tahun 1866 oleh seorang APOTEKER yang bernama Dr. Samuel P. Duffield bersama partner-nya, Hervey Coke Parke . Setahun kemudian, bergabung menjadi partner ketiga George S. Davis. Pada tahun 1869, karena kesehatannya yang terus menurun, Dr. Duffield mengundurkan diri dari perusahaan. Sehingga sejak tahun 1871, perusahaan yang didirikan oleh Dr. Duffield tersebut berubah nama menjadi PARKE, DAVIS & COMPANY yang kemudian menjadi salah satu perusahaan farmasi TERBESAR dan PALING MODERN di Amerika Serikat.

Ke sanalah Prof. Rieveschl membawa senyawa hasil penelitiannya bersama mahasiswanya tersebut..

Di lobby gedung Research Laboratory Parke-Davis & Co. yang berada di tepian sungai Detroit itu, Prof. Rieveschl ditemui oleh 2 orang Chemist – Scientist dari Parke –Davis & Co. Tanpa banyak bicara salah seorang Chemist tersebut mengambil 2 butir pil obat anti-histamin dan langsung minum di depan prof. Rieveschl dan koleganya, sesaat sebelum makan siang. Sang Chemist tersebut kemudian menyantap dengan lahap 2 porsi besar kentang goreng (french fries) PADAHAL sang chemist tersebut telah lama memiliki alergi serius terhadap kentang. Anehnya, setelah minum 2 pil anti-histamin yang dibawa oleh Prof. Rieveschl, ia tidak merasakan reaksi alergi, seperti yang ia alami sebelum-sebelumnya.

Violaaa….

Akhirnya, Parke-Davis & Co. kemudian membeli hak patent senyawa A524 tersebut dan Prof. Reiveschl berhak atas 5 % royalty dari penjualan senyawa yang kemudian diberi nama DIPHENHYDRAMIN tersebut selama masa patent obat tersebut berlaku, yaitu selama 17 tahun.

Pada bulan Mei 1946, senyawa yang disintesa oleh Prof. Rivenschl dan murid-muridnya tersebut mendapat ijin dari FDA untuk dipasarkan dengan merek dagang yang kemudian menjadi “legenda”, yaitu BENADRYL.

KUIS : Ada yang tahu nggak darimana asal kata nama BENADRYL?

Benadryl, pada awal mulanya diindikasikan “hanya” untuk anti alergi, namun perkembangan selanjutnya senyawa ini ternyata juga diindikasikan untuk berbagai macam symptoms penyakit seperti astma, batuk-pilek, rhinitis, dan lain – lain.

Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, senyawa ini juga diindikasikan dengan suatu penyakit yang kalau dijaman sekarang sering kali disebut “jet-lag”.

Ada cerita bagaimana senyawa ini turut “berjasa” besar dalam menghantarkan kesuksesan Tim Olimpiade Amerika Serikat dalam Olimpiade LONDON tahun 1948. Jika tim-tim lain “sempoyongan” begitu tiba di London karena jauhnya perjalanan, namun Tim Olimpiade USA tetap segar-bugar meskipun baru mendarat dari belahan bumi yang lain. Ternyata rahasianya adalah sebuah obat yang mengandung senyawa yang dinamakan DIPHENHYDRAMINE.

Hingga tahun 1960, Benadryl yang saat itu hanya bisa diperoleh dengan resep dokter telah terjual hingga $ 6 juta pertahun. Pada tahun 1980-an, penjualan Benadryl meledak hingga $ 180 juta pertahun setelah US-FDA menyetujui obat tersebut dapat dijual bebas tanpa menggunakan resep dokter (OTC = Over The Counter).

Prof. Rivenschl pun mendadak menjadi kaya raya berkat royalty yang diterimanya dari penjualan BENADRYL tersebut. Namun pria yang sederhana ini tidak menjadi lupa diri.

Sebagian dari royalty yang diterimanya, ia sumbangkan kepada almamaternya, University of Cincinnati, Ohio. Sebuah gedung penelitian yang sangat lengkap dan modern pun ia bangun dari hasil royalty yang ia terima. Laboratorium penelitian yang kemudian diberi nama “Rieveschl Laboratory Center”, ia dedikasikan untuk alma mater yang membesarkan namanya tersebut.

Pada tahun 1947, ia pun menerima “pinangan” dari Parke – Davis & Co., dan menjadi Direktur Research dari Parke – Davis & Co. Ia bekerja di perusahaan farmasi tersebut selama 26 tahun, dan melahirkan berbagai produk yang kemudian menjadi blockbuster seperti obat untuk parkinson, Orphenadrine; antibiotik Chloramfenicol; vaksin Polio dan DPT; dan sebagainya. Pada tahun 1970, ia mengundurkan diri dari Parke-Davis & Co., karena ingin mengabdi di kampus yang pernah membesarkan namanya, University of Cincinnati.

Pada tahun yang sama ketika Prof. Rievenschl meninggalkan Parke-Davis & Co., perusahaan yang telah berusia 104 tahun kemudian di-akuisisi oleh Warner – Lamber, yang kemudian pada tahun 2000 di-akuisisi oleh “raksasa” industri farmasi lainnya, Pfizer & Co.

Prof. Rievenschl menghabiskan masa tuanya di Cincinnati bersama istrinya, Ellen dan kedua putranya Gary dan Jan. Ia tetap aktif dalam kumitas science dan juga seni, serta membimbing mahasiswa tingkat doktoral di University of Cincinnaty, Ohio – Amerika Serikat

Pada hari Kamis, 27 September 2007 – Ia menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit pneumonia yang dideritanya.

Tuntas sudah pengabdian si anak tukang kayu dari Ohio ini. Cita-citanya untuk mengabdi kepada dunia science dan juga kemanusian telah ia tunaikan dengan sempurna.

Apa yang ia yakini bahwa hanya dengan bekal pendidikan yang baik, yang bisa merubah nasib seseorang. Dan ia sudah membuktikannya…

Semoga bermanfaat..

#KisahPenemuanObat
#Diphenhydramine
#Benadryl
#GeorgeRievenschl
#Every_Molecule_Tells_A_Story
#DrugHistory

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, M.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: fithrul.mubarok23@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

tinggalkan komentar .........

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.