PENEMUAN INSULIN : BERKAT “KEJELIAN” SEORANG DOKTER BEDAH PERAIH HADIAH NOBEL TERMUDA SEPANJANG MASA

Berikut tulisan Bambang Priyambodo mengenai Penemuan Insulin

50431466_10213268453771055_2736405264365256704_n

Pada tulisan sebelumnya, pada bulan ini, tepatnya pada tanggal 11 Januari 1922, 97 tahun silam, adalah hari di mana untuk PERTAMA KALI Insulin digunakan pada pasien penderita diabetes mellitus. Peristiwa ini menandai tonggak sejarah baru dalam dunia obat-obatan di seluruh dunia.

Kisahnya ada di sini :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213247450525987&id=1388311494

Namun tahukah Anda, orang yang berjasa dalam proses penemuan Insulin tersebut bukanlah seorang ilmuwan yang memiliki nama “menjulang di angkasa”. Bukan pula seorang peneliti dari Universitas gengsi, semacam MIT, Oxford, Harvard atau Cambridge. Bukan pula ilmuwan dengan ber-otak cemerlang, bahkan untuk bisa masuk kuliah di Kedokteran dia harus mengulang 2x. Orang ini juga tidak punya SATU-PUN publikasi ilmiah di jurnal atau media bergengsi lainnya. Bahkan orang ini sama sekali tidak mempunyai laboratorium penelitian. Pria yang kemudian “menghebohkan” dunia Kedokteran dan Farmasi ini “hanyalah” seorang anak muda yang “dipaksa” untuk menjadi DOKTER BEDAH pada saat meletusnya Perang Dunia I. Dia adalah SIR FREDERICK GRANT BANTING. Seorang dokter muda yang berasal dari Alliston, Ontario – Canada yang “dipaksa” menjadi “dokter” setelah menjalani tahun kelimanya sebagai mahasiswa kedokteran di Victoria College yang merupakan bagian dari The University of Toronto – Canada. Setelah mendapatkan pelatihan sebagai “dokter bedah” dalam sebuah program yang diselenggarakan oleh Angkatan Bersenjata Canada, dia pun secara resmi diangkat sebagai Dokter Bedah Angkatan Bersenjata Kanada, karena kebutuhan Dokter Tentara yang sangat tinggi. Dia ditugaskan di wilayah Cambrai, Perancis Utara dengan pangkat Kapten. Pada pertempuran yang dikenal dengan nama “The Battle of Cambrai”, lengannya terluka terkena ranjau yang dipasang oleh tentara Jerman. Meskipun dalam kondisi terluka, namun dia tetap melakukan tugasnya sebagai dokter, dan menolong para tentara yang terluka. Atas dedikasi dan jasanya ini, Dr. Banting diberikan bintang “Military Cross” pada tahun 1919.

Setelah sembuh dari lukanya, Dr. Banting kembali ke Canada dan mencoba membuka praktek pribadi dan ternyata GAGAL TOTAL. Dia kemudian menjadi dosen “part time” dalam bidang orthopedi dan anthropology di Universitas Western Ontario di kota kelahirannya, London – Ontario, Canada. Pada tahun 1921 – 1922, Dr. Banting menjadi dosen Pharmacology pada Universitas Toronto. Pada saat itulah dokter muda yang baru berusia 29 tahun ini tertarik kepada penyakit diabetes, yang saat itu dianggap sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

JALAN PANJANG MENEMUKAN “FORMULA AJAIB”

Diabetes atau Diabetes Mellitus (DM) sudah disebut-sebut dalam manuscript Mesir kuno sekitar 1500 SM. Bahkan disebutkan, salah satu Fir’aun yang pernah memerintah Mesir Kuno, yaitu Ratu Hatsepsut (1507 – 1458 SM) meninggal pada usia 22 tahun disebabkan karena penyaakit Diabetes yang dideritanya. Dalam pustaka India kuno, penyakit ini disebut “Madhumeda” yang artinya “kencing madu”, karena urin dari penderita penyakit ini dikerubungi oleh semut dan lalat seperti madu. Kata “Diabetes” pertama kali digunakan oleh seorang dokter dari Alexandria, Aretaeus the Cappadocian pada abad pertama Masehi. Nama “Diabetes” berasal dari bahasa Yunani, “Diabainein” yang artinya dalam bahasa Inggris “Siphon” (pancuran). Sedangkan “mellitus” berasal dari kata Latin yang berarti “manis”. Kemungkinan diambil dari salah satu gejala dari penyakit ini yaitu sering kali buang air kecil seperti “pancuran”. Jadi air yang diminum seolah mengalir keluar karena ganguan pada sistem metabolisme tubuh yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah.

Hingga awal abad ke 20, tidak ada satu-pun obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Meskipun sudah puluhan bahkan mungkin ratusan ilmuwan dari seluruh penjuru dunia, dari jaman Mesir kuno, Kekaisaran Romawi, Kekhalifahan Muslim hingga jaman Renaissance berusaha menyingkap tabir misteri penyakit yang mematikan ini. Saran terbaik untuk penderita diabetes saat itu adalah DIET KETAT yang itu artinya adalah mati secara perlahan-lahan.

Pada tahun 1869, seorang mahasiswa kedokteran Universitas Berlin bernama Paul Langerhans ketika sedang mempelajari tentang PANKREAS, menemukan bahwa adanya jaringan yang berbentuk seperti “pulau – pulau”, yang kelak dikemudian hari disebut dengan “Pulau – pulau Langerhans”. Apa menariknya jaringan tersebut? Ternyata jaringan yang berbentuk seperti “pulau – pulau” tersebut berfungsi untuk menghasilkan hormon (endokrin) yang sangat berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh. Jaringan itu sendiri terdiri dari beberapa jenis, antara lain: Aplha Cell (sel Alfa) yang memproduksi “glukagon”; Beta Cell (sel Beta) yang memproduksi Insulin serta sel – sel lain yang memproduksi berbagai enzim yang berperan pada sistem metabolisme tubuh, salah satu di antaranya adalah TRIPSIN. Insulin dan glukagon memegang peranan penting dalam mengatur kadar gula dalam darah. Jika kadar gula dalam darah tinggi maka reseptor akan memicu sel Beta untuk memproduksi Insulin sehingga kadar gula darah akan turun. Sebaliknya, jika kadar gula dalam darah rendah, maka reseptor akan memicu sel Alfa mengeluarkan glukagon sehingga kadar gula dalam darah senantiasa dalam kondisi keseimbangan atau “Glucose Homeostatis” (Waaah… jadi inget pelajaran Anatomi dan Fisiologi Manusia I semester IV, sekitar 30 tahun yang lalu.. Hiks.).

Hingga awal abad ke 20 (sekitar tahun 1900-an), para ilmuwan sudah mengetahui bahwa penyakit Diabetes disebabkan karena tubuh (pankreas) tidak bisa memproduksi Insulin yang menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem keseimbangan gula darah tadi. Penyebab utamanya (pada saat itu) adalah adanya gangguan pada sistem Autoimmune yang menyerang sel Beta sehingga sel tersebut tidak bisa memproduksi Insulin. Gangguan pada Sel Beta inilah yang menyebabkan terjadinya penyakit Diabetes yang dikenal dengan Diabetes Type 1 karena pankreas sudah tidak lagi bisa memproduksi Insulin. Obatnya hanya satu yaitu pemberian INSULIN. Namun, hingga tahun 1920-an BELUM ADA satu pun ilmuwan yang berhasil meng-ekstraksi Insulin sehingga bisa diberikan kepada pasien Diabetes…

Puluhan, bahkan dan mungkin ratusan ilmuwan dan peneliti dari segala penjuru dunia berusaha untuk bisa memperoleh Insulin. Tidak terhitung lagi ratusan artikel ilmiah maupun kertas kerja yang diterbitkan oleh para ilmuwan tersebut dalam upayanya untuk bisa membuat Insulin. Namun semuanya berakhir dengan satu kata: GAGAL TOTAL.. Tidak ada satu pun ilmuwan dan peneliti – saat itu – yang berhasil membuat Insulin..

Diabetes tetap menjadi misteri dan penyakit yang sangat mematikan..

Kenapa sih para ilmuwan kelas dunia ini tidak berhasil membuat Insulin? Kira-kira di mana kesulitannya?

Di atas telah disebutkan bahwa Pankreas adalah organ tubuh yang bertanggung jawab terhadap mekanisme pengaturan kadar gula dalam darah. Selain Insulin, pankreas juga menghasilkan glukagon dan aneka enzim yang mengatur sistem metabolisme tubuh. Sistem yang sangat rumit..

Agar bisa memperoleh Insulin untuk diberikan kepada penderita Diabetes, maka jalan satu-satunya adalah dengan cara EKSTRAKSI pankreas untuk bisa diperoleh Insulin. Masalahnya adalah begitu pankreas ini diambil dari hewan percobaan maka secara otomatis Insulin yang ada di dalam pankreas tadi langsung dirusak oleh enzim TRIPSIN yang juga terdapat pada jaringan tersebut. Jadi jangankan untuk bisa di-ekstraksi, baru mau diambil saja, Insulin yang terdapat pada pankreas tersebut langsung rusak dan tidak berguna lagi. Bagaimana dengan hewan hidup? Sama saja! Begitu Insulin ini akan diambil, sudah langsung rusak!! Puluhan tahun para Ilmuwan mengembangkan berbagai metode untuk meng-ekstrasi pankreas namun semuanya berakhir dalam satu kata : GAGAL TOTAL..

Ditambah lagi, hanya ada 2 hewan yang bisa terkena Diabetes, yaitu Kucing dan Anjing sehingga pilihan hewan percobaannya pun sangat terbatas. Pada masa itu yang populer digunakan sebagai hewan uji coba adalah Anjing.

Nah, pada tahun 1916 ada seorang ilmuwan dari Rumania yang bernama Nicolae Paulescu yang mengembangkan extraksi pankreas yang dia sebut sebagai “aqueous pancreatic extract”. Namun pecahnya Perang Dunia I, membuyarkan semua percobaan yang dilakukannya. Pada tahun 1920, Moses Barron, seorang dokter dan peneliti dari Universitas Minnesota, mempublikasikan sebuah artikel yang sangat menarik “The relation of the islets of Langerhans to Diabetes”. Dalam artikelnya tersebut, sang ilmuwan mengemukakan ide tentang “sumbatan” pada saluran pankreas bisa menjadi alternatif untuk memperoleh Insulin. Tapi dia sendiri tidak yakin saluran yang mana..

Dr. Frederick Banting pada saat itu sedang mengajar Farmakologi di Universitas Toronto. Dia sangat tertarik dengan penemuan Dr. Barron tersebut. Sebagai dokter bedah di medan perang, dia sudah banyak menangani pasien dengan berbagai kondisi, termasuk pasien dengan perut yang mungkin tercerai burai, sehingga dia tahu persis “saluran” apa yang dimaksud oleh Dr. Barron dalam artikelnya tersebut. Dari pengalamannya di lapangan, Dr. Banting tahu persis bahwa saluran yang dimaksud oleh Dr. Barron tersebut adalah sebuah pembuluh vena yang berada di belakang pankreas yang berfungsi untuk mengirimkan reseptor kepada sel-sel pankreas untuk mengeluarkan enzim pengurai yang menyebabkan kerusakan pada Insulin yang akan di-ekstraksi. Jika saluran (pembuluh vena) tersebut diikat (disumbat), maka sel – sel pankreas tidak akan mengeluarkan enzim (Tripsin) sehingga Insulin yang terdapat pada pankreas tersebut bisa “dipanen” (diekstraksi). Dr. Banting sangat yakin betul dengan idenya tersebut..

Dengan penuh percaya diri, Dr. Banting kemudian menemui Prof. J.J.R. Macleod, Profesor dalam bidang Fisiologi di Universitas Toronto. Prof. Macleod adalah seorang “God Father” di Univertas Toronto. Selain namanya yang “menjulang” ke angkasa sebagai Biochemist dan Physiologist yang sangat disegani, Prof. Macleod adalah juga anak seorang Menteri di Skotlandia yang bernama Robert Macleod. Mendapatkan gelar Dokter dari Universitas Aberdeen di Skotlandia, Prof. Macleod kemudian melanjutkan studinya di Universitas Leipzig di German dan memperoleh gelar Doktor di bidang Biochemistry. Dia juga memperoleh gelar Doktor dalam bidang “Public Health” dari Universitas yang sangat bergengsi, Cambridge University pada tahun 1902. Kombinasi “darah biru” dan otak yang cemerlang ditambah dengan kemampuannya berorasi, membuat Prof. Macleod bak “selebritis” di kalangan para ilmuwan dunia… Pada saat itu, Prof. Macleod memegang jabatan sebagai Direktur Laboratorium Fisiologi dan menjadi wakil Dekan Fakultas Kedokteran di Universitas Toronto.. Dr. Banting yang “hanyalah” seorang dokter muda tanpa latar belakang keilmuan dan pengalaman, benar – benar bagaikan seorang “pecundang” di depan sang maha Profesor…

Sambil terbata-bata Dr. Banting mengemukakan ide-nya di hadapan sang “God Father”. Prof. Macleod pun memandang dengan sangat skeptis. “Perburuan” Insulin sudah menjadi perbincangan ilmuwan dunia. Belum ada SATUPUN ilmuwan dengan otak paling cemerlang di seluruh dunia yang berhasil mendapatkan “zat ajaib” tersebut. Tiba-tiba di hadapannya, berdiri seorang anak muda berusia 29 tahun berusaha meyakinkannya bahwa dia mampu menemukan senyawa “ajaib” tersebut. Prof. Macleod sendiri meyakini bahwa penyakit diabetes hanya bisa disembuhkan melalui pengaturan sistem syaraf, meski dia sendiri juga tidak tahu dari mana memulai ide-nya tersebut.

Meskipun skeptis, namun “naluri” keilmuan Prof. Macleod berkata lain. Akhirnya dia mengijinkan Dr. Banting menggunakan fasilitas laboratoriumnya yang sudah lama tidak terpakai selama libur musim panas. Dia sendiri akan pulang kampung ke negaranya (Skotlandia) untuk berlibur. Prof. Macleod juga menawarkan asistennya untuk mendampingi penelitian Dr. Banting selama libur musim panas tersebut. Dengan undian koin, terpilihlah Charles Herbert Best yang saat itu berusia 22 tahun dan duduk di tahun kelima-nya sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Toronto sebagai asisten Dr. Banting. Seandainya – ini seandainya – dia salah pilih gambar, bisa saja yang tercatat dalam sejarah sebagai penemu Insulin bukanlah Charles Best, tapi mahasiswa kedokteran lainnya yaitu Clark Noble… Memang suratan takdir setiap orang sudah tertulis di garis tangannya…

Selain fasilitas laboratoium tua dan seorang assiten yang awalnya ogah-ogahan, Dr. Banting juga diberi 10 ekor anjing yang digunakan sebagai hewan percobaan. That’s it.. Hanya itu saja “modal” Dr. Banting melakukan perburuan menemukan “senyawa ajaib”. Dua orang anak muda yang sama sekali tidak berpengalaman dalam melakukan penelitian serta laboratorim seadanya, itu pun pinjaman dari sang “God Father”….

Hanya 2 bulan waktu yang dimiliki kedua anak muda tersebut untuk melakukan berbagai experiment dalam upayanya menemukan sang “senyawa ajaib”, Insulin. Pada awalnya, sang asisten Charles Best, terlihat ogah-ogahan dan tidak antusias dengan ide Dr. Banting. Rencananya berlibur dengan tunangannya menjadi terganggu dengan “tugas” yang diberikan oleh Prof. Macleod. Dia pun awalnya memandang “remeh” terhadap Dr. Banting. Dokter muda yang sangat tidak berpengalaman dan tidak punya latar belakang sama sekali sebagai peneliti. Dan “feeling” sang asisten terbukti…

Berkali-kali upaya Dr. Banting untuk mendapatkan Insulin selalu gagal. Satu persatu anjing percobaan yang diberikan Prof. Macleod tidak terselamatkan. Upaya Dr. Banting menemukan Insulin seolah menemui jalan buntu. Tiga minggu berlalu tanpa hasil.. Charles Best – pun meninggalkan Dr. Banting dan pergi berlibur dengan tunangannya. Namun akhirnya dia menyadari kesalahannya dan kembali membantu Dr. Banting dalam upayanya menemukan “sang formula ajaib”.

Pada minggu keempat, dari 10 anjing pemberian Prof. Macleod hanya tinggal 4 ekor yang masih hidup. Dr. Banting pun membeli anjing dari pasar gelap agar bisa dibuat 2 kelompok experiment. Siang – malam kedua anak muda ini bahu membahu dan saling memberikan semangat dalam “perburuan” yang sangat melelahkan. Ketegangan semakin meningkat dengan semakin dekatnya dead line yang diberikan oleh Prof. Macleod… Dan anjing yang siap diuji coba pun hanya tinggal 1…

Akhirnya.. Pada hari Sabtu 30 Juli 1921, Dr. Banting dan Charles Best berhasil mengisolasi ekstrak (“isleton”) dari pankreas anjing yang disumbat saluran vena-nya dan disuntikan ke anjing yang terkena diabetes. Anjing terakhir dengan nomor kode 410 itu pun perlahan-lahan menunjukkan gejala penurunan kadar gula darah hingga 40% dalam waktu 1 jam..

“Formula ajaib” itu TELAH DITEMUKAN… !!!!

Dr. Banting dan Charles Best mempresentasikan temuannya tersebut di hadapan Prof. Macleod yang telah tiba dari liburan musim panasnya. Prof. Macleod masih belum percaya dengan presentasi kedua anak muda ini. Ia pun meminta untuk mengulangi experiment keduanya langsung di hadapannya. Sekali lagi “sang formula ajaib” menunjukan tuah-nya. Anjing yang terkena diabetes itu sembuh setelah diberikan suntikan insulin dari ekstrak pankreas yang dibuat oleh Dr. Banting dan Charles Best. Ia kemudian memberikan fasilitas yang lebih memadai pada keduanya untuk mengembangkan temuannya. Dan untuk pertama kalinya, keduanya menerima gaji sebagai peneliti.. Mereka juga berhasil mengisolasi Insulin dari pankreas anak sapi yang belum berkembang sistem metabolismenya. Bahkan pada akhirnya, mereka juga berhasil mengisolasi Insulin dari pankreas Babi dan Sapi dewasa yang kemudian digunakan sebagai sumber Insulin yang diproduksi secara massal nantinya..

Namun demikian, masih ada 1 masalah besar yang mereka hadapi. Meskipun telah berhasil menemukan proses ekstraksi Insulin, namun produk yang dihasilkan masih sangat “impured” alias masih “kotor” sehingga banyak menimbulkan reaksi alergi. Prof. Macleod kemudian mengundang seorang Biochemist alumnus Universitas Toronto, Dr. James Collip untuk membantu Dr. Banting dan Charles Best untuk membuat extract Insulin yang dihasilkan menjadi lebih murni.

Akhirnya, dengan bantuan Dr. Collip, “formula ajaib” temuan Dr. Banting dan Charles Best ini pun siap di uji coba secara klinis kepada penderita diabetes.

Seperti yang kisah yang sudah saya tulis sebelumnya, pada tanggal 11 Januari 1922 – tepat 97 tahun lalu – untuk PERTAMA KALI-nya dalam sejarah umat manusia, penyakit Diabetes BISA DIOBATI !!!

HADIAH NOBEL YANG “KONTROVERSIAL”

Kesuksesan dan “keajaiban” Insulin akhirnya menjalar kemana-mana dan menjadi perbicangan masyarakat dunia. Dr. Banting menerima banyak undangan untuk mempresentasikan temuannya. Namun apa daya, dokter muda yang sangat tidak berpengalaman dan sangat “rendah diri” ini gagap berbicara di depan para ilmuwan tersohor dunia lainnya. Dalam banyak pertemuan, Dr. Banting justru banyak mendapat malu, karena “kegugupan” dan “kegagapan”nya. Akhirnya, Prof. Macleod-lah yang tampil bak pahlawan. Dengan “darah biru” yang mengalir di tubuhnya, kharisma dan kepiawaiannya dalam berorasi, Prof. Macleod menjadi “bintang” dalam setiap pertemuan dan dielu-elukan di mana-mana, jauh melebihi dari sang penemunya, Dr. Banting yang gagap dan pemalu.

Penemuan Insulin benar-benar “mengguncang” dunia medis saat itu. “Perburuan” yang dilakukan selama ratusan tahun oleh puluhan ilmuwan kelas dunia, ternyata “dimenangkan” oleh seorang dokter muda yang sama sekali tidak punya pengalaman dalam meneliti. Bahkan untuk menulis di jurnal ilmiah pun dia tidak sanggup, yang kemudian “diwakili” dengan sangat cemerlang oleh sang “God Father”. Pujian dan penghargaan pun mengalir, terutama tertuju Prof. Macleod… Dalam pertemuan “The Assosiation of American Physician” yang dilaksanakan pada tanggal 3 May 1922 di Washingdon D.C., Prof. Macleod menjadi “bintang podium” dan mendapat “standing Ovation” dari seluruh peserta yang terdiri dari ilmuwan-ilmuwan kaliber dunia. Dr. Banting dan Charles Best menolak menghadiri pertemuan tersebut sebagai bentuk protes terhadap dominasi Prof. Macleod terhadap temuan mereka. Dan puncaknya adalah penghargaan bergensi “HADIAH NOBEL” yang diberikan kepada Prof. Mecleod dan Dr. Banting, yang menjadikannya peraih hadiah nobel TERMUDA sepanjang sejarah..

Penghargaan hadiah Nobel tersebut, sungguh sebuah pukulan yang sangat menyakitkan dirasakan oleh Dr. Banting. Dia sangat marah, karena hadiah tersebut bukan diberikan kepada dirinya dan Charles Best, namun justru kepada Prof. Macleod yang menurut Dr. Banting tidak berjasa apa-apa. Sebagai bentuk protes terhadap keputusan tersebut, Dr. Banting tidak mau menghadiri upacara penerimaan Hadiah Nobel tersebut di Stockholm. Setelah dibujuk oleh Prof. Henderson (Rektor Universitas Toronto), Dr. Banting akhirnya bersedia menerima hadiah uang yang diberikan oleh Nobel Foundation tersebut. Dr. Banting kemudian membuat pengumuman bahwa uang yang diterimanya akan dibagi dengan Charles Best. Prof. Macleod yang mendengar kabar tersebut, akhirnya juga membagi uang yang diterimanya dengan Dr. Collip yang dianggapnya turut berjasa dalam penemuan “Formula Ajaib” tersebut…

Dr. Banting, Charles Best dan Dr. Collip akhirnya menjual patent atas penemuan Insulin tersebut kepada The British Medical Reasearch Cuncil seharga US$ 1,- agar bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh seluruh masyarakat dunia…

Dr. Banting kemudian mendirikan lembaga penelitian “The Banting and Best Institute”. Ketertarikannya pada dunia militer, mengantarkannya menjadi menjadi anggota The Royal Canadian Air Force (RCAF) yang membantu 2 Wilbur bersaudara mengembangkan pesawat terbang, terutama untuk mengatasi “blackout” yang sering dialami oleh pilot pesawat terbang akibat “G-Force” pada saat terbang dan mendarat.

Dr. Banting meninggal dunia pada bulan Februari 1941, akibat kecelakan pesawat yang akan membawanya ke Inggris dalam suatu tugas rahasia dari Newfoundland, Canada.

Sebagai penghargaan atas jasa dan perjuangannya dalam menemukan Insulin yang telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia di seluruh dunia, pada tahun 1934 Dr. Banting diangkat sebagai “Knight” oleh Kerajaan Inggris dan diberi gelar “Sir”. Sedangkan hari kelahirannya, yaitu 14 November, sejak tahun 1991 ditetapkan oleh WHO sebagai “Hari Diabetes Sedunia”, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya menyelamatkan umat manusia…

Tonton filmnya di sini:

#KisahInsulin
#97tahunInsulin
#Insulin

Tulisan Bambang Priyambodo Lainnya dapat dilihat disini

M. Fithrul Mubarok

M. Fithrul Mubarok

Pharmacist and Blogger at Farmasiindustri
M. Fithrul Mubarok, S.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia.
Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri.
Email: fithrul.mubarok23@gmail.com
WhatsApp/WA: 0856 4341 6332
M. Fithrul Mubarok

tinggalkan komentar .........

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.