Profesi Apoteker dan Softskill

Sebelumnya saya pernah menulis bagaimana  Kuliah di Jurusan Farmasi ,dalam tulisan tersebut dijabarkan perbedaan antara S1 farmasi dengan profesi Apoteker. Akan tetapi dalam tulisan ini akan fokus mengenai kuliah profesi apoteker khusunya di Industri Farmasi yang terkait dengan PKPA (Prakterk Kerja Profesi Apoteker). Seperti yang diketahui untuk mendapatkan gelar Apoteker, lulusan S1 farmasi kuliah profesi Apoteker yang normalnya dijalankan selama 1 tahun (2 semester). Setahu saya (bisa jadi sekarang sudah berubah kurikulumnya) semester 1 mahasiswa masih menjalani kuliah seperti biasa, akan tetapi disemester 2 lebih dominan praktek kerja baik di Industri farmasi, Rumah Sakit, Apotek, puskesmas, Dinas Kesehatan atau BPOM. Berbagai fakultas farmasi mempunyai polanya sendiri untuk praktek kerja. Ada yang praktek kerja hanya di Rumah sakit/industri farmasi dan Apotek. Ada juga yang lengkap dari Rumah sakit, industri farmasi, puskesman dan dinas kesehatan. Untuk periodenya juga berbagai fakultas farmasi dengan universitas yang berbeda juga macam-macam. Ada yang RS/industri farmasi selama 2 bulan dan apotek juga 2 bulan. Ada juga yang RS/industri farmasi selama 2 bulan akan tetapi di puskesmas hanya hitungan minggu.

Asumsi dilakukan tidak selama pandemi

Tulisan kali saya akan fokus kepada PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) yang dilakukan di industri farmasi. Pengalaman saya menangani PKPA periodenya bermacam-macam ada 1,5 bulan dan ada yang 2 bulan. Rata-rata fakultas farmasi memberlakukan periode 2 bulan untuk PKPA di industri farmasi. Biasanya mahasiswa akan masuk ke industri bersama dengan mahasiswa fakultas farmasi/fakultas yang lain ke industri farmasi kemudian akan diatur oleh preseptornya mengenai jadwal PKPA yang dilakukan selama 2 bulan. Akan diberikan mengenai jadwal pembekalan/transfer knowledge dari semua bagian di industri farmasi. Mahasiswa akan secara bergantian diberikan materi oleh beberapa bagian, misalnya bagian produksi, bagian quality control, bagian quality assurance, pembelian, PPIC (Production Planning and Inventory Control), teknik dan lain-lain. Materi dapat diberikan via presentasi di ruangan ataupun langsung ke lapangan kemudian dijelaskan.

BACA JUGA  Praktek Minitab untuk Perhitungan Kapabilitas Proses (bagian 2)

Berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun menghandle mahasiswa Apoteker yang menjalankan PKPA banyak hal yang saya temui. Mulai dari mahasiswa yang mudah menangkap bila diberi materi, ada yang proaktif, ada juga yang pasif.  Berikut saya akan tulis mengenai kesalahan-kesalahan dalam menjalankan PKPA di industri farmasi yang saya rangkum dari pengalaman saya selama ini:

  • Hanya Menjalankan Formalitas
    Sikap ini yang paling sering saya temui selama menjalani PKPA. Saya mencoba mencari tahu kenapa ini bisa terjadi, mungkin ini disebankan karena terlalu jenuh dan tidak adanya pandangan jauh ke depan oleh mahasiswa. Rata-rata mereka mengikuti alur saja yang diberikan oleh fakultas dan kemudian menjalani. Belum adanya greget ataupun antusias yang terlihat. Bisa jadi karena mereka menjalani PKPA hanya formalitas dan berpikir bagaimana bisa cepat berlalu kemudian lulus. Bisa juga karena terbebani hal-hal yang dilakukan ke depan misal ujian UKAI, OSCE ataupun ujian komprehensif. Menjalani PKPA hanya dengan formalitas akibatnya PKPA hanya dijalankan sekedar menghilangkan kewajiban dan sekedar menjalankan yang diperintahkan fakultas sehingga bisa memenuhi syarat. PKPA dijalani dengan ini akhirnya mahaiswa tidak adanya inisiatif melakukan explorasi, mencari pengetahuan lebih yang berguna bila masuk ke dunia nyata industri. Padahal dalam jangka waktu lama justru eksplorasi pengetahuan dan pengalaman yang didapat itu lebih berharga dibandingkan hanya menjalani PKPA.
  • Terlalu Fokus pada rutinitas tugas
    Ini saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada mahasiswa, karena tugas yang diberikan oleh preseptor/pembimbing di industri memang sering kali banyak dan sulit. Sudah fokus kepada tugas saja belum tentu optimal apalagi menggali lebih dalam ilmu-ilmu nyata. Ilmu nyata yang saya maksud adalah ilmu komunikasi dengan rekan kerja dan bagaimana interaksi antar orang dalam menghadapi tantangan kerja.
  • Membatas diri hanya pada yang dikerjakan
    Ini hampir sama dengan point kedua. Contohnya: Mahasiswa diberikan tugas di bagian QC untuk membantu pengembangan metode analisis. Tugas yang diberikan sulit karena metode yang harus dikembangkan menggunakan HPLC dan langkah yang dilakukan cukup panjang. Mahasiswa berusaha keras untuk studi literatur dan diskusi dengan pembimbing di QC. Mahasiswa cukup stress karena terus kepikiran dan belum adanya tanda-tanda menyelesaikan metode baru tersebut. Dikarenakan tugas sangat berat akhirnya mahasiswa lupa belajar ke bagian gudang, teknik, dan QA. Mahasiswa hanya paham sekilas mengenai bagian itu.
  • Tidak Membangun Koneksi
    Mahasiswa terlalu fokus pada tugas dan hubungan selama ini dengan tugas bersifat formalitas dan kering. Akhirnya tidak terjadi bonding, koneksi dengan personil di tempat PKPA. Karena hubungan hanya formalitas maka transfer ilmu hanya terbatas. Ilmu yang didapat selama PKPA itu akan tertransfer maksimal melalui komunikasi, berbeda dengan kuliah dimana bisa kita dapat dibuku/diktat kuliah. Ilmu yang didapat selama PKPA didominasi oleh komunikasi dan pengalaman. Ingat PKPA beda dengan kuliah karena ini merupakan kerja lapangan.
  • Tidak menetapkan Role Model
    Jadi kebanyakan mahasiswa hanya melakukan tugas, berpikir bagaimana tugas selesai dan memuaskan. Ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi untuk jangka panjang dia tidak tahu arah bagaimana sih menjadi Apoteker industri yang bagus. Cara menjadi bagus dalam bekerja adalah menggunakan ilmu lama Amati Tiru dan Modifikasi.
BACA JUGA  Current good manufacturing practice - cGMP atau CPOB di Industri Farmasi

Menurut saya tantangan ke depan sebagai Apoteker industri maupun sebagai mahasiswa Apoteker adalah penguasaan softskill dan penguasaan ilmu digital terkait revolusi industri 4.0. Berikut saya ambil dari WeForum mengenai softskill ang dibutuhkan ke depan, menurut saya ini sangat relevan dengan kondisi industri farmasi di Indonesia.

Top SoftSkill Farmasi
Topskill Farmasi

Berikut saya tuliskan saran-saran untuk PKPA yang optimal

  • Proaktif , Inisiatif
  • Mampu berkomunikasi (menyampaikan ide, pendapat, fakta, opini mampu membedakan fakta, opini, prediksi, estimasi)
  • Cekatan, gigih
  • Kombinasi antara pengetahuan farmasi teori dengan kenyataan di lapangan, merelasisasikan teori menjadi sesuatu yg nyata
  • Networking, kenalan-kenalan yg menunjang ke kompetensi
  • Fast Learning
  • Jangka pendek = nilai, jangka Panjang = pengalaman
  • Mampu berkerjasama dalam Tim, penjelasan detail disini

Semoga Bermanfaat

Salam

M. Fithrul Mubarok, M.Farm.,Apt

Sumber

M. Fithrul Mubarok

tinggalkan komentar .........

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.