Validasi Metode Analisis (VMA)

Validasi metode analisis (VMA) adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentuberdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya,validasi merupakan suatu proses evaluasi kecermatan dankeseksamaan yang dihasilkan oleh suatu prosedur dengan nilai yang dapat diterima. Sebagaitambahan, validasi memastikan bahwa suatu prosedur tertulis memiliki detail yang cukup jelas sehingga dapat dilaksanakan oleh analis atau laboratorium yang berbeda dengan hasil yang sebanding.

Validasi metode analisis (VMA) dilakukan dengan tujuan menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik, reprodusibel dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Tujuan lain dari pelaksanaan Validasi Metode Analisa (VMA) adalah untuk menunjukkan bahwa semua metode tetap yang digunakan sesuai dengan tujuan penggunaannya dan selalu memberikan hasil yang dapat dipercaya. Dalam validasi metode analisis yang dilakukan validasi adalah prosedur tetap atau SOP (standar Operationa Procedure) nya. Misalnya, “Validasi Metode Analisa Penetapan Kadar Zat Aktif Atorvastatin dalam Tablet Lipitor® dengan Metode Spektrofotometri HPLC”, maka yang divalidasi atau diuji validitasnya adalah Prosedur Tetap “Penetapan Kadar Zat Aktif Atorvastatin dalam Tablet Lipitor® dengan Metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography”.

Jadi untuk melakukan validasi metode analisis maka syarat pertama adalah prosedur tetap metode analisisnya sudah ada terlebih dahulu. Prosedur tetap ini dibuat oleh bagian QC (Quality Control) atau bagian pengembangan metode analisis RnD (Research and Development). Metode ini dibuat dengan :

  1. Diadopsi dari kompendial resmi seperti Farmakope Indonesia, USP (United States Pharmacopeia), EP (European Pharmacopeia), JP (Japan Pharmacopeia) atau farmakope lain
  2. Metode analisis yang didapatkan dari pengembangan sendiri
  3. Modifikasi metode analisis yang sudah ada

Validasi metode analisis dilakukan idealnya pada semua metode analisis yang digunakan untuk pemeriksaan. Metode analisis ini diaplikasikan baik pada metode analisis untuk produk jadi, bahan baku dan produk antara. Metode analisis ini juga diaplikasikan pada pemeriksaan mikrobiologi.

Suatu metode analisis harus divalidasi untuk melakukan verifikasi bahwa parameter-parameter kerjanya cukup mampu untuk mengatasi problem analisis, karenanya suatu metode harus divalidasi ketika :
– Metode baru dikembangkan untuk mengatasi problem analisis tertentu.
– Metode yang sudah baku direvisi untuk menyesuaikan perkembangan atau karena munculnya suatu problem yang mengarahkan bahwa metode baku tersebut harus direvisi.
– Penjaminan mutu yang mengindikasikan bahwa metode baku telah berubah seiring dengan berjalannya waktu.
– Metode baku digunakan di laboratorium yang berbeda, dikerjakan oleh analis yang berbeda, atau dikerjakan dengan alat yang berbeda.
– Untuk mendemonstrasikan kesetaraan antar 2 metode, seperti antara metode baru dan metode baku.  

Terdapat parameter-parameter dalam validasi metode analisis (VMA) baik dari versi USP (united States Pharmacopeia) dan ICH (International Conference on Harmonization), berikut perbedaanya:

NoParameterUSPICH
1Presisi / Precision
2Akurasi / Accuration
3Batas Deteksi / Limit Of Detection
4Batas Kuantifikasi / Limit Of Quantification
5Spesifitas / Specifity
6Linearitas dan Kisaran / Linearity and range
7Linearitas / Linearity
8Kekasaran / Ruggedness
9Ketahanan / Robustness
10Kesesuaian sistem / System suitability
Parameter-parameter Validasi Metode Analisis

Dapat dilihat pada tabel diatas pada ICH tidak ada parameter validasi metode analisis kekasaran (rudgedness) . Sedangkan pada USP tidak ada parameter validasi metode analisis kesesuaian sistem.

Parameter-parameter validasi metode analisis (VMA) adalah parameter uji yaitu:

1. Akurasi / Accuracy

Akurasi atau ketepatan merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk memperoleh nilai yang sebenarnya (ketepatan pengukuran). Akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnya, atau nilai rujukan. Akurasi merupakan tingkat keyakinan hasil pengujian dengan hasil sebenarnya. Akurasi harus dilakukan pada range spesifik pada prosedur pengujian.

Akurasi diukur dengan melakukan “spiking” dari matriks sampel dengan konsentrasi analit standar dan menganalisis sampel menggunakan metode yang divalidasi. Pada prosedur dan dilakukan perhitungan akurasi (% recovery juga) akan bervariasi dari satu matriks ke matriks lainnya. Untuk mendokumentasikan akurasi, ICH merekomendasikan pengumpulan data dari 9 kali penetapan kadar dengan 3 konsentrasi yang berbeda (misal 3 konsentrasi dengan 3 kali replikasi). Data harus dilaporkan sebagai persentase perolehan kembali. Akurasi dinyatakan sebagai presentase (%) perolehan kembali (recovery). Ketepatan metode analisis dihitung dari bersarnya rata-rata kadar yang diperoleh dari serangkaian pengukuran dibandingakn dengan kadar sebenarnya.

Terdapat lima metode dalam penentuan akurasi dari metode analisis yaitu:

  • Menggunakan metode analisis untuk penentuan kadar analit dalam bahan baku aktif yang telah diketahui kadar kemurniannya
  • Bahan baku aktif atau cemaran dalam jumlah yang diketahui. Jumlah diketahui ditambahkan dalam plasebo. Cara ini untuk penerapan kadar baku aktif/cemaran dalam produk obat
  • Verifikasi akutas metode dapat dilakukan dengan penambahan standar adisi dalam jumlah tertentu pada produk obat yang telah diketahui kadarnya. Ini dilakukan bila plasebo tidak dapat diperoleh.
  • Menambahkan cemran dalam jumlah tertentu yang telah diketahui ke dalam produk obat. Metode analis ini digunakan untuk penerapan kadar cemaran dalam bahan baku aktif dan produk obat
  • Membandingkan dua metode analisis untuk mengetahui ekivalensinya. Ini dilakukan dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh dari metode analisis yang divalidasi terhadapa hasil yang diperoleh dari metode analis yang valid. Metode analisis ini digunakan untuk penetapan kadar bahan baku aktif dalam bahan baku aktif, produk obat dan penetapan kadar cemaran.
BACA JUGA  Share Materi Verifikasi Validasi Pengujian Mikrobiologi

2. Presisi /Precision

Presisi atau ketelitian merupakan kemampuan suatu metode analisis menunjukkan kedekatan suatu seri pengukuran yang diperoleh dari sampel yang homogen. Presisi adalah ukuran keterulangan metode analisis. Nilainya ditunjukkan dengan simpangan baku relatif (Relative Standar Deviation) atau RSD dari sejumlah sampel yang berbeda signigikan secara statistik. Presisia diukur dengan injeksi seri standar atau menganalisis seri sampel dari mutiple sampling dari lot yang homogen, Dari beberapa sampel tersebut akan didapatkan rata-rata dan dihitung nilai RSD-mya.

BACA JUGA  Validasi Pembersihan dengan TOC Analyzer vs HPLC

%rsd atau CV= SD/Mean×100%

Presisi dapat dihitung menggunakan persamaan Horwitz. Persentase hasil RSD untk presisi berdasarkan persamaan Horwitz. Persamaan ini merupakan hubungan eksponensial antara RSD lab (RSDR) dan konsentrasi (C). Untuk mengetahui detail persamaan Horwitz dan perhitungannya dapat mengunjungi laman berikut ini.

Terdapat tiga kategori dalam pengujian nilai presisi, yaitu:

  • Keterulangan, nilai ini ditentukan dengan menggunakan minimum 9 penentuan dalam rentang penggunaan metode analisis (misalnya 3 konsentrasi/3 replikasi)
  • Presisi antara, merupakan perbedaam antar analis dengan sumbern reagen dan hari yang berbeda
  • Reprodusibilitas, didapatkan dengan menggunakan beberapa laboratorium untuk validasi metode analisis. Ini dilakukan dengan tujuan mengetahui lingkungan yang berbeda terhadap kinerja metode analisis.

Pengujian presisi pada saat awal validasi metode seringkali hanya menggunakan 2 parameter yang pertama, yaitu keterulangan dan presisi antara. Reprodusibilitas biasanya dilakukan ketika akan melakukan uji banding antar laboratorium.

Persyaratan RSD sebagai berikut ini:

NoTipe Metode AnalisisPersyaratan RSD (misal)
1.Prosedu Penetapan Kadar Bahan Aktif Obattidak lebih dari 2%
2.Metode analisis untuk penetapan kadar impuritas:
Batas impuritas : 1-10%
0,01%
1 ppm
tidak lebih dari 2%
tidak lebih dari 10%
tidak lebih dari 20%
Persyaratan RSD untuk presisi

3. Spesifisitas

Spesifisitas atau selektifitas adalah kemampuan metode analisi untuk mengukur secara akurat suatu analit dengan keberadaan pengganggu yang berada dalam matriks sampel. Pengganggu merupakan komponen-komponen lain dalam matriks semisal ketidakmurnian, produk degradasi dan komponen dalam matriks sendiri. Spesifisitas ditunjukkan dengan adanya perbedaan nyata antara resolusi antara dua puncak yang berdampingan dan kemurnian tiap puncak dalam kromatogram. Untuk instrument HPLC adalah Rs:1,2-1,5. Untuk instrument spektofotometer UV/VIS adalah jarak antara dua puncak yang berdampingan dengan resolution factor (Rf) > 2,5.

Dalam ICH dibagi spesifitas menjadi 2 kategori yaitu uji identifikasi dan uji kemurnian. Uji identifikasi ditunjukkan dengan kemampuan metode analisis membedakan antar senyawa yang mempunyai stuktur molekul yang mirip. Uji kemurnian ditunjukkan oleh adanya daya pisah 2 senyawa yang berdekatan (dalam kromatografi). Senyawa-senyawa tersebut merupakan komponen utama atau komponen aktif suatu pengotor. Jika dalam suatu uji terdapat pengorot maka metode uji seharusnya tidak terpengaruh.

4. Batas Deteksi / Limit Of Detection (LOD)

Batas deteksi adalah kuantitas terkecil dari analit yang dapat dideteksi dan tidak perlu sampai ditentukan nilainya secara kuantitatif. Pendekatan instrumental dan non instrumental dapat digunakan, seperti :

  • Evaluasi visual
    Evaluasi ini digunakan untuk metode analisis non instumental, tapi dapat juga untuk metode analisis instumental. Batas deteksi ditentukan dengan melakukan analisis terhadap sampel yang diketahui konsentrasinya dan menetapkan kadar terendah yang dapat dideteksi dengan baik.
  • Singan to noise ratio, rasio signal dengan noise
    Pendekatan ini diterapkan pada metode analisi yang memberikan baseline noise. Penentuan signal to noise dilakukan dengan membandingkan pengukuran signal sampel yang diketahui mengandung analit dalam konsentrasi rendah dan blanko, kemudian dapat ditetapkan konsentrasi minimum analit yang dapat dideteksi dengan baik. Rasio signal to noise sama dengan 3 atau 2 : 1 umumnya dianggap dapat diterima untuk memperkirakan batas deteksi.
  • Standar Deviasi dari respon terhadap slope (tingkat kemiringan)
  • Standar Deviasi dari blanko
    Mengukur beberapa respon dari larutan blanko dan hitung simpangan baku dari respon.
  • Kurva kalibrasi
    Kurva kalibrasi dibuat dengan contoh yang mempunyai rentang di sekitar batas deteksi. Residu simpangan baku (residual standard deviation) atau simpangan baku dari y-intercepts dari garis regresi adalah σ (simpangan baku)

LOD merupakan batas uji yang secara spesifik menyatakan apakah analit di atas atau di bawah nilai tertentu. Rasio noise dengan signal untuk LOD harus 1 banding 3.

5. Batas Kuantifikasi (Limit Of Quantitation) / LOQ

Batas kuantifikasi adalah konsentrasi terendah dimana instument dapat mendeteksi dan mengkuantifikasi. Batas kuantifikasi merupakan jumlah konsentrasi analit paling kecil yang masih dapat diukur dengan akurat (tepat) dan presisi (teliti) yang dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan. Perbandingan noise terhadap signal adalah 1 : 10. Pendekatan LOQ adalah prosedur instrumental dan non instrumental yang didasarkan pada:

  • Evaluasi visual
    Ini digunakan untuk metode analisis non instumental, akan tetapi juga dapat digunkan untuk metode analisis instumental. Batas Kuantifikasi ditentukan dengan melakukan analisis terhadap sampel yang diketahui konsentrasinya dan menetapkan kadar terendah analit yanf dapat ditentukan secara kuantitatif dengan akurasi dan preseisi yang dapat diterima
  • Signal to noise ratio, perbandingan noise dengan signal
    Pendekatan ini hanya dapat digunakan pada metode analisis yang memberikan baseline noise. Penentuan rasio signal terhadap noise dilakukan dengan membandingkan signal yang diukur dari sampel yang mempunyai konsentrasi analit yang rendah dan blankonya, kemudian ditentukan konsentrasi terendah analit yang dapat ditetapkan secara kuantitatif dengan baik, umumnya pada rasio signal terhadap noise 10:1.
  • Standar Deviasi dari respon dengan slope (kemiringan)
  • Standar Deviasi dari blanko
    Mengukur beberapa respon dari larutan blanko dan hirung simpangan baku dari respon.
  • Kurva Kalibrasi
    Kurva kalibrasi dibuat dengan contoh yang mempunyai rentang di sekitar batas deteksi. Residu simpangan baku (residual standard deviation) atau simpangan baku dari y-intercepts dari garis regresi adalah
  • Evaluasi visual
    Ini digunakan untuk metode analisis non instumental, akan tetapi juga dapat digunkan untuk metode analisis instumental. Batas Kuantifikasi ditentukan dengan melakukan analisis terhadap sampel yang diketahui konsentrasinya dan menetapkan kadar terendah analit yanf dapat ditentukan secara kuantitatif dengan akurasi dan preseisi yang dapat diterima
  • Signal to noise ratio, perbandingan noise dengan signal
    Pendekatan ini hanya dapat digunakan pada metode analisis yang memberikan baseline noise. Penentuan rasio signal terhadap noise dilakukan dengan membandingkan signal yang diukur dari sampel yang mempunyai konsentrasi analit yang rendah dan blankonya, kemudian ditentukan konsentrasi terendah analit yang dapat ditetapkan secara kuantitatif dengan baik, umumnya pada rasio signal terhadap noise 10:1.
  • Standar Deviasi dari respon dengan slope (kemiringan)
  • Standar Deviasi dari blanko
    Mengukur beberapa respon dari larutan blanko dan hirung simpangan baku dari respon.
  • Kurva Kalibrasi
    Kurva kalibrasi dibuat dengan contoh yang mempunyai rentang di sekitar batas deteksi. Residu simpangan baku (residual standard deviation) atau simpangan baku dari y-intercepts dari garis regresi adalah σ (simpangan baku).
BACA JUGA  Share Materi CPOB dan CPKB
BACA JUGA  Kualifikasi/ Sertifikasi Analist Pemeriksaan di Laboratorium

Yang digunakan untuk limit deteksi di laboratorium adalah nilai LOQ, karena nilai LOQ dapat dipertanggungjawabkan untuk masalah presisi dan akurasi yang didapatkan. LOD dan LOQ merupakan satu hal yang sama yakni sama-sama konsentrasi terendah, dimana LOD lebih rendah dari LOQ. LOQ mempunyai akurasi dan presisi yang dapat diterima, sedangkan LOD merupakan konsentrasi terendah yang akurasi dan presisinya tidak dapat diterima, artinya kemungkinan besar hasil yang ditunjukkan tidak valid jika kadar sampel diantara LOD dan LOQ. Oleh karena itu, yang digunakan sebagai konsentrasi terendah yang boleh digunakan dalam metode tersebut adalah hasil dari LOQ.

Rumus LOD dan LOQ

LOD = x + 3SD

LOQ = x + 10SD

*x = rata-rata pengujian blanko

Rumus di atas adalah perhitungan LOD dan LOQ teoritis. Tetapi hasil perhitungan dari rumus harus dilakukan konfirmasi dengan melakukan pengujian kembali dengan konsentrasi yang dihasilkan pada pengujian LOD.

6. Linearitas

Linearitas merupakan kemampuan suatu metode analisa untuk menunjukkan hubungan secara langsung secara langsung atau proporsional antara respon detektor dengan perubahan konsentrasi analit. Diuji secara statistik, yaitu Linear Regression (y = a + bx); dimana b adalah kemiringan slope garis regresi dan a adalah perpotongan dengan sumbu y. Pengujian dilakukan paling tidak dengan menggunakan 5 kadar yang berbeda, kemudian dilihat apakah memberikan respons yang linear apa tidak, yang ditunjukkan dengan nilai r ≥ 0,98.

Linearitas ditentukan dengan injeksi beberap seri standar larutan stok menggunakan solven/fase gerak, pada minimum 5 konsentrasi yang berbeda pada kisaran 50-150%. Grafik linearitas akan diplot manual menggunakan Microsoft Excell (konsentrasi vs Respon area puncak). parameter linieritas tidak harus dilakukan pada semua metode, tetapi hanya untuk metode yang biasanya menggunakan instrument laboratorium dan mengharuskan adanya pembuatan deret standar. Selain linieritas, ada juga yang disebut rentang kerja. Rentang kerja adalah suatu nilai atau batas yang dihasilkan dari pernyataan yang didasari oleh batas terendah dan tertinggi dari konsentrasi analit yang mampu dideteksi secara linier, akurat, dan presisi.

7. Kisaran (Range)

Kisaran adalah konsentrasi terendah dan tertinggi yang mana suatu metode analisis menunjukkan akurasi, presisi dan linearitas yang mencukupi. Kisaran konsentrasi yang diuji tergantung pada jenis metodenya. Kisaran diukur menggunakan baku dengan kisaran 25. 50, 75, 100, 125 dan 150% dari konsentrasi analit yang diharapkan. Kisaran konsentrasi adalah kisaran dimana linearitas dilakukan.

8. Kekasaran (Ruggedness)

Kekasaran merupakan tingkat reprodusibilitas hasil yang diperoleh dibawah kondisi yang bermacam-macam. Ini ditunjukkan sebagai % RSD. Kondisi-kondisi ini meliputi laboratorium, analisis, alat, reagen, dan waktu percobaan yang berbeda.

9. Ketahanan (Robustness) /Ketegaran

Ketahanan merupakan kapsitas suatu metode analisi untuk tidak terpengaruh oleh variasi-variasi kecil dalam parameter metode analisis. Contoh variasi-variasi kecil dalam pengujian dengan HPLC antara lain : pH fase gerak, suhu, tekanan, stabilitas, konsentrasi buffer, flow rate, suhu kolom dan lain-lain. Dalam metode analisis ada tahap-tahap kritis dimana bila tidak dikerjakan secara hati-hati akan menimbulkan kesalahan yang besar. Dilakukan dengan memvariasikan kondisi analisis sedemikian rupa dan mengukur pengaruhnya terhadap presisi dan akurasi yang dicapai. Parameter ini bertujuan untuk membantu dalam mengantisipasi dan mengeliminasi sumber kesalahan yang mungkin terjadi. Parameter ini juga mendemonstrasikan bahwa metode stabil terhadap perubahan kondisi metode yang kecil.

Untuk uji robustness tidak perlu menghitung akurasi dan presisi dikarenakan akurasi dan presisi utuk perbandingan kedua metode sudah ditentukan dengan menggunakan uji beda nyata yakni uji f dan uji t. Dimana hasil uji F digunakan untuk presisi dan hasil uji T digunakan untuk akurasi. Hasil perhitungan kedua uji tersebut kemudian akan dibandingkan dengan tabel masing-masing. Dimana hasil yang diharapkan adalah F data T hitung < dari pada F atau T tabel, hal ini menunjukkan bahwa akurasi dan presisi dari kedua metode tersebut tidak berbeda nyata.

BACA JUGA  Hubungan Akurasi dan Presisi dalam Validasi Metode Analisis

Presisi : Uji F

Akurasi : Uji t

10. Kesesuaian Sistem

Seorang analis harus memastikan bahwa sistem pengujian yang dilakukan setiap haru memberikan data yang dapat diterima. Dalam USP parameter-parameternya untuk mennetukan kesesuaian sistem antara lain:

  • Jumlah lempeng teori (N)
  • Tailing factor
  • Kapasitas
  • Nilai RSD tinggi puncak
  • Luas puncak dari serangkaian injeksi

Elemen-elemen Data yang dibutuhkan untuk Uji Validasi
Baik USP maupun ICH keduanya menerangkan bahwa tidak selamanya parameter untuk mengevaluasi validasi metode perlu diuji. 
USP membagi metode-metode analisis ke dalam kategori yang terpisah, yaitu :
1. Penentuan kuantitatif komponen-komponen utama atau bahan aktif.
2. Penentuan pengotor (impurities) atau produk-produk hasil degradasi.
3. Penentuan karakteristik-karakteristik kinerja
4. Pengujian identifikasi

BACA JUGA  Daftar Pabrik Farmasi Indonesia Beserta Alamatnya (bagian 2)

Untuk mengetahui elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi metode menurut USP dapat dilihat pada tabel berikut :

Elemen-elemen validasi metode
Elemen-elemen validasi metode

Pengujian Kategori 1
Metode analisis untuk menentukan eksipien dan atau bahan aktif obat dan pengawet dalam produk jadi.

Pengujian Kategori 2

Metode analisis untuk menetukan impurities/pengotor atau degradasi komponen dalam produk jadi. Metode ini termasuk penentuan kadar dan tes batas, titrimetri dan tes bakteri endotoksin.

Pengujian Kategori 3

Metode analisis untuk menentukan performa karakteristik misalnya tes sterilitas, disolusi dan rilis obat pada produk farmasi.

Untuk pengujian kategori 1, evaluasi nilai LOD dan LOQ tidak begitu penting karena komponen utama atau bahan aktif pada umumnya berada dalam jumlah yang besar. Pengujian kategori 2 dapat dibagi lagi menjadi 2 sub kategori, yaitu analisis kuantitatif dan uji batas. Jika yang diharapkan adalah informasi kuantitatifnya maka parameter LOD tidak begitu penting, tetapi parameter yang lain dibutuhkan. Keadaan yang berlawanan berlaku untuk uji batas, karena informasi kuantitatifnya tidak dibutuhkan, maka pengukuran LOD, spesifisitas, dan kekasaran sudah mencukupi.
Karakteristik validasi menurut ICH dan jenis prosedur analisisnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Karakteristik validasi menurut ICH
Karakteristik validasi menurut ICH

Hal-hal Untuk Validasi Metode Analisa

Dalam melakukan validasi metode analisa diperlukan perangkat untuk melakukannya, yaitu:

  • Sample uji
    sampel ini diuji untuk memberikan presisi dan interferensi yang dihitung setiap kali dilakukan pengujian. Hasil pengujian akan menghasilkan penyimpangan dari hasil presisi sampel yang diuji secara rutin. Sampel rutin yang digunakan adalah sampel yang biasa digunakan dalam pengujian
  • Spking Material
    Spiking material digunakan untuk melihat working range suatu sampel yang memiliki konsentrasi dibawah limit deteksi dari instument. Ini tidak harus dilakukan pada semua metode, hanya metode tertentu yang memang di dalamnya mengharuskan untuk adanya spiking material. Spiking dilakukan jika kadar dalam sampel dibawah limit deteksinya.
  • Incured Material
    Incured material adalah penggunaan sampel yang tidak mengandung analit.
  • Standar
    Standar atau CRM (Certified Reference Material) digunakan berdasarkan kebutuhan.
  • Blanko
    Blanko digunakan untuk menjadi kontrol chart dalam pengujian. Blanko ada 2 yaitu blako sampel dan blanko reagen. Blanko sampel adalah sampel murni tanpa danya analit. Blanko sampel dibuat dengan cara dilakukan pengenceran sebanyak-banyaknya hingga analit hilang. Blanko reagen adalah blanko yang didalamnya hanya ada pereaksi dilakukan dalam pengujian tersebut.
  • Statistika
    Ilmu statistika digunakan untuk menghitung dan menetapkan parameter keberterimaan. Statistika dasar yang dihitung adalah rata-rata, RSD, % RSD, uji T dan Uji F.

Revalidasi Metode Analisa

Metode analisis harus dipelihara sehingga selalu dalam keadaan tervalidasi selama digunakan rutin dalam pengujian. Revalidasi metode analisis dari sebuah prosedur pengujian dilakukan bila terdapat perubahan-perubahan antara lain:

  • Perubahan pada fase gerak
  • Perubahan pada kolom HPLC
  • Perubahan suhu pada kolom HPLC
  • Perubahan konsentrasi/komposisi dari sampel dan standar
  • Perubahan detektor (misalnya berubah dari detektor UV-Visibel menjadi detektor fluorimetri atau perubahan rentang gelombang)

Periode revalidasi metode analisis harus ditentukan dengan ilmiah atau bisa juga dengan kajian risiko mutu. Revalidasi dilakukan untuk memastikan performa karakteristik penting seperti spesifitas, presisi, akurasi dan yang lain-lain tetap memenuhi syarat. Tingkat dari revalidasi tergnatung dari sejauh apa perubahan tersebut.

Perpektif Silus Hidup untuk Prosedur Analisis

Setelah prosedur analisis termasuk metode kompendial telah berhasil divalidasi dan dimplementasikan maka prosedur harus mengikuti siklus hidup dari produk. Trend analisis kinerja dari metode analisis secara periodik dan kontinus harus dievaluasi untuk melihat perlunya dioptimasi. Selama siklus hidup dari produk, informasi baru dan kajian risiko mutu harus dilakukan.

Transfer Metode Analisa

Metode analisis pengujian dibuat oleh bagian RnD kemudian dilakukan transfer metode analisis ke bagian Laboratorium QC di industri farmasi. Selama transfer metode analisis, dokumen dan bukti harus terdokumentasi dengan baik. Bukti harus menujukkan performa metode analisis tidak berbeda antar lab RnD dan lab QC. Secara umum, ini dibutikan dengan membandingkan hasil pengujian yang didapat oleh analis di lab RnD dengan analis pada lab QC dimana metode ini ditransfer. Kedua hasil pengujian di Rnd vs Lab QC harus dibandingkan dengan metode statistik dimana hasilnya harus berada pada range yang telah ditentukan. Semua kegiatan dan bukti transfer metode dituangkan dalam protokol dan laporan transfer metode analisis.

Kesimpulan

Validasi metode analisis memainkan peranan yang sangat penting dan fundamental dalam industri farmasi. Validasi metode analisis harus dilakukan tidak hanya pada pengujian kadar obat jadi akan tetapi juga pada bahan baku awal dan pengujian mikroba. Selain validasi terdapat juga verifikasi metode analisis, untuk mengentahui perbedaanya dapat dibaca berikut ini Validasi dan Verifikasi Metode Analisis.

Referensi :

  • https://www.who.int/medicines/areas/quality_safety/quality_assurance/Guideline_Validation_AnalyticalMethodValidationQAS16-671.pdf
  • https://www.intechopen.com/books/calibration-and-validation-of-analytical-methods-a-sampling-of-current-approaches/validation-of-analytical-methods
  • https://www.fda.gov/files/drugs/published/Analytical-Procedures-and-Methods-Validation-for-Drugs-and-Biologics.pdf

Semoga Bermanfaat

Salam

M. Fithrul Mubarok, M. Farm.,Apt

374e38b7fc013a64f5b60b6a3cfe8a35?s=96&d=identicon&r=g
https://farmasiindustri.com
M. Fithrul Mubarok, M.Farm.,Apt adalah Blogger Professional Farmasi Industri pertama di Indonesia, pendiri dan pengarang dari FARMASIINDUSTRI.COM sebuah blog farmasi industri satu-satunya di Indonesia. Anda dapat berlangganan (subscribe) dan menfollow blog ini untuk mendapatkan artikel terkait farmasi industri. Email: fithrul.mubarok23@gmail.com WhatsApp/WA: 0856 4341 6332

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

-

Berlangganan Artikel

Berlangganan untuk mendapatkan artikel terbaru industri farmasi

TETAP TERHUBUNG

51FansLike
FollowersFollow
SubscribersSubscribe

PALING BANYAK DIBACA